Mengapa Harga Emas Bisa Naik Tiba-Tiba?

Beberapa waktu yang lalu, masyarakat dihebohkan dengan naiknya harga emas secara tiba-tiba. Fenomena ini unik mengingat sebelumnya harga emas cenderung stagnan. Sebagai instrumen investasi yang rendah risiko, wajar jika return yang didapat dari kenaikan harga emas rendah. Meski demikian investasi emas masih banyak digemari oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Hal ini dikarenakan emas mudah didapatkan, sukar dipalsukan, dan  bersifat universal.

Lihat juga: “Tabungan Emas: Solusi Menabung Sekaligus Investasi”

Harga emas memang cenderung naik, tapi membutuhkan waktu yang cukup lama. Oleh karena itu, kenaikan harga emas secara drastis akan memicu kehebohan. Fenomena ini mendorong banyak orang tergiur untuk berinvestasi emas. Namun tahukah Anda mengapa harga emas bisa naik tiba-tiba?

Ketidakpastian Ekonomi

Sebagai instrumen untuk “menjaga” dan menumpuk kekayaan, emas tidak hanya menarik untuk disimpan sendiri (di rumah). Anda juga bisa memulainya dengan cara menabung emas di pegadaian. Banyak yang menganggap bahwa investasi emas selalu mampu memberikan keuntungan karena tidak dipengaruhi oleh kondisi apapun. Padahal tidak selalu demikian, harga emas juga bisa dipengaruhi oleh gejolak ekonomi. Tiga bulan terakhir harga emas Antam melonjak tajam.  Harga emas Antam per 24 Agustus 2019 mencapai Rp 766.500,- per gram naik 15% dari harga per 2 Juni 2019 sebesar Rp 665.000 per gram.

Kenaikan ini disinyalir karena adanya gejolak ekonomi global yang belum menentu, bahkan cenderung memburuk. Diprediksi Amerika Serikat (AS) akan dililit resesi ekonomi di tahun 2020. Ini adalah kondisi penurunan Produk Domestik Bruto (PDB). Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama 2 kuartal. Tanda-tanda resesi sudah mulai nampak saat imbal hasil surat utang pemerintah AS tenor pendek lebih tinggi dari kupon surat utang jangka panjang.

Tidak hanya itu, gejolak ekonomi juga berasal dari perang dagang antara AS dan Cina. Saat AS mengenakan bea masuk 15% untuk impor produk asal Ciina senilai 125 miliar dolar AS, Cina membalasnya dengan mengenakan bea masuk 5-10% untuk impor produk made in the USA. Jika perang dagang ini terus berlanjut, dampaknya akan terasa di seluruh dunia. Ingat bahwa kedua negara tersebut adalah negara dengan perekonomian terbesar di dunia.

Aliran perdagangan dunia akan terhambat dan pertumbuhan ekonomi makin rendah. Inilah yang mendorong para investor untuk memindahkan dananya ke instrumen yang bersifat safe haven atau aset berisiko rendah. Emas memang sering menjadi pilihan saat perekonomian global yang tidak menentu. Mereka percaya bahwa emas dapat “melindungi” uang mereka.

Jumlah Emas Terbatas

Sebagai sebuah komoditas, harga emas juga dipengaruhi oleh hukum permintaan dan penawaran. Jika permintaan lebih tinggi daripada penawaran, harga emas akan naik. Sebaliknya, saat penawaran lebih tinggi daripada permintaan, maka harga logam mulia ini akan turun.

Perlu diketahui bahwa emas yang beredar di seluruh dunia jumlahnya terbatas. Menurut gold.org yang dikutip CNBC, produksi emas dunia setiap tahunnya hanya bertambah 2.500 ton. Angka ini didapatkan berdasarkan catatan produksi emas sejak tahun 1950. Tren ini terus menurun, karena menurut data WGC per 2017 rata-rata produksi emas per tahun hanya 1.130 ton (dari 2007-2017).

Emas tergolong hasil tambang yang tidak dapat diperbaharui, sehingga makin hari jumlah emas yang ditambang makin sedikit. Wajar jika nilai emas terus meningkat karena terjadi ketimpangan antara permintaan dan suplai. Dengan kata lain, emas mengalami kelangkaan. Ketika sebuah barang mengalami kelangkaan maka nilainya meningkat.

Selain itu, ada yang unik dari masyarakat Indonesia. Jika pada umumnya investor enggan membeli instrumen saat harganya naik, maka orang Indonesia tetap membeli instrumen yang satu ini. Emas memang menjadi primadona masyarakat untuk berinvestasi. Hal ini diungkapkan oleh lembaga riset pemasaran Inside ID. Dalam laporan yang sama, disebutkan juga jika karakter orang Indonesia cenderung memilih instrumen investasi yang aman.

Lihat juga: “Logam Mulia: Investasi Gaya Lama yang Kian Mudah dan Menguntungkan”

Hati-Hati Ulah Spekulan

Meski harga emas sedang berkilau, Anda harus tetap hati-hati. Pasalnya, kenaikan harga emas tidak hanya dipengaruhi krisis ekonomi atau gejolak geopolitik, tapi juga ulah para spekulan. Mereka memanfaatkan kesempatan dan momentum ketidakpastian ekonomi dunia.

Dalam tulisan berjudul “The Most Significant Factors Influencing the Price of Gold: An Empirical Analysis of the US Market” yang dikutip dari Tirto, akademisi dari Istanbul Arel University, Aylin Erdogdu menilai bahwa indikator ekonomi makro seperti nilai dolar AS, inflasi, harga minyak, dan Dow Jones Index memang memengaruhi harga emas. Namun, para spekulan tetap punya pengaruh lebih besar terhadap pembentukan harga emas.

Peningkatan harga emas yang drastis tidak boleh hanya dilihat sebagai peluang, tapi juga ancaman. Kenaikan harga yang terlampau tinggi patut diwaspadai karena bisa berubah arah dan turun secara drastis pula. Oleh karena itu, diperlukan kejelian dalam berinvestasi logam mulia.

Pada Senin (9/9/2019), emas mengalami penurunan harga secara beruntun, sejak menyentuh rekor tertinggi pada Kamis pekan lalu. Penurunan harga ini diyakini terkait dengan rencana pertemuan Cina-Amerika Serikat bulan Oktober nanti. Meski hubungan kedua negara tersebut sedang memanas, namun bukan tidak mungkin kedua negara tersebut akan akur.

Fakta semakin memperkuat dugaan bahwa kenaikan harga yang terlalu drastis kemungkinan besar dipengaruhi spekulan. Buktinya setelah naik, beberapa hari kemudian harga emas turun secara beruntun. Tetaplah fokus untuk meningkatkan tabungan emas, meski di luar sana harga naik tiba-tiba. Dengan berfokus pada tabungan emas, tujuan keuangan Anda lebih mudah tercapai karena tidak mudah terganggu oleh ulah spekulan. 


Itulah beberapa alasan mengapa harga emas bisa naik secara tiba-tiba. Anda bisa mengambil peluang dari momentum ini, tapi tetap harus waspada ulah spekulan. Jika terlalu tergiur kenaikan harga, Anda bisa merugi. Tetap tenang dan berpikir jangka panjang. Jangan tergiur dengan kenaikan harga emas hari ini. Menjadikan emas sebagai investasi jangka panjang merupakan pilihan yang bijak.

Artikel blog ini ditulis oleh Modalku, pionir platform peer-to-peer (P2P) lending di Indonesia dan Asia Tenggara. Kami menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tanah air dan membuka opsi investasi alternatif dengan pengembalian menarik bagi pemberi pinjaman.

Modalku memenangkan Global SME Excellence Award dari ITU Telecom, salah satu badan organisasi PBB, di akhir tahun 2017. Modalku juga memenangkan Micro Enterprise Fintech Innovation Challenge yang diselenggarakan oleh United Nations Capital Development Fund (UNCDF) dan UN Pulse Lab Jakarta di tahun 2018. Visi kami adalah memberdayakan UMKM untuk bersama memajukan ekonomi Indonesia. Lihat statistik perkembangan pesat Modalku di sini.

Tertarik mengenal Modalku lebih baik? Klik di sini.

Modalku secara resmi terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Leave a Reply