Selain Produk Investasi, Inilah 5 Langkah Ampuh untuk Meraih Kebebasan Finansial!

Siapa yang tidak ingin mencapai kebebasan finansial? Banyak orang yang beranggapan bahwa kebebasan finansial sulit diwujudkan, karena hanya bisa diraih oleh pengusaha besar, investor kelas kakap, dan orang yang terlahir kaya. Padahal, semua orang termasuk Anda punya kesempatan untuk meraih kebebasan finansial.

Kebebasan finansial merupakan kondisi dimana seseorang sudah punya tabungan cukup banyak dan relatif aman, dan hasilnya mencukupi kebutuhannya untuk hidup dengan gaya hidup yang diinginkan. Pada fase ini, seseorang akan berada dalam ketenangan dan pilihan untuk tidak bekerja lagi demi uang, karena uanglah yang bekerja untuk kita (passive income). 

Selain dengan berbisnis, kebebasan finansial bisa diraih dengan berinvestasi. Dana Anda akan terus berkembang melalui produk-produk investasi. Namun, tahukah Anda selain mengelola produk, Anda juga perlu melakukan langkah-langkah tertentu. Apa saja itu?

Lihat juga: “Meraih Kemerdekaan Finansial”

Kenali Diri Anda

Mungkin Anda bertanya-tanya, apa pentingnya langkah ini? Bukankah kita hanya perlu memahami produk finansial, return, dan risikonya? Mengapa memahami diri begitu penting dalam proses investasi?

Ada banyak instrumen keuangan yang beredar di pasaran. Masing-masing produk punya karakter dan risiko yang berbeda. Pada titik inilah, Anda perlu memilih instrumen yang “cocok”. Mengenali diri bisa dimulai dengan mengenal pola penghasilan Anda. Apakah Anda karyawan dengan gaji tetap? Adakah insentif atau bonus di luar gaji? Jika Anda seorang pebisnis, berapa profit Anda dalam sebulan? Apakah Anda mendapatkan uang dalam harian, mingguan, atau bulanan? Lantas, berapa jumlahnya?

Dengan mengetahui pola penghasilan, Anda dapat lebih mudah menentukan instrumen investasi. Misalnya, Anda seorang yang berpenghasilan tetap, maka Anda bisa memilih instrumen yang mensyaratkan Anda untuk menyetor uang secara rutin, yakni reksa dana pendapatan tetap. Jika Anda seorang yang punya penghasilan fluktuatif (tidak tentu, tetapi sering mendapat uang dalam jumlah cukup besar), Anda bisa bisa berinvestasi pada instrumen yang membutuhkan batasan dana tertentu seperti deposito, obligasi, ataupun surat utang negara.

Tidak cukup hanya dengan pola penghasilan, Anda juga harus mengenal perilaku Anda terhadap uang. Apakah Anda  cenderung boros? Atau orang yang hemat? Jika perlu, Anda bisa “memaksa” diri untuk berinvestasi secara rutin. Misalnya, dengan mengaktifkan fitur autodebet untuk membeli reksa dana atau tabungan emas.

Setelah mengidentifikasi pola penghasilan dan perilaku keuangan, Anda perlu mengenali sikap terhadap risiko. Apakah Anda orang yang agresif dan mampu menanggung risiko tinggi demi keuntungan ekstra? Atau Anda orang yang suka main aman dengan investasi minim risiko? Kenali hal ini dengan baik, agar Anda tidak salah dalam membeli aset. Jika Anda punya toleransi risiko yang rendah, Anda bisa pilih instrumen deposito atau obligasi. Bila ingin “main saham”, belilah saham blue chip. Saham non blue chip memang cenderung menawarkan untung lebih, tapi ingat juga risikonya. Dalam jangka pendek, instrumen tersebut bisa memberikan return yang fantastis, tapi uang Anda bisa habis tiba-tiba jika harga saham anjlok. Oleh karena itu, pilih instrumen investasi yang lebih rendah risiko. Atau jika tetap berinvestasi saham, Anda hanya perlu menabungnya saja, tidak perlu “main saham”. 

Dengan kata lain, Anda tidak menjadi trader tapi investor saham. Trader adalah orang yang “main saham” dengan praktik buy and sell. Mereka mempertimbangkan tren dan naik turun harga saham dalam waktu singkat, lalu akan melakukan transaksi di saat mereka mendapat saham dalam harga rendah atau menjual saat harga saham tersebut tinggi. Seorang trader melakukan transaksi dalam frekuensi yang tinggi, paling lama mereka menahan sebuah saham dalam waktu seminggu.

Lihat juga: “Terjun ke Dunia Saham,Tentukan Mau Jadi Investor atau Trader!”

Siapkan Dana Darurat

Mungkin langkah ini belum pernah Anda duga sebelumnya. Mengapa dana darurat begitu penting dalam mencapai kebebasan finansial. Bukankah lebih baik kita menginvestasikan semua yang dimiliki, agar dana kita terus mengalami efek compounding? Efek compounding  merupakan kemampuan aset dalam menghasilkan keuntungan yang kembali diinvestasikan, sehingga mampu menghasilkan keuntungan lagi. 

Tentu anggapan tersebut tidak salah, namun Anda perlu ingat bahwa risiko investasi tak bisa sepenuhnya dihilangkan. Selain itu, beberapa instrumen juga tidak memungkinkan untuk ditarik dananya sewaktu-waktu. Jika dana terpaksa ditarik, Anda akan terkena biaya penalti.

Sesuai namanya, dana darurat disiapkan untuk menghadapi berbagai situasi yang tidak terduga. Oleh karena itu, dana darurat harus mudah ditarik kapan saja. Dana darurat dan investasi sama-sama penting untuk menyelamatkan dan memperkokoh kondisi keuangan Anda. Jangan mengabaikan dana darurat karena Anda terlalu fokus berinvestasi. Siapkan dana saat ini juga! Jumlahnya bisa berbeda bagi setiap orang, tergantung gaya hidup dan konsumsi. Dana darurat yang ideal adalah 6 kali jumlah pengeluaran bulanan. Bagi yang sudah menikah dan belum memiliki anak, dapat disiapkan dana darurat sebesar 9 kali dari jumlah pengeluaran bulanan. Untuk yang sudah punya anak, dana darurat mencapai 12 kali pengeluaran bulanan. 

Anda bisa mempersiapkan dana darurat dan investasi secara bersamaan. Caranya dengan mengalokasikan penghasilan bulanan, misalnya menyisihkan 10% untuk investasi dan 10% untuk dana darurat.

Lihat juga: “4 Tips Praktis Menghindari Siklus dari Gaji ke Gaji”

Perhitungkan Kebutuhan Anda di Masa Depan

Biaya untuk memenuhi kebutuhan hidup cenderung naik tiap tahunnya. Ini disebabkan oleh berbagai hal, seperti inflasi tahunan dan kebutuhan-kebutuhan baru. Mungkin saat ini, Anda cukup hidup hanya dengan gaji Rp 5 juta, tetapi apakah jumlah tersebut cukup memenuhi kebutuhan hidup Anda 10 tahun ke depan? Tentu tidak. Belum lagi kalau Anda berkeluarga dan punya anak. 

Mulailah dengan menghitung angka inflasi tahunan yang mencapai 3-4% per tahun. Inflasi akan menentukan perkiraan kenaikan harga barang. Selain itu, perhitungkan berbagai pengeluaran tambahan dan kebutuhan-kebutuhan baru. Misalnya, biaya pendidikan anak. Biaya ini perlu Anda pikirkan dengan matang karena biaya pendidikan terus naik hingga 15% per tahun.

Dengan memperhitungkan biaya kebutuhan hidup di masa mendatang, instrumen investasi yang Anda pilih bisa lebih tepat. Agar tidak mengganggu rencana besar kebebasan finansial, biaya pendidikan perlu dialokasikan secara khusus.

Manfaatkan Efek Compounding untuk Diversifikasi

Dengan berinvestasi, uang Anda akan berkembang karena ada efek compounding. Nah, imbal hasil yang sudah Anda dapatkan ini, jangan digunakan untuk konsumsi, tetapi langsung investasikan lagi. Ini adalah “jalan yang benar” untuk mencapai kebebasan finansial.

Namun tetap ingat prinsip “jangan letakkan telur dalam satu keranjang”. Gunakan imbal hasil Anda pada instrumen investasi yang berbeda. Dengan cara ini, risiko investasi dapat Anda minimalkan.

 “Kunci” Return dengan Real Asset

Investasi real asset merupakan jenis investasi yang bersifat tangible, yaitu dapat disentuh dan dilihat, seperti properti, emas, barang koleksi atau seni, tanah, pertanian dan perkebunan, hingga peternakan. Namun, memulai investasi pada instrumen ini membutuhkan dana yang tidak sedikit. Oleh karena itu, investasi ini cocok dilakukan saat dana Anda sudah terkumpul cukup banyak. Pendapatan dari berbagai paper asset seperti saham, reksa dana, obligasi, hingga surat utang negara perlu di “kunci” pada real asset. Tentu saja “penguncian” aset ini hanya bisa terjadi setelah jumlah return dari paper asset terkumpul, sehingga cukup untuk beli real asset. Lantas, mengapa mengunci return ini penting?

Sebagai bentuk investasi, memiliki modal pada real asset juga salah satu bentuk diversifikasi instrumen investasi. Selain meminimalkan risiko, diversifikasi pada real asset berpotensi melipatgandakan return. Misalnya, Anda membeli properti tanah. Tanpa Anda kelola pun, harga tanah cenderung meningkat karena jumlahnya terbatas dan permintaan terus naik. Apalagi jika tanahnya Anda kelola dan bangun kos-kosan, rumah sewa, atau apartemen. Tentu, Anda dapat menghasilkan passive income.


Dengan menjadi pemilik modal, langkah kebebasan finansial Anda akan semakin mudah. Modal yang Anda miliki akan berkembang dan menghasilkan pundi-pundi rupiah. Tidak cukup dengan modal, pengetahuan tentang pengelolaan keuangan juga diperlukan agar Anda tidak terjerumus menanamkan dana di instrumen yang tidak sesuai.

Artikel blog ini ditulis oleh Modalku, pionir platform peer-to-peer (P2P) lending di Indonesia dan Asia Tenggara. Kami menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tanah air dan membuka opsi investasi alternatif dengan pengembalian menarik bagi pemberi pinjaman.

Modalku memenangkan Global SME Excellence Award dari ITU Telecom, salah satu badan organisasi PBB, di akhir tahun 2017. Modalku juga memenangkan Micro Enterprise Fintech Innovation Challenge yang diselenggarakan oleh United Nations Capital Development Fund (UNCDF) dan UN Pulse Lab Jakarta di tahun 2018. Visi kami adalah memberdayakan UMKM untuk bersama memajukan ekonomi Indonesia. Lihat statistik perkembangan pesat Modalku di sini.

Tertarik mengenal Modalku lebih baik? Klik di sini.

Modalku secara resmi terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Leave a Reply