Menghadapi Krisis Ekonomi dengan Dana Darurat

Tidak ada yang menginginkan krisis ekonomi kembali terjadi. Namun, tidak ada salahnya untuk mempersiapkan diri. Apalagi Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, yaitu pada tahun 1998 dan 2008. Beberapa waktu belakangan, banyak orang khawatir krisis ekonomi akan kembali terjadi karena perang dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat.

Jika krisis ekonomi terjadi, kemungkinan besar rupiah akan mengalami depresiasi, yaitu nilai rupiah yang menurun. Banyak perusahaan yang berada di posisi sulit sehingga harus mem-PHK para karyawannya. Belum lagi harga produk yang diprediksi akan melambung. Di tengah kondisi seperti ini, Anda diperbolehkan menggunakan dana darurat untuk bertahan hidup.

Lihat juga: “Ada Resesi, Jangan Khawatir! Lakukan 5 Langkah Ini!”

Gunakan Dana Darurat

Krisis ekonomi tergolong sebagai salah satu kondisi darurat mengingat sifatnya yang sulit untuk diprediksi. Ekonomi yang melemah kerap membuat kondisi finansial menjadi tidak menentu. Apalagi biasanya ketika krisis ekonomi terjadi, harga sembako akan mengalami kenaikan yang cukup drastis. Di sinilah Anda bisa mengandalkan dana darurat untuk menghadapinya. Itulah kenapa Anda selalu diingatkan untuk menyiapkan dana darurat sedini mungkin. Berikut beberapa tips yang bisa Anda terapkan:

  • Analisis kondisi keuangan lebih dulu

Hal pertama yang perlu Anda lakukan sebelum menyiapkan dana darurat adalah menganalisis kondisi keuangan. Catat setiap uang yang masuk dan keluar untuk mengetahui cash flow bulanan. Dengan begini, Anda pun akan tahu berapa banyak jumlah yang bisa disisihkan per bulannya untuk kebutuhan dana darurat.

  • Tentukan jumlah dana darurat yang harus disiapkan

Cash flow Anda sudah beres? Saatnya menentukan jumlah dana darurat yang harus Anda siapkan. Idealnya, bagi yang belum menikah, Anda disarankan untuk menyiapkan dana darurat sebesar 3-6 kali gaji bulanan. Sedangkan, bagi yang sudah menikah dan punya anak, jumlah dana darurat yang sebaiknya dipersiapkan adalah senilah dua belas kali gaji bulanan.

  • Jangan hanya menabung, cari alternatif dengan investasi

Dalam menyiapkan dana darurat, sebaiknya jangan hanya mengandalkan tabungan saja. Alternatif investasi dapat menjadi pilihan yang lebih tepat karena potensi keuntungannya yang relatif lebih besar jika dibandingkan tabungan biasa di bank. Pilihlah alternatif investasi dengan seperti Modalku, online platform untuk peer-to-peer (P2P) lending.

Lebih lanjut: “Alternatif Investasi Sekaligus Membantu UMKM dengan Modalku”

  • Pisahkan rekening untuk dana darurat

Dana darurat dipersiapkan hanya untuk digunakan pada saat-saat darurat, termasuk ketika krisis ekonomi terjadi. Nah, agar dana darurat tidak digunakan untuk hal-hal yang bukan tujuannya, sebaiknya pisahkan dana darurat di rekening yang terpisah dari rekening untuk kebutuhan sehari-hari.

  • Sisihkan dari gaji sejak awal

Jika Anda sudah menentukan jumlah gaji yang harus disisihkan untuk persiapan dana darurat, makan berkomitmenlah. Jangan menunggu hingga akhir bulan untuk disisihkan ke dana darurat karena belum tentu uang Anda masih ada. Setelah menerima gaji bulanan, segera sisihkan sebagian ke rekening khusus dana tabungan agar tidak terpakai untuk hal-hal lain.

Jangan Gegabah dalam Mengambil Keputusan

Saat dihadapkan dengan kondisi darurat, banyak orang akan merasa panik. Hal ini sangat wajar terjadi. Namun, tetap dinginkan hati dan kepala agar Anda tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Selalu lakukan pertimbangan sebaik mungkin sebelum mengambil setiap keputusan. Jangan sampai kehidupan sehari-hari menjadi semakin sulit karena Anda gegabah dalam mengambil keputusan.

Salah satu keputusan gegabah yang rentan diambil banyak orang adalah mencairkan semua dana darurat sampai tidak tersisa. Misalnya, katakanlah Anda menyiapkan dana darurat di rekening alternatif investasi P2P lending seperti Modalku. Saat krisis ekonomi terjadi dan harga bahan pokok mengalami kenaikan drastis, secara otomatis kebutuhan akan uang tunai pun ikut meningkat. Demi memenuhi kebutuhan tersebut, Anda dengan gegabah memutuskan untuk mencairkan semua dana darurat sampai tidak tersisa.

Hal ini bukanlah keputusan yang bijak. Jika Anda mencairkan seluruh dana darurat, Anda akan cenderung langsung menggunakannya sampai habis pula. Padahal, yang namanya kondisi darurat, tidak ada yang tahu kapan kondisi tersebut akan berakhir. Jadi, Anda disarankan untuk mencairkan dana darurat seperlunya saja. Lakukan penghematan agar dana darurat yang dicairkan tidak cepat habis.

Contoh tindakan gegabah lainnya adalah menggunakan dana darurat untuk hal-hal yang sebenarnya kurang perlu. Contohnya, Anda lebih memilih pakaian baru daripada kebutuhan sehari-hari saat krisis ekonomi terjadi hanya karena ingin mengikuti tren. Padahal, Anda seharusnya berhemat agar dana darurat bisa terus digunakan hingga kondisi krisis ekonomi berlalu.

Anda juga bisa menghemat dana darurat dengan membatasi pengeluaran. Tenang, Anda tidak perlu memangkas seluruh pengeluaran. Coba tuliskan daftar prioritas, lalu lakukan pembatasan berdasarkan daftar tersebut. Misalnya, jika selama ini Anda berlangganan TV kabel, Anda bisa berhenti langganan untuk sementara mengingat fungsinya yang tidak terlalu krusial. Jadi, Anda pun dapat menggunakan biaya langganan TV kabel tersebut untuk keperluan lain yang lebih penting.

Lunasi Utang Sebelum Krisis Makin Parah

Kondisi darurat seperti krisis ekonomi memang cenderung bersifat tidak pasti. Memang terkadang bisa diprediksi oleh para pakar ekonomi atau pemerintah. Namun, kita tetap tidak tahu pasti situasi yang akan terjadi di masa mendatang. Bisa segera membaik, ataukah semakin memburuk. Atas alasan ini jugalah Anda tidak boleh gegabah dalam menggunakan dana darurat.

Selain itu, apabila Anda masih memiliki pinjaman usaha atau kredit pribadi, segera lakukan pelunasan. Jangan menunda-nunda karena bunganya bisa semakin banyak dan memberatkan Anda. Namun, kembali lagi pada poin sebelumnya, jangan gegabah dalam menggunakan dana darurat. Tetap sisakan darurat dan aset pribadi agar Anda bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari ke depannya nanti.

Apabila diperlukan, aset-aset pribadi juga bisa dimanfaatkan sebagai sumber pemasukan tambahan. Misalnya, bagi yang memiliki sepeda motor atau mobil, Anda bisa mencoba mendaftar menjadi driver untuk transportasi berbasis online sebagai pekerjaan sampingan.

Contoh lain bisa dengan menyewakan koleksi buku kepada teman-teman dan keluarga. Lalu, bagi yang memiliki banyak pakaian atau sepatu, coba sortir kembali koleksi pakaian dan sepatu Anda, lalu bukalah garage sale untuk menjualnya. Bisa juga menambahkan koleksi barang-barang lain, seperti furnitur, aksesoris, dan perhiasan.

Terapkan Gaya Hidup Minimalis

Poin satu ini juga masih berhubungan dengan poin kedua. Sulit memang untuk menahan keinginan dalam membeli sesuatu ketika Anda mengantongi uang dalam jumlah banyak dari tabungan dana darurat. Hal seperti inilah yang mendorong pengambilan keputusan secara gegabah. Untuk itu, cobalah untuk menerapkan gaya hidup minimalis agar tidak kehabisan dana darurat sebelum waktunya.

Tren gaya hidup minimalis populer disosialisasikan oleh Marie Kondo, seorang konsultan tata rumah asal Jepang. Dalam menata suatu rumah, Marie Kondo selalu menerapkan metode bernama Konmari untuk mengelompokkan barang sesuai kategorinya. Klien diminta untuk menyimpan barang-barang yang masih digunakan saja.

Dengan begini, Anda pun dipaksa untuk tega untuk merelakan atau melepaskan barang-barang yang tidak lagi memberikan fungsi. Setidaknya inilah beberapa prinsip gaya hidup minimalis yang bisa Anda terapkan untuk menghadapi krisis ekonomi:

  • Mengelompokkan barang sesuai kategori

Mengingat ada begitu banyak barang yang ada di rumah, Anda mungkin akan kesulitan untuk membereskannya. Oleh sebab itu, untuk mempermudah prosesnya, Anda bisa mengelompokkan dan membereskan barang sesuai kategori, mulai dari pakaian, kabel, buku, hingga dokumen.

Letakkan barang-barang ini pada sebuah wadah, jangan dibiarkan begitu saja di atas meja, terutama untuk barang-barang kecil seperti kabel. Taruh di dalam sebuah kotak, lalu simpan di laci atau lemari agar terlihat rapi dan memudahkan Anda jika mencarinya suatu hari nanti.

  • Selalu mengutamakan fungsi

Saat membereskan barang-barang sesuai kategori, Anda disarankan juga untuk menyortirnya. Dalam hal ini, sebaiknya utamakan fungsi, bukan estetika. Misalnya, saat membereskan pakaian, coba ingat kapan terakhir kali Anda mengenakannya. Jika misalnya sudah tidak pernah dipakai sejak setahun lalu, Anda bisa memisahkannya. Setelah terkumpul, pakaian-pakaian yang tidak terpakai ini dapat disumbangkan atau dijual kembali untuk mendapat pemasukan tambahan.

  • Berusaha melepas keterikatan dengan barang

Berpisah dengan barang yang dimiliki memang tidak mudah, apalagi jika Anda sudah bertahun-tahun memilikinya. Rasanya seperti ada keterikatan sendiri yang membuat Anda sayang dengan barang tersebut. Namun, Anda harus rela untuk melepaskan barang-barang tersebut.

Sekali lagi, utamakan fungsi barang, jangan hanya mengedepankan rasa sentimentil dan emosi sesaat. Ingatlah kembali bahwa gaya hidup minimalis mendorong Anda untuk menggunakan barang-barang dalam jumlah seminimal mungkin, tetapi mampu memberikan fungsi yang optimal kepada hidup Anda.

  • Belanja berdasarkan kebutuhan

Dengan menerapkan gaya hidup minimalis, apakah ini artinya Anda tidak boleh berbelanja? Tentu saja tidak. Hanya saja, berbelanjalah sesuai kebutuhan, jangan karena didorong oleh keinginan dan lapar mata. Misalnya, apabila gadget lama masih berfungsi dengan baik, Anda tidak perlu membeli gadget baru. Apalagi di tengah krisis ekonomi, uang Anda tentu akan lebih bermanfaat jika dialokasikan untuk pos pengeluaran lain yang lebih dibutuhkan.

Kondisi ekonomi memang dapat diprediksi. Namun, tidak ada yang bisa memastikan kapan krisis ekonomi akan terjadi. Itulah mengapa Anda disarankan untuk mempersiapkan diri, yaitu dengan menyiapkan dana darurat. Industri bisnis pasti akan terdampak oleh bisnis ekonomi dan memengaruhi finansial perusahaan. Agar nantinya finansial pribadi tidak ikut goyah, Anda bisa menggunakan dana darurat, yang harus disiapkan sejak sekarang.


Namun, dalam penggunaannya, usahakan untuk tidak gegabah agar dana darurat tidak habis sebelum waktunya. Kemudian, selalu prioritaskan kebutuhan yang paling mendesak, termasuk utang maupun kredit yang perlu dilunasi. Yakinlah bahwa krisis ekonomi secara berlalu dan Anda bisa melaluinya dengan baik. Semoga informasi ini bisa bermanfaat untuk Anda.

Artikel blog ini ditulis oleh Modalku, pionir platform peer-to-peer (P2P) lending di Indonesia dan Asia Tenggara. Kami menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tanah air dan membuka opsi investasi alternatif dengan pengembalian menarik bagi pemberi pinjaman.

Modalku memenangkan Global SME Excellence Award dari ITU Telecom, salah satu badan organisasi PBB, di akhir tahun 2017. Modalku juga memenangkan Micro Enterprise Fintech Innovation Challenge yang diselenggarakan oleh United Nations Capital Development Fund (UNCDF) dan UN Pulse Lab Jakarta di tahun 2018. Visi kami adalah memberdayakan UMKM untuk bersama memajukan ekonomi Indonesia. Lihat statistik perkembangan pesat Modalku di sini.

Tertarik mengenal Modalku lebih baik? Klik di sini.

Modalku secara resmi berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Leave a Reply