Bermain Saham di Masa Resesi, Siapa Takut?

Sebagai salah satu instrumen pasar modal yang populer, saham selalu punya daya tarik tersendiri. Jumlah investor saham juga terus mengalami peningkatan. Sepanjang Januari 2019 mencapai 23 ribu single investor (SID). Jumlah itu naik 2 kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu. Ini menandakan bahwa masyarakat punya harapan cukup besar di instrumen saham.

Namun, saat ini perekonomian berada di ambang resesi. Sebuah perekonomian dikatakan resesi apabila pertumbuhan ekonominya negatif selama dua kuartal berturut-turut. Kondisi ini dikhawatirkan akan memengaruhi kinerja saham. Lantas, apakah bermain saham masih menjadi pilihan yang menarik?

Ingin tahu lebih lanjut tentang main saham, trader, hingga investor saham? Klik di sini!

Sebelummain saham, pastikan juga bahwa Anda sudah paham dengan risikonya. Apalagi saat resesi ekonomi, risikonya pasti berbeda dengan saat perekonomian stabil bukan?

Pahami Cara Kerja Pasar Modal

Bermain saham saat resesi tentu masih memungkinkan, asal Anda tahu kondisi “lapangannya”, yakni pasar modal. Pahami dulu seluk beluk di dalamnya. Sebagai langkah awal, Anda dapat mempelajari dulu cara kerja pasar modal. Dengan memahami cara kerja pasar modal, Anda akan lebih mudah menerapkan strategi-strategi dalam main saham.

Cara kerja pasar modal bergantung pada jenis pasar apa yang sedang berlangsung. Dengan memahami jenis pasarnya, kita bisa memahami mekanismenya. Berdasarkan waktu transaksinya, ada 2 jenis pasar, yakni pasar perdana dan pasar sekunder. Pasar perdana adalah pasar di mana saham diperdagangkan untuk pertama kalinya, sebelum dicatatkan di Bursa Efek Indonesia. Biasanya saham pertama kali ditawarkan oleh emiten melalui underwriter kepada investor dengan mekanisme IPO (Initial Public Offering).

Sedangkan pasar sekunder adalah kelanjutan dari pasar perdana setelah perusahaan melepas sahamnya. Setelah tercatat di bursa saham, perusahaan tersebut bisa bebas ditawarkan ke publik, sesuai banyaknya permintaan dan penawaran.

Agar lebih mudah dipahami, kita bisa menganalogikan kedua pasar tersebut dengan bursa jual beli motor baru dan motor bekas. Misalnya, Pak Rudi membeli motor merek X buatan PT XYZ. Dia pun mendatangi dealer yang ditunjuk PT XYZ untuk menjual motornya. Kemudian, Pak Rudi membayar sejumlah uang dan motor pun diantar ke rumahnya. Dealer tersebut menyerahkan pembayaran ke PT XYZ. Dalam kasus ini, Pak Rudi membeli motor di pasar perdana.

Pada analogi ini, PT XYZ mewakili Emiten yang akan go public, Pak Rudi mewakili investor, dealer mobil mewakili Underwriter atau Penjamin Emisi.

Ingin tahu lebih lanjut tentang emiten, investor, underwriter, dan pihak-pihak yang berperan di pasar modal. Klik di sini.

Nah, pasar sekunder bisa dianalogikan sebagai bursa motor bekas. Jadi, katakanlah Pak Rudi sudah 5 tahun memakai motornya dan ingin menjualnya. Ia perlu menghubungi showroom motor bekas. Di saat bersamaan Ibu Ratu perlu motor yang sesuai dengan isi kantongnya. Dia pun mendatangi showroom dan tawar menawar dengan Pak Rudi sebagai pemilik motor.Dalam kasus ini, PT XYZ sudah tidak dilibatkan lagi.

Dalam analogi ini, showroom mobil bekas mewakili Bursa Efek Indonesia (BEI), Pak Rudi dan Ibu Ratau mewakili investor yang sedang bertransaksi atau bermain saham. Showroom mewakili pialang saham.  Nah, jika Anda menggunakan software online trading, maka Anda termasuk bertransaksi di pasar sekunder.

Lihat juga: “Tips Cerdas Berinvestasi di Pasar Modal”

Pelajari Berbagai Jenis Saham

Setelah memahami cara kerja pasar modal, kini saatnya Anda mengenal berbagai jenis saham yang dijual. Pengenalan pada jenis-jenis saham sangat penting agar Anda bisa jeli memilih saham di saat yang tepat. Kapan harus membeli saham jenis ini? Kapan waktu yang tepat untuk menjualnya?

Ibarat sedang berperang, pengenalan pada jenis-jenis senjata menjadi prioritas. Saham yang Anda miliki merupakan “senjata” untuk memperoleh keuntungan. Saat keadaan genting, tentu Anda tidak bisa hanya mengandalkan sebuah pistol kecil bukan? Diperlukan senapan berat untuk menghadapinya.

Ada beberapa jenis saham sesuai dengan karakternya. Namun, untuk menghadapi resesi kita akan fokus membahas saham berdasarkan kinerjanya. Apa saja itu?

Saham Blue Chip

Saham blue chip banyak diburu karena emitennya adalah perusahaan yang reputasinya bagus. Biasanya produk dan brand perusahaan sudah dikenal luas. Pendapatan mereka sudah stabil sehingga selalu lancar saat membayar dividen. Saham blue chip termasuk instrumen investasi yang cocok untuk menghadapi resesi karena stabil dan risikonya cukup minim.

Income Stocks

Saham jenis ini punya karakteristik yang unik, yaitu mampu membayar dividen lebih tinggi daripada rata-rata dividen yang dibayarkan di tahun sebelumnya. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para investor.

Growth Stocks

Saham jenis ini dibagi lagi jadi 2 yaitu, well-known dan lesser-known. Untuk well-known, mirip dengan blue chip karena pertumbuhan pendapatannya tinggi bahkan tertinggi di antara perusahaan pesaing. Sementara lesser-known, walaupun bukan termasuk yang unggul dalam industrinya. Perusahaan ini pendapatannya tinggi. Biasanya saham semacam ini dikeluarkan oleh perusahaan daerah yang populer di kalangan emiten.

Speculative Stocks

Saham jenis ini cocok untuk Anda yang profil risikonya tinggi. Meskipun berpotensi menghasilkan laba tinggi di masa depan, speculative stocks tidak bisa secara konsisten memperoleh penghasilan.

Counter Cyclical Stocks

Inilah saham yang paling stabil di berbagai kondisi ekonomi. Meski sedang resesi, krisis ekonomi, hingga depresi, saham ini tetap tinggi. Emiten tetap mampu membayar dividen lebih tinggi, karena penghasilan mereka tetap tinggi di masa resesi sekalipun.

Nah, setelah Anda mengetahui jenis-jenis saham, maka tinggal pilih saham yang paling cocok untuk menghadapi resesi. Resesi adalah hal yang besar. Ia harus dihadapi dengan “senjata” saham yang tidak sembarangan. Saham blue chip jadi pilihan menarik karena dikeluarkan oleh emiten besar. Anda juga bisa memilih growth stocks tipe well known yang punya kemiripan dengan blue chip. Selain itu, Anda juga bisa pilih counter cyclical stocks karena paling stabil di berbagai kondisi ekonomi.

Belajar dari Warren Buffet Indonesia

Resesi ekonomi bisa terjadi kapan saja. Pengusaha, karyawan, pemerintah hingga investor banyak yang khawatir jika resesi benar-benar melanda Indonesia. Bagi investor saham, isu resesi bisa sangat merugikan karena harga saham yang sudah mereka miliki bisa anjlok.

Namun jika Anda paham strateginya, resesi justru menjadi kesempatan untuk memperbanyak portofolio. Investor saham senior Lo Kheng Hong, menjelaskan bahwa pasar modal  trennya sedang  turun, justru saat yang tepat untuk beli saham. Meski demikian, Anda tetap perlu memperhatikan saham-saham yang Anda beli. Jangan asal murah, tapi harus bagus. Bagus dalam arti emitennya jelas bisnis dan perusahaannya.

Jangan lupa untuk terus memantau perkembangan pasar. Lo Kheng Hong mengaku rutin melakukan analisa pergerakan saham sebelum mengambil keputusan. Anda pun bisa mencontoh keberhasilannya. Lo Kheng Hong terbukti bisa menjadi investor triliuner di pasar modal Indonesia. Tidak heran jika dia dijuluki sebagai Warren Buffetnya Indonesia.


Jadi, masih takut bermain saham saat resesi? Dengan memahami jenis-jenis saham, cara kerja pasar modal, hingga strategi main saham saat resesi, Anda seakan punya amunisi untuk bertempur melawan resesi. Membeli saham di saat resesi justru bisa menjadi titik balik Anda sebagai investor. Bukan tidak mungkin, saham yang Anda beli di harga murah akan meningkat drastis saat resesi usai.

Artikel blog ini ditulis oleh Modalku, pionir platform peer-to-peer (P2P) lending di Indonesia dan Asia Tenggara. Kami menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tanah air dan membuka opsi investasi alternatif dengan pengembalian menarik bagi pemberi pinjaman.

Modalku memenangkan Global SME Excellence Award dari ITU Telecom, salah satu badan organisasi PBB, di akhir tahun 2017. Modalku juga memenangkan Micro Enterprise Fintech Innovation Challenge yang diselenggarakan oleh United Nations Capital Development Fund (UNCDF) dan UN Pulse Lab Jakarta di tahun 2018. Visi kami adalah memberdayakan UMKM untuk bersama memajukan ekonomi Indonesia. Lihat statistik perkembangan pesat Modalku di sini.

Tertarik mengenal Modalku lebih baik? Klik di sini.

Modalku secara resmi terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Leave a Reply