Berinvestasi di Paper Asset, Apa Saja Keuntungannya?

Pada umumnya, aset hanya diasosiasikan dengan aset yang bersifat konvensional, seperti rumah, bangunan, dan tanah. Padahal, disamping aset konvensional, terdapat pula aset dalam bentuk lain yang tidak kalah menjanjikan yaitu paper asset. Paper asset mengacu pada aset-aset berbentuk kertas seperti obligasi, surat utang negara, saham, dan investasi reksa dana.

Lalu, jika dibandingkan dengan aset konvensional, apa yang membuat paper asset tidak kalah menarik untuk dijadikan instrumen investasi? Berikut beberapa keuntungan yang bisa Anda dapatkan jika berinvestasi di paper asset.

Nilai Paper Asset Terus Tumbuh

Kebanyakan orang umumnya memilih untuk berinvestasi properti rumah karena memiliki nilai jual yang cenderung meningkat setiap tahunnya. Padahal, hal yang sama juga berlaku pada paper asset. Saham yang merupakan paper asset, juga memiliki kecenderungan untuk mengalami peningkatan. Salah satu contohnya adalah saham di perusahaan Unilever Indonesia yang bergerak di bidang consumer goods.

Pada tahun 2011, harga saham per lembar di Unilever Indonesia masih berada di angka Rp 11 ribuan. Saat ini, harga tersebut sudah melonjak mencapai Rp49 ribuan. Peningkatan harga tersebut tergolong pesat dibanding ketika perusahaan tersebut melakukan initial public of offering (IPO) untuk pertama kalinya pada 1982. Saat itu, harga per lembar sahamnya hanya seharga Rp 3.175.

Harga Cukup Terjangkau

Jika dibandingkan dengan aset konvensional, paper asset bisa dikatakan lebih terjangkau dari segi harga. Anggap saat ini Anda berusia empat puluh tahun dan akan membeli paper asset berupa polis asuransi dengan uang pertanggungan mencapai Rp 1 miliar. Selama sepuluh tahun, Anda perlu membayar premi sebesar Rp 1,5 juta per bulannya. Jika ditotal, jumlahnya hanya mencapai Rp 180 juta. Asyiknya lagi, Anda juga tidak perlu membayar uang muka.

Apabila misalnya Anda meninggal dunia sebelum jangka waktu sepuluh tahun polis asuransi, maka ahli waris Anda yang akan menerima uang pertanggungan Rp 1 miliar tersebut.

Lebih lanjut: “Ayo Berinvestasi Sekaligus Berkontribusi untuk Pendidikan Indonesia dengan SBR007”

Bisa “Dicicil” Tiap Bulan

Masih mengambil contoh pembelian polis asuransi sebagai paper asset, berinvestasi paper asset pun bisa dilakukan dengan metode cicilan tiap bulan. Hal ini tidak hanya berlaku pada polis asuransi, tapi juga untuk jenis paper assets lain, seperti saham, obligasi, surat utang negara, reksa dana, bahkan deposito.

Biaya Maintenance Minim

Saat Anda membeli rumah atau tanah untuk berinvestasi, perlu diketahui bahwa biasanya ada biaya-biaya tambahan yang harus dipersiapkan disamping biaya untuk membeli rumah atau tanah. Beberapa di antaranya adalah biaya KPR (Kredit Pemilikan Rumah), biaya akta jual beli (AJB), biaya jasa PPAT/notaris, hingga biaya pengecekan sertifikat. Jika ditotal, jumlahnya tentu cukup membuat pusing kepala, bukan? Paper asset hadir sebagai alternatif investasi yang relatif lebih terjangkau.

Lebih lanjut: “4 Kiat Cepat Memiliki Rumah dan Properti”

Mudah Cair dan Diperjualbelikan

Beberapa orang berinvestasi dengan tujuan untuk mengumpulkan dana darurat. Ketika situasi darurat tersebut terjadi, tentunya Anda harus mendapatkan uang secara cepat dan mudah. Paper asset termasuk ke dalam instrumen investasi yang cocok untuk menangani keadaan darurat, karena tingkat likuiditasnya cenderung lebih tinggi dibanding aset properti. Beberapa jenis paper asset bisa segera dicairkan dengan cukup mudah, contohnya reksa dana.

Bayangkan jika Anda membeli rumah untuk investasi dana darurat. Proses penjualan rumah tentu memakan waktu, padahal Anda membutuhkan dana secepat mungkin.

Lebih Praktis

Paper assets bisa dibilang cenderung lebih praktis daripada aset konvensional. Prosedur beli asetnya lebih cepat dan berbeda dibandingkan dengan properti yang mengharuskan Anda untuk mengurus banyak hal terlebih dulu. Hal-hal tersebut biasanya memakan waktu, tenaga, dan biaya. Jadi, jika Anda membutuhkan investasi yang praktis dan mudah diperjualbelikan, paper assets bisa menjadi pilihan yang tepat.

Lebih lanjut: “Maksimalkan Alternatif Investasi Modalku dengan Pendanaan Terencana untuk Invoice Financing

Nah, semoga kini Anda lebih tertarik untuk melakukan investasi di instrumen paper asset, ya!


Artikel blog ini ditulis oleh Modalku, pionir platform peer-to-peer (P2P) lending di Indonesia dan Asia Tenggara. Kami menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tanah air dan membuka opsi investasi alternatif dengan pengembalian menarik bagi pemberi pinjaman.

Modalku memenangkan Global SME Excellence Award dari ITU Telecom, salah satu badan organisasi PBB, di akhir tahun 2017. Modalku juga memenangkan Micro Enterprise Fintech Innovation Challenge yang diselenggarakan oleh United Nations Capital Development Fund (UNCDF) dan UN Pulse Lab Jakarta di tahun 2018. Visi kami adalah memberdayakan UMKM untuk bersama memajukan ekonomi Indonesia. Lihat statistik perkembangan pesat Modalku di sini.

Tertarik mengenal Modalku lebih baik? Klik di sini.

Modalku secara resmi terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Leave a Reply