Kiat Menghadapi Resesi untuk UMKM

Resesi tidak hanya mengancam mata pencaharian sebagian orang, tapi juga mengintai keberlangsungan bisnis, khususnya UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah). Resesi ekonomi merupakan penurunan ekonomi secara signifikan, kurang lebih selama 6 bulan. Penurunan ekonomi ini dapat memengaruhi performa bisnis Anda.

Meskipun UMKM lebih tahan terhadap krisis ekonomi, tetap saja diperlukan langkah-langkah khusus untuk menghadapi resesi. Kita tidak tahu kapan persisnya resesi akan berakhir. Bisa jadi kondisi malah semakin buruk kapan. Lantas, harus bagaimana?

Usaha mikro lebih tahan krisis? Kok Bisa? Ingin tahu? Klik di sini!

Segera Lunasi Utang

Dalam kondisi perlambatan ekonomi, pelunasan utang-utang khususnya yang berbunga tinggi perlu menjadi prioritas. Namun, Anda perlu memilih dengan cermat, utang-utang mana yang bisa dilunasi. Jika pelunasan tersebut menyebabkan uang kas bisnis Anda habis, tentu ini bukan pilihan tepat. Anda tetap perlu menyiapkan uang untuk cadangan kas.

Dana darurat menjadi hal yang penting untuk mengantisipasi berbagai situasi. Lantas, bagaimana jika cadangan kas Anda memang terbatas? Jika kondisinya demikian, Anda bisa mengajukan restrukturisasi kredit pada pemberi pinjaman Anda. Restrukturisasi kredit merupakan upaya perbaikan yang dilakukan dalam kegiatan perkreditan terhadap debitur yang berpotensi mengalami kesulitan untuk memenuhi kewajibannya. Dengan restrukturisasi utang, Anda bisa mengajukan penurunan suku bunga kredit, perpanjangan waktu pinjaman, pengurangan tunggakan bunga dan pokok kredit, penambahan fasilitas kredit, hingga konversi kredit menjadi Penyertaan Modal Sementara.

Pangkas Pembelian Stok

Sebelum dampaknya kita rasakan, resesi terlebih dahulu terjadi di negara-negara maju. Resesi di negara maju akan menurunkan permintaan barang-barang ekspor asal Indonesia. Kondisi ini menyebabkan harga komoditas turun, sehingga daya beli masyarakat juga akan menurun. Sebagai pelaku UMKM, Anda harus melakukan langkah antisipasi.

Saat daya beli menurun, produk pun jadi lebih sulit dijual. Oleh karena itu, Anda perlu membatasi stok produk. Apalagi jika pembelian stok tersebut harus dibayar tunai. Ingat! Anda harus menyimpan sejumlah uang tunai untuk dana darurat. Sediakan stok produk-produk yang memang paling dibutuhkan oleh konsumen. Lihat kembali data penjualan Anda. Langkah-langkah ini akan mengurangi risiko barang tidak laku karena minimnya daya beli.

Evaluasi Sistem Pemasaran

Saat pendapatan bisnis menurun, banyak pebisnis yang menurunkan bujet untuk pemasaran secara drastis. Hal ini lumrah, mengingat Anda sedang melakukan penghematan agar tetap punya cadangan kas untuk operasional dan dana darurat. Penghematan memang diperlukan, tapi tidak berarti menurunkan bujet secara drastis. 

Selain penghematan, Anda juga perlu mempertimbangkan cara pemasaran yang lebih efektif. Oleh karena itu, segera lakukan evaluasi sistem pemasaran. Apakah sistem pemasaran produk Anda saat ini sudah efektif? Apakah strategi tersebut masih efektif saat terjadi resesi?

Misalnya, jika biasanya Anda menghabiskan uang untuk mencetak flyer dan brosur, alihkan dana Anda untuk promosi produk secara digital. Iklan digital dapat lebih banyak menggaet calon pembeli. Selain itu, Anda juga bisa memilih siapa calon konsumen yang benar-benar potensial. Dengan cara ini, strategi marketing Anda akan lebih tepat sasaran.

Ingin tahu lebih tentang digital marketing? Simak artikel iniMemaksimalkan Peluang Bisnis dengan 3 Prinsip Digital Marketing

Tetap Pertahankan Kualitas Produk

Tidak sedikit pebisnis yang mengurangi kualitas produk demi melakukan penghematan. Ini bukan langkah yang bijak, apalagi jika Anda sudah punya konsumen loyal. Bukan tidak mungkin, mereka akan berpindah ke kompetitor. Hal ini tentu sangat disayangkan.

Saat daya beli konsumen sedang turun, menurunkan kualitas produk agar Anda tetap mendapat laba memang terlihat menarik. Namun, strategi ini tidak bagus untuk jangka panjang. Produk berkualitas tetap akan mendapat tempat di hati konsumen. Contohnya, Apple tetap meluncurkan iPod dan MacBook di tahun 2001. Padahal saat itu, Amerika Serikat sedang mengalami resesi. Oleh karena itu, tetap pertahankan kualitas produk Anda meski kondisi ekonomi sedang kurang bersahabat.

Lantas, bagaimana jika tetap merugi karena daya beli yang rendah? Nah, Anda bisa mengombinasikan poin ini dengan poin kedua yakni batasi stok. Sediakan barang yang sering dicari oleh konsumen Anda. Pastikan kembali, produk mana yang lebih disukai konsumen? Alihkan bujet stok produk yang kurang diminati ke produk-produk best seller.

Lakukan Kolaborasi dengan UMKM Lain

Kolaborasi menjadi pilihan menarik saat resesi. Dengan berkolaborasi, Anda bisa berbagi biaya, tempat, hingga tagihan-tagihan bisnis. Selain itu, kolaborasi juga dapat meningkatkan jumlah konsumen. Misalnya Anda bisnis kopi kekinian, maka Anda bisa berkolaborasi dengan pebisnis makanan ringan. Makanan ringan merupakan pelengkap kegiatan ngopi.

Anda dan partner tersebut bisa menyewa tempat bersama. Biayanya pun bisa dibagi dua. Selain itu, Anda akan mendapat limpahan pembeli dari penikmat makanan ringan. Sebaliknya, partner Anda juga akan mendapatkan limpahan pembeli dari penikmat kopi.

Dalam kolaborasi, Anda juga perlu memperhatikan prinsip-prinsip kolaborasi. Apa saja? Pertama, kejelasan (clarity). Anda dan partner harus jelas merumuskan peran dan tanggung jawab masing-masing. Kedua, kolaborasi bisnis harus fleksibel. Meski sudah ditetapkan tugas dan tanggung jawab, Anda tetap perlu fleksibel. Misalnya, saat partner tidak bisa meeting karena ada urusan bisnis, Anda bisa menjadwalkan ulang meeting tersebut. Atau gunakan teknologi, seperti WhatsApp Call atau Skype Call.

Prinsip ketiga, keberagaman (diversity). Keberagaman tersebut bisa dijadikan sebagai keuntungan kompetitif (competitive advantage) bagi usaha Anda. Perbedaan ide, prinsip, bentuk bisnis, hingga barang/jasa yang ditawarkan, dapat membantu Anda menemukan inovasi lebih jauh untuk perkembangan bisnis. Keempat, keluarga (family). Pihak-pihak yang terlibat dalam kolaborasi perlu membangun hubungan layaknya keluarga. Dengan demikian, Anda dan partner akan saling menjaga dan membantu satu sama lain. Dengan hubungan hangat seperti dalam keluarga, Anda dan partner juga dapat lebih terbuka untuk sharing berbagai kendala dalam bisnis. Dengan banyak kepala, masalah-masalah bisnis pun lebih mudah dipecahkan.


Resesi memang membuat banyak orang khawatir, khususnya bagi pelaku bisnis. Namun, dengan mengetahui kiat-kiat menghadapinya, bisnis UMKM Anda akan bertahan. Usaha mikro memang punya keunggulan tahan krisis. Namun, tanpa langkah yang tepat usaha Anda akan tergulung resesi. Lakukan langkah-langkah di atas agar bisnis Anda terus bertahan dan semakin berkembang.

Lakukan langkah-langkah di atas agar bisnis Anda terus bertahan dan semakin berkembang.

Artikel blog ini ditulis oleh Modalku, pionir platform peer-to-peer (P2P) lending di Indonesia dan Asia Tenggara. Kami menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tanah air dan membuka opsi investasi alternatif dengan pengembalian menarik bagi pemberi pinjaman.

Modalku memenangkan Global SME Excellence Award dari ITU Telecom, salah satu badan organisasi PBB, di akhir tahun 2017. Modalku juga memenangkan Micro Enterprise Fintech Innovation Challenge yang diselenggarakan oleh United Nations Capital Development Fund (UNCDF) dan UN Pulse Lab Jakarta di tahun 2018. Visi kami adalah memberdayakan UMKM untuk bersama memajukan ekonomi Indonesia. Lihat statistik perkembangan pesat Modalku di sini.

Tertarik mengenal Modalku lebih baik? Klik di sini.

Leave a Reply