Modal Sosial: Senjata Ampuh bagi Usaha Mikro

Pernahkah Anda bertanya, mengapa warung kaki lima terus bertahan di tengah banyaknya gerai makanan modern? Apalagi banyak diskon yang ditawarkan oleh gerai-gerai tersebut? Tidak hanya itu, jumlah pelaku usaha kaki lima juga semakin bertambah, tentu persaingan makin ketat.

Keunggulan usaha mikro seperti warung kaki lima adalah harganya yang murah. Namun, keunggulan ini disaingi oleh gerai makanan modern melalui diskon besar-besaran. Tentu keberadaan usaha bermodal besar seperti gerai makanan modern ini akan mengancam keberadaan warung kaki lima. Konsumen akan cenderung memilih usaha yang bermodal besar karena dapat memberikan fasilitas, diskon, dan promosi lebih. Faktanya, usaha mikro warung kaki lima tetap menjamur. Lantas, apa yang membuat usaha mikro tetap bertahan meski modalnya terbatas?

Dalam kegiatan bisnis, modal berperan seperti fondasi. Tanpanya, mustahil bisnis dapat memperoleh keuntungan. Modal digunakan untuk menjalankan faktor-faktor produksi agar dapat menghasilkan barang/jasa. Namun, modal tidak melulu berurusan dengan produksi. Ada modal lain yang perannya juga tak kalah penting, yakni modal sosial.

Modal sosial dapat diartikan sebagai kepercayaan/trust yang dihasilkan oleh hubungan sosial untuk meraih manfaat bersama. Setiap orang pasti memiliki modal sosial, tidak terkecuali usaha mikro. Lantas, sejauh mana peran modal sosial pada usaha mikro? Benarkah modal sosial adalah senjata ampuh untuk bertahan di tengah persaingan?

Modal Sosial Sebagai Pendorong

Meskipun tidak bersifat materi, modal sosial mampu membuat kinerja bisnis lebih efisien. Mengapa? Jika antar pelaku bisnis, baik itu produsen, supplier, pedagang, hingga konsumen punya rasa saling percaya yang kuat, maka proses bisnis dapat diselesaikan dengan biaya yang lebih sedikit. Misalnya, pedagang telat membayar invoice kepada supplier. Kebetulan supplier tersebut menetapkan denda jika terjadi keterlambatan. Namun karena pedagang tersebut mengantongi modal sosial berupa trust dari supplier, biaya denda tersebut bisa saja dikurangi atau bahkan dibatalkan.

Meski perannya sangat penting, modal sosial tidak bisa berdiri sendiri. Diperlukan sinergi dengan jenis modal lainnya, yakni modal fisik dan modal manusia agar dapat menghasilkan kekuatan yang efektif. Tanpa sinergi, modal sosial tidak bisa menggerakkan bisnis.  

Modal sosial sifatnya mendorong pergerakan modal lainnya, yakni modal fisik dan modal manusia. Melalui trust, pedagang bisa berjualan tanpa modal uang, hanya karena ia kenal baik dengan seorang supplier. Dengan modal sosial pula ia bisa meningkatkan skill pengembangan bisnis. Skill merupakan salah satu modal manusia yang sangat penting. Pengusaha mikro juga bisa belajar dari pebisnis yang lebih senior. Pola seperti ini biasa disebut dengan mentoring. Mereka juga bisa saling belajar atau sharing tentang cara mengembangkan usaha dari mitra bisnis atau teman sesama pengusaha mikro. Dengan mentoring, sharing, dan trust yang kuat, usaha-usaha mikro bisa tumbuh bersama.

Tumbuh dengan Modal Sosial

Bagi pebisnis mikro, mengembangkan bisnis tentu bukan hal yang mudah. Keterbatasan modal fisik (finansial) membuat mereka sulit bersaing. Pada titik inilah, modal sosial jadi andalan untuk meningkatkan skala bisnis. Bermodalkan hubungan sosial yang erat, para pengusaha mikro bisa memperoleh bantuan modal finansial dari saudara, kerabat, dan teman. Hal ini terjadi karena banyak usaha mikro yang kesulitan mendapatkan pinjaman dari lembaga keuangan konvensional, karena tidak adanya jaminan (collateral).

Selain dengan modal sosial, usaha mikro juga bisa mendapatkan pinjaman tanpa jaminan dari Modalku. Ingin tahu lebih lanjut? Klik di sini!

Keterbatasan modal juga dialami oleh pengusaha mikro di PIK Pulogadung Jakarta. Mereka kesulitan mendapatkan modal fisik berupa uang dan barang. Namun, dengan adanya modal sosial, kebutuhan modal dapat dipenuhi dengan cara arisan, utang bahan baku, dan pembayaran di muka dari pemesan. Dengan cara ini, pengusaha mikro akan lebih mudah meningkatkan skala bisnisnya. Secara otomatis, pendapatan pengusaha mikro akan meningkat.

Modal sosial memberikan kemudahan berbisnis karena hubungan yang baik dengan keluarga, sesama pedagang, hingga pembeli. Kemudahan ini tentu akan mendorong pertumbuhan usaha mikro. Meski dengan modal fisik terbatas, pengusaha mikro dapat tumbuh bersama. Tak hanya tumbuh bersama teman sesama pengusaha mikro, tapi juga dengan supplier, mitra bisnis, dan pelanggan.   

Baca juga: “Meningkatkan Skala Bisnis dengan 5 Langkah Strategis”

Maju Bersama dalam Jaringan Usaha Mikro

Selain trust, modal sosial juga punya unsur lainnya, yakni norma dan jaringan sosial (network). Norma merupakan aturan-aturan yang disepakati dalam hubungan sosial. Dalam lingkungan pengusaha mikro, norma bisa berbentuk aturan untuk tidak merebut pelanggan, aturan untuk mengikuti harga pasar dan komitmen untuk saling membantu. Norma berperan sebagai pengikat pihak-pihak yang saling memberikan kepercayaan (trust). Ikatan-ikatan antar pihak-pihak tersebut membentuk jaringan atau network. Tentu jaringan dalam bisnis menjadi hal yang sangat penting untuk memperluas koneksi dan relasi sambil tetap mempertahankan komitmen untuk kesuksesan bersama. Lantas, sejauh mana peran jaringan dalam menumbuhkan usaha-usaha mikro?

Coba bayangkan jika para pengusaha mikro ini saling membantu dalam kerangka jaringan? Tentu mereka akan saling menguatkan satu sama lain. Dengan networking yang berlandaskan trust, dan diikat dengan norma, maka usaha mikro bisa bangkit dan maju bersama-sama.

Ketika ada salah satu anggota pedagang kelontong yang tertimpa musibah kebakaran, maka pedagang warung lainnya, akan membantu. Tidak hanya dalam bentuk uang hasil patungan, bantuan juga bisa berupa lobi kepada supplier agar tetap mau mengirimkan barangnya meski dalam bentuk utang. Dengan demikian, pedagang yang tertimpa musibah dapat berbisnis kembali.

Pedagang kaki lima dan warung kelontong adalah bukti bahwa usaha mikro mampu bertahan dengan modal sosial. Kedua jenis usaha mikro tersebut tidak serta merta tergeser karena kehadiran ritel minimarket dan gerai makanan modern. Usaha mikro seperti warung kelontong, memiliki keunggulan tersendiri. Pertama, mereka lebih dekat secara geografis. Kedua, warung kelontong juga dekat secara emosional dengan pelanggannya. Mengapa? Pelanggan dan penjual warung kelontong saling mengenal karena mereka bertetangga. Hal yang sama juga terjadi pada pedagang kaki lima. Tak jarang, diskon dan tambahan porsi pun sering diberikan pada pelanggan.

Lihat juga: “Menemukan Makna Kebangkitan Nasional Melalui Usaha Mikro”


Modal sosial menjadi senjata ampuh bagi usaha mikro untuk bertumbuh dan maju bersama. Makin banyaknya pedagang kaki lima maupun warung kelontong tidak akan mengakibatkan persaingan yang sengit, karena adanya norma yang mereka sepakati bersama. Keunggulan yang dimiliki oleh usaha mikro menjadikan pelanggan tak segan kembali, lagi dan lagi.

Artikel blog ini ditulis oleh Modalku, platform peer-to-peer (P2P) lending nomor 1 di Indonesia dan Asia Tenggara. Kami menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tanah air dan membuka opsi investasi alternatif dengan pengembalian menarik bagi pemberi pinjaman. Tertarik mengenal Modalku lebih baik? Klik di sini.

Modalku secara resmi terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Leave a Reply