Ada Resesi? Jangan Khawatir! Lakukan 5 Langkah Ini!

Belakangan ini banyak orang yang heboh dengan ancaman resesi. Meskipun resesi adalah fenomena ekonomi makro, namun dampaknya bisa dirasakan oleh masyarakat. Tidak heran jika ancaman ini membuat orang kalang kabut. Sebenarnya apa itu resesi?

Resesi merupakan penurunan ekonomi secara signifikan, kurang lebih selama 6 bulan. Penurunan ini menyangkut 5 indikator yakni, PDB (Produk Domestik Bruto) riil, pendapatan, pekerjaan, manufaktur, dan penjualan ritel. National Bureau of Economic Research (NBER) mendefinisikan resesi sebagai periode jatuhnya aktivitas ekonomi, tersebut di seluruh ekonomi dan terjadi selama beberapa bulan. Intinya, beberapa aktivitas ekonomi akan mengalami kelesuan. Lantas, apakah pekerjaan Anda juga terancam? Bagaimana dengan bisnis Anda? Apa yang harus Anda lakukan?

Jangan Panik

Panik menjadi reaksi pertama saat orang mendengar informasi tentang resesi ekonomi. Ketakutan akan menurunnya pendapatan, kehilangan pekerjaan, bisnis yang makin surut bahkan bangkrut menghinggapi banyak orang. Meskipun kepanikan tersebut beralasan, namun kita harus tetap tenang. Memang benar bahwa resesi dapat memengaruhi kondisi keuangan Anda, namun yakinlah selalu jalan.

Mungkin banyak orang yang membayangkan bahwa resesi ekonomi akan berakhir seperti krisis ekonomi yang terjadi di 1998. Bayangan tentang harga bahan pokok yang tidak terkendali, sulit mencari pekerjaan, dunia usaha yang berjatuhan, hingga penjarahan. Perlu diketahui, bahwa krisis ekonomi tidak selalu berlangsung demikian. Buktinya, pada tahun 2008 krisis ekonomi juga melanda Indonesia, namun kondisi kembali membaik dan stabil.

Badai pasti berlalu. Bagai sebuah badai, resesi juga akan berlalu. Yakinlah ini akan terjadi. Dengan cara ini kepanikan Anda akan berkurang. Meski pasar dan masyarakat panik, jangan ikut-ikutan. Saat ada resesi atau krisis, banyak keputusan-keputusan yang harus Anda buat. Kepanikan hanya akan membuat Anda salah mengambil keputusan. Misalnya, Anda panik karena harga saham yang miliki terus anjlok, sehingga Anda terburu-buru menjualnya. Padahal, seminggu kemudian harga saham tersebut kembali stabil bahkan terus naik. Dalam masa resesi, tetap tenang dan berpikir jernih adalah kunci.

Lakukan Penghematan

Karena ekonomi sedang melambat, ada baiknya Anda membatasi pengeluaran Anda. Mengapa Anda harus melakukan penghematan? Pertama, kita tidak tahu apa yang terjadi esok hari. Bisa jadi keadaan makin buruk, bisa juga membaik. Jika Anda tidak melakukan penghematan dan kondisi terus memburuk, bujet Anda akan membengkak, karena harga-harga barang pokok naik dengan cukup drastis.

Meski demikian, Anda tetap tidak boleh panik. Resesi, krisis, dan perlambatan adalah hal yang lumrah dan bisa terjadi kapan saja. Yang penting adalah bagaimana strategi Anda dalam menghadapinya. Dengan melakukan penghematan bukan berarti perekonomian Anda memburuk. Ini adalah langkah penyesuaian agar Anda tetap selamat di tengah krisis.

Kedua, dengan melakukan penghematan, Anda akan punya kelebihan uang cash. Ketersediaan uang tunai sangat berguna saat krisis. Selain berguna sebagai dana cadangan untuk menghadapi inflasi, dana tersebut juga bisa Anda gunakan untuk membeli aset. Saat kondisi memburuk, banyak orang yang akan menjual aset dengan harga murah asalkan dapat uang tunai. Inilah kesempatan Anda, bukan tidak mungkin harga aset tersebut justru meningkat pasca krisis.

Lunasi Utang Jangka Pendek

Dalam kondisi krisis ekonomi, segera lunasi utang-utang Anda. Tentu tidak semua utang, tapi utang-utang jangka pendek saja. Karena utang jangka panjang seperti KPR (Kredit Pemilikan Rumah) jumlahnya sangat besar. Jadi sulit untuk dilunasi sekarang juga. Jika pun Anda bisa melunasinya, Anda harus mencairkan semua tabungan, dana darurat, hingga aset Anda. Tentu ini bukan langkah yang tepat, karena Anda membutuhkan dana cadangan untuk menghadapi krisis.

Utang seperti tagihan kartu kredit, cicilan smartphone, KTA (Kredit Tanpa Agunan), hingga kredit konsumtif lainnya, harus segera dilunasi sebelum resesi makin parah. Jika tidak, bunga pinjaman yang membengkak akan mengurangi cadangan kas Anda. Gunakan dana darurat yang Anda miliki untuk pelunasan ini. Tentu Anda harus menyisakannya untuk cadangan kas. Jika sudah gunakan dana darurat, tapi cicilan masih ada, maka prioritaskan untuk melunasinya pinjaman yang berbunga tinggi terlebih dahulu.

Tunda Rencana Liburan

Dalam kondisi ekonomi yang serba tidak pasti, menunda rencana liburan adalah langkah yang bijak. Apalagi jika Anda berencana liburan keluar negeri. Saat resesi, nilai tukar rupiah cenderung melemah, sehingga Anda harus membayar lebih mahal berbagai keperluan. Bujet Anda bisa jebol jika tetap memaksakan diri. Ingat! Anda harus siapkan cadangan uang tunai yang cukup untuk menghadapi krisis. Alihkan bujet liburan Anda sebagai dana cadangan.

Anda hanya menunda liburan, bukan membatalkannya. Bersabarlah dan tetap yakin bahwa “badai pasti berlalu”. Namun jika Anda benar-benar butuh liburan untuk menghilangkan stres, maka ubah saja rencana liburan Anda jadi lebih hemat. Misalnya, dengan melakukan staycation di hotel dekat rumah. Berjalan-jalan di pinggir danau atau taman kota di sekitar tempat tinggal Anda juga jadi opsi yang menarik. Dengan cara tersebut, Anda tetap bisa kembali fresh meski dengan bujet yang terbatas.

Anda juga bisa bersabar menanti sampai masa resesi terlewati. Bisa saja Anda malah mendapatkan tambahan bujet karena Anda membeli saham dengan harga murah saat resesi. Kemudian harganya melonjak saat resesi usai.

Lihat juga: “Tips Mengatur Keuangan untuk Liburan”

Manfaatkan Kesempatan

Seperti yang sudah disinggung di atas, saat krisis biasanya banyak instrumen pasar modal yang harganya turun. Inilah gunanya punya banyak cadangan kas. Gunakan kesempatan ini untuk membeli aset-aset tersebut. Banyak harga saham yang anjlok saat terjadi resesi. Tentu Anda juga harus perhatikan kondisi fundamental dan laporan keuangan perusahaan emiten.

Jika Anda sudah punya paper asset, tinjau kembali. Apakah lebih baik menjual atau mempertahankannya? Saat resesi, tidak ada salahnya menjual aset jika menurut perhitungan Anda aset tersebut tidak segera membaik. Jangan panik! Tetap tenang saat ambil keputusan. Pikirkan dengan matang, apakah menjual aset tersebut adalah keputusan yang tepat.

Akan sangat baik jika Anda sudah punya tabungan emas. Harga emas cenderung naik saat resesi. Anda bisa menjualnya dan keuntungannya bisa Anda gunakan untuk membeli saham yang sedang jatuh. Tetapi sekali lagi, prioritaskan untuk membeli saham blue chip. Biar bagaimanapun, perusahaan yang sahamnya sudah blue chip tidak akan mudah bangkrut meski ada resesi.

Meski demikian, Anda jangan sampai terjebak oleh ulah spekulan harga emas. Tetap tenang dan terus pantau harga emas hari ini. Apakah naiknya masih wajar atau mencurigakan? Jangan mudah tergiur dengan harga emas naik tinggi!


Sebagaimana kehidupan, kondisi ekonomi juga seperti roda. Kadang di atas, kadang di bawah. Jangan panik dan risau! Yang paling penting adalah cara menghadapinya. Lakukan 5 langkah di atas agar Anda selamat saat resesi terjadi! Selalu ambil keputusan dengan matang dan manfaatkan resesi sebagai peluang untuk meningkatkan aset Anda.

Artikel blog ini ditulis oleh Modalku, pionir platform peer-to-peer (P2P) lending di Indonesia dan Asia Tenggara. Kami menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tanah air dan membuka opsi investasi alternatif dengan pengembalian menarik bagi pemberi pinjaman.

Modalku memenangkan Global SME Excellence Award dari ITU Telecom, salah satu badan organisasi PBB, di akhir tahun 2017. Modalku juga memenangkan Micro Enterprise Fintech Innovation Challenge yang diselenggarakan oleh United Nations Capital Development Fund (UNCDF) dan UN Pulse Lab Jakarta di tahun 2018. Visi kami adalah memberdayakan UMKM untuk bersama memajukan ekonomi Indonesia. Lihat statistik perkembangan pesat Modalku di sini.

Tertarik mengenal Modalku lebih baik? Klik di sini.

Modalku secara resmi terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Leave a Reply