Udah Desember Aja Nih, Yuk Lakukan Financial Check Up!

Tahun baru memang selalu menarik. Tiket pesawat murah beserta liburan akhir tahun sudah menanti, namun cobalah sejenak merefleksikan berbagai hal. Seperti pencapaian kerja, prestasi bisnis, hingga destinasi wisata instragrammable yang berhasil dikunjungi. Apakah resolusi-resolusi Anda sudah tercapai? Atau masih tertunda.

Namun, yang tidak kalah penting adalah kondisi keuangan. Bagaimana kondisi keuangan Anda hingga akhir tahun ini? Apa saja “dosa finansial” yang telah Anda lakukan selama sepanjang tahun? Apa saja tujuan keuangan yang berhasil tercapai? Semua itu bisa diketahui setelah Anda melakukan financial check up.

Financial check up adalah pemeriksaan kondisi keuangan. Mungkin istilah “financial check up” terdengar sangat teknis, profesional, dan membutuhkan skill dan pengetahuan khusus untuk memahaminya. Namun faktanya tidak demikian. Anda pun dapat melakukannya sendiri. Bagaimana caranya?

Lihat juga: “Memulai Tahun Baru dengan Perencanaan Keuangan yang Lebih Matang”

Periksa Arus Kas

Arus kas bisa diibaratkan seperti lalu lintas di jalan raya. Bisa lancar, sepi, padat merayap, hingga macet total. Arus kas yang bagus adalah arus kas yang lancar. Uang yang masuk dan keluar harus seimbang. Atau bahkan harus ada surplus untuk tabungan dan investasi. Tentu saja semua uang yang masuk harus selalu tercatat. Dalam perencanaan keuangan, mencatat adalah kunci. Tanpa catatan keuangan, Anda akan “buta” finansial dan tidak punya gambaran kondisi keuangan. Tujuan keuangan pun mustahil dapat tercapai.

Dengan memeriksa arus kas, Anda bisa mengetahui pos-pos pengeluaran mana saja yang “gemuk”. Ini menjadi titik awal untuk mengetahui kelancaran arus kas. Mungkin pengeluaran yang “gemuk” tersebut menjadi pemicu kemacetan arus kas Anda. Biasanya kebocoran baru ketahuan pada arus kas, karena terkait langsung dengan konsumsi.

Misalnya, berbagai promo yang ditawarkan e-commerce begitu menggoda, sehingga Anda tergiur untuk belanja online. Apalagi saat harbolnas (hari belanja online nasional), banjir diskon, cashback, promo, akan membuat Anda kalap. Memang, diskon selalu menarik, dan kepraktisan menjadi keunggulan belanja online, namun jika tak hati-hati belanja online justru jadi lebih boros.

Oleh karena itu, periksa dengan teliti apa saja pemborosan yang terjadi pada tahun lalu. Mengapa bisa terjadi? Setelah semua ditemukan, tentukan strategi yang tepat agar pemborosan serupa tidak terjadi lagi.

Pantau Pertumbuhan Aset

Setelah memeriksa arus kas, lanjutkan dengan check up semua aset Anda. Hitung kembali berapa aset dan instrumen investasi yang Anda miliki. Adakah yang berkurang? Adakah yang kurang efektif penggunaannya? Mana aset atau investasi yang lebih menguntungkan? Lakukan dengan rinci agar Anda dapat menentukan apakah Anda perlu menambah atau justru menjual aset tersebut.

Misalnya, aset emas batangan. Periksa kembali fluktuasi dan harga emas terkini. Memang, secara natural harga emas akan cenderung naik. Namun tidak menutup kemungkinan saat terjadi resesi harga emas naik dan turun tiba-tiba. Oleh karena itu, Anda perlu hati-hati, jangan terburu-buru menjual aset emas batangan Anda.

Untuk instrumen investasi berupa paper asset, Anda perlu pastikan bahwa instrumen tersebut menghasilkan keuntungan. Meskipun tidak terlalu besar, Anda perlu terus memantau. Pertimbangkan apakah portofolio aset Anda bergerak ke arah positif atau sebaliknya. Jika performanya kurang baik dalam jangka waktu yang cukup lama, saatnya rombak portofolio Anda. Jual aset tersebut dan belikan instrumen yang lebih menguntungkan.

Lihat juga: “Menemukan Instrumen Investasi yang Paling Menguntungkan, Mungkinkah?” dan “Berinvestasi di Paper Asset, Apa Saja Keuntungannya?”

 Rasio Utang

Sebagai bagian dari komponen neraca keuangan, utang juga harus menjadi perhatian saat melakukan financial check up. Mulailah dengan memeriksa semua utang yang dimiliki. Apa saja utang yang masih harus ditanggung? Adakah utang dari harbolnas tahun lalu? Apakah sudah proporsional dengan pendapatan Anda? Apakah utang Anda terasa terlalu berat? Perlukah Anda melakukan restrukturisasi utang? Coba jawab semua pertanyaan tersebut. Dengan cara tersebut Anda dapat mengambil keputusan. Seperti perlunya menambah utang lagi atau justru mempercepat pelunasan.

Dalam perencanaan keuangan pengeluaran maksimal untuk utang adalah 30% hingga 40% dari pendapatan Anda. Apabila melebihi jumlah ideal tersebut, bisa jadi akan mengganggu keuangan Anda. Untuk lebih jelasnya, simak contoh kasus di bawah ini:

Andi punya penghasilan sejumlah Rp 12 juta per bulan. Ia memutuskan mengambil KPR (Kredit Pemilikan Rumah) dan cicilannya Rp 4,5 juta per bulan. Dengan demikian, bisa dihitung sebagai berikut: 40% x 12 juta = 4,8 juta. Jadi, Andi memiliki batas total maksimal untuk utang sebesar Rp 4.8 juta. Dengan demikian utang Andi masih aman karena masih ada sisa dan tidak melebihi jumlah maksimal tersebut.

Jika jumlah ideal pengeluaran maksimal untuk utang melebihi jumlah di atas, maka Anda patut hati-hati. Cobalah untuk mengajukan restrukturisasi jangka waktu cicilan. Anda juga mencari penghasilan tambahan untuk segera membayar utang agar rasionya menjadi ideal.

Check List Tujuan Keuangan

Anda pasti punya berbagai tujuan keuangan yang ingin dicapai kan? Nah, pada momen akhir tahun ini, coba periksa kembali satu persatu. Apakah tujuan-tujuan tersebut masih tercapai atau masih Anda perjuangkan. Misalnya tujuan keuangan Anda adalah ganti mobil, traveling ke Raja Ampat, DP rumah, hingga belanja online sepuasnya pada harbolnas.

Berikan check list pada tujuan keuangan yang terlaksana. Bagaimana jika belum terlaksana? Jangan khawatir! Masih ada tahun depan. Anda menuliskannya untuk tujuan keuangan tahun depan. Tentu sebelum melakukan itu, Anda harus mengoreksi dan mencari penyebab mengapa sampai tujuan tersebut tidak tercapai.

Amankan Dana Darurat

Poin ini penting namun sering dilupakan saat financial check up. Seperti namanya, dana darurat digunakan untuk menghadapi berbagai kondisi yang mendesak. Apa saja kondisi darurat yang Anda hadapi tahun ini? Ke rumah sakit? Perbaikan kendaraan? Atau perbaikan rumah karena tertimpa pohon? Tentu dana darurat akan berkurang bahkan habis jika digunakan untuk semua itu. Oleh karena itu, Anda harus mengumpulkan kembali dana darurat yang baru.

Sayangnya dalam banyak kasus, dana darurat habis digunakan bukan yang seharusnya. Misalnya untuk tambahan beli motor baru, atau beli skin care impor. Nah, jika demikian Anda perlu “menebus dosa” dari pengeluaran tersebut. Salah satunya dengan meniadakan liburan akhir tahun atau memotong anggaran hadiah sebagai ucapan natal bagi Anda yang merayakannya.


Itulah beberapa langkah financial check up di akhir tahun. Dengan melakukannya secara rutin, kondisi keuangan Anda akan terus terkontrol. Tujuan keuangan Anda juga akan makin jelas dan mudah dicapai. Semangat!

Artikel blog ini ditulis oleh Modalku, pionir platform peer-to-peer (P2P) lending di Indonesia dan Asia Tenggara. Kami menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tanah air dan membuka opsi investasi alternatif dengan pengembalian menarik bagi pemberi pinjaman.

Modalku memenangkan Global SME Excellence Award dari ITU Telecom, salah satu badan organisasi PBB, di akhir tahun 2017. Modalku juga memenangkan Micro Enterprise Fintech Innovation Challenge yang diselenggarakan oleh United Nations Capital Development Fund (UNCDF) dan UN Pulse Lab Jakarta di tahun 2018. Visi kami adalah memberdayakan UMKM untuk bersama memajukan ekonomi Indonesia. Lihat statistik perkembangan pesat Modalku di sini.

Tertarik mengenal Modalku lebih baik? Klik di sini.

Modalku secara resmi berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Leave a Reply