Resesi Mengancam, Bagaimana Nasib Perusahaan Startup?

Beberapa waktu terakhir isu resesi semakin menyeruak. Hal ini wajar mengingat resesi membawa dampak yang signifikan. Mulai dari penurunan penghasilan hingga kehilangan pekerjaan. Sebagai fenomena penurunan ekonomi, resesi melibatkan 5 indikator yakni, PDB (Produk Domestik Bruto) riil, pendapatan, pekerjaan, manufaktur, dan penjualan ritel. National Bureau of Economic Research (NBER) mendefinisikan resesi sebagai periode jatuhnya aktivitas ekonomi, tersebut di seluruh ekonomi dan terjadi selama beberapa bulan.

Ingin tahu lebih lanjut tentang resesi? Lihat artikel ini:  “Ada Resesi? Jangan Khawatir! Lakukan 5 Langkah Ini!” dan “Kiat Menghadapi Resesi untuk UMKM”

Tak hanya perekonomian masyarakat, resesi juga mengancam nasib berbagai perusahaan, termasuk perusahaan startup. Perusahaan yang sudah established saja was-was terhadap resesi. Apalagi perusahaan startup yang baru merintis dan belum meraih laba. Lantas bagaimana nasib perusahaan startup nantinya?

Mulai Tetapkan Model Bisnis Berkelanjutan

Sebagai perusahaan yang baru dirintis, model bisnis dalam startup seringkali masih dinamis. Bisa berubah kapan saja sesuai kondisi. Hal ini wajar dalam sebuah startup. Oleh karena itu, startup membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk riset, tes produk, hingga menemukan product-market fit yang tepat. Biasanya dana pengembangan startup didapatkan dari Investor dan Venture Capital (VC).

Masalahnya, saat resesi banyak investor yang lebih cenderung menahan uangnya. Selain itu, ada kemungkinan aliran permodalan akan menurun dan sudden stop fund raising. Jika ini terjadi, startup akan goyah bahkan runtuh. Oleh karena itu, untuk menanggulangi hal ini, startup perlu menetapkan model bisnis yang berkelanjutan dan menguntungkan. Setidaknya saat resesi, startup bisa bertahan tanpa bergantung pada suntikan dana dari investor.

Fokus Tingkatkan Laba

Dengan adanya kemungkinan-kemungkinan akibat dampak resesi, sudah sepatutnya perusahaan startup mulai fokus tingkatkan laba. Pertimbangan untung rugi harus menjadi prioritas. Tentu ini bisa dilakukan setelah model bisnis sudah dipastikan.

Pentingnya mempertimbangkan profit and loss karena adanya resesi juga diungkapkan oleh Chatib Basri, ekonom sekaligus Menteri Keuangan Republik Indonesia periode 2013-2014. Salah satu yang ia soroti adalah startup e-commerce. Menurutnya, kalau resesi terjadi, e-commerce sudah saatnya memperhatikan profit and loss. Jika tidak, startup akan terus-menerus bergantung pada fund raising.

Lihat juga: “Modalku Menyambut Penetapan Resmi Pakar Ekonomi Dr. Muhamad Chatib Basri sebagai Penasihat”

Kemungkinan buruknya adalah startup akan gulung tikar. Dampaknya bukan hanya pada startup itu sendiri, tapi juga bagi ekosistem ekonomi digital. Hal ini juga dapat mematikan sektor-sektor ekonomi kreatif. Selain itu, orang-orang yang menggantungkan mata pencaharian pada perusahaan rintisan tersebut. Kita tidak bisa bayangkan jika tiba-tiba startup unicorn yang punya jutaan mitra tukang ojek online, taksi online hingga penjual makanan dan minuman, tiba-tiba berhenti beroperasi. Ada berapa juta pengangguran yang muncul? Tentu ini tidak boleh terjadi, bukan?

Kurangi “Bakar Uang”

Aksi “bakar uang” sering dilakukan oleh banyak startup sebagai bentuk kampanye dan promosi. Hal ini dilakukan untuk menarik minat konsumen. Misalnya saja pemberikan promo, cashback, dan diskon yang dilakukan oleh Gojek dan Grab. Tidak hanya sebulan atau dua bulan, aksi bakar uang ini juga terjadi menerus-menerus.

Sebenarnya, ‘’bakar uang” adalah hal yang wajar dalam ekonomi digital. “Bakar uang” akan meningkatkan pengguna secara signifikan. Dengan meningkatnya pengguna, startup akan punya data pengguna lebih besar. Inilah yang menjadi modal untuk meningkatkan layanannya.

Lantas, apakah tindakan “bakar uang” masih bisa dilakukan saat resesi? Meskipun “bakar uang” masih efektif meningkatkan pengguna, hal ini tidak bisa dilakukan terus menerus. Apalagi di saat krisis, saat aliran modal tak selancar saat ekonomi sedang sehat. Membangun model bisnis yang lebih sustainable menjadi pilihan yang lebih penting, daripada menggelontorkan uang agar terus tumbuh, tumbuh, dan tumbuh.

Belajar pada Kasus WeWork dan BukaLapak

Startup layanan co-working space WeWork menjadi menjadi contoh startup  yang berpotensi kehabisan uang pada kuartal II-2020 dan bisa saja gulung tikar setelahnya. Analis Bernstein Chris Lane dan Samuel Chen melaporkan bahwa pada akhir Juni 2019 WeWork memiliki uang tunai US$2,5 miliar. Jika perusahaan melanjut membakar uang seperti sekarang ini, sebesar US$700 juta (Rp 9,8 triliun) per kuartal, perusahaan akan kehabisan uang pada pertengahan kuartal II-2020.

Disinyalir, WeWork terganjal masalah karena tindakan “bakar uang” yang terlalu masif, sehingga perusahaan menghadapi kesulitan uang tunai. Selain itu, ada juga faktor lainnya, yakni gaya hidup pendiri Adam Neumann yang bermewah-mewahan. Akibatnya, WeWork terpaksa membatalkan rencana IPO (Initial Public Offering) karena para investor justru mempertanyakan tata kelola perusahaan.

Pembatalan ini mengakibatkan WeWork benar-benar tidak punya pasokan uang tunai dan terancam kehabisan uang. Akhirnya manejemen pun memutuskan untuk menjual bisnis yang bukan core perusahaan. Tidak hanya itu, WeWork merencanakan pembatasan hubungan kerja (PHK) antara 2.000 hingga 15.000 karyawan. Namun, rencana ini batal karena WeWork tak punya dana untuk membayar pesangon karyawan. Meski akhirnya masalah WeWork selesai karena adanya suntikan dana SoftBank, masalah “bakar uang” yang berlebihan ini patut menjadi perhatian agar tidak terulang di kemudian hari. Apalagi di saat resesi atau krisis ekonomi. Jangankan perusahaan, untuk keuangan pribadi pun kita harus hati-hati saat mengeluarkan uang saat ekonomi sedang tidak pasti.

Di tanah air, startup e-commerce Bukalapak juga pernah mengalami PHK karyawan hingga seratus orang. Meski masih jauh dari kata bangkrut, langkah yang diambil Bukalapak patut diperhatikan. Mengapa? Efisiensi karyawan yang dilakukan startup tersebut merupakan bagian dari langkah untuk menjadi e-commerce yang menghasilkan keuntungan yang optimal.

Chief of Strategy Officer of Bukalapak Teddy Oetomo mengatakan bahwa Bukalapak telah melangkah ke tahap yang lebih jauh tak hanya sekedar pertumbuhan GMV (Gross Merchandise Value). Walaupun pertumbuhan GMV adalah indikator yang penting bagi semua e-commerce, Bukalapak telah melangkah ke tahap yang lebih jauh, yakni menghasilkan kenaikan dalam monetisasi, memperkuat profitabilitas.

Resesi dan krisis ekonomi diprediksi akan terjadi tahun 2020-2021 mendatang. Bagi startup, harus ada langkah-langkah yang diambil. Menentukan model bisnis, mengurangi “bakar uang”, fokus meningkatkan laba, hingga melakukan efisiensi adalah beberapa diantaranya. Dengan cara-cara tersebut, niscaya startup mampu menghadapi berbagai kondisi ekonomi. Dengan demikian, revolusi industri 4.0 juga bisa lebih mudah diwujudkan.


Artikel blog ini ditulis oleh Modalku, pionir platform peer-to-peer (P2P) lending di Indonesia dan Asia Tenggara. Kami menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tanah air dan membuka opsi investasi alternatif dengan pengembalian menarik bagi pemberi pinjaman.

Modalku memenangkan Global SME Excellence Award dari ITU Telecom, salah satu badan organisasi PBB, di akhir tahun 2017. Modalku juga memenangkan Micro Enterprise Fintech Innovation Challenge yang diselenggarakan oleh United Nations Capital Development Fund (UNCDF) dan UN Pulse Lab Jakarta di tahun 2018. Visi kami adalah memberdayakan UMKM untuk bersama memajukan ekonomi Indonesia. Lihat statistik perkembangan pesat Modalku di sini.

Tertarik mengenal Modalku lebih baik? Klik di sini.

Modalku secara resmi berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Leave a Reply