2

Inilah Cara Mengatur Keuangan Pribadi Berdasarkan Tingkat Kerapian

Bagi institusi maupun perusahaan, mengatur keuangan bukan hal sulit karena semuanya diatur dengan standar tertentu. Semua pemasukan, pengeluaran, utang, hingga aset dicatat dengan rapi. Selain itu, setiap perusahaan juga punya akuntan yang mengurus keuangan secara profesional. Dengan demikian, arus kas dalam perusahaan bisa terkontrol.

Namun, bagaimana dengan mengatur keuangan pribadi? Tentu tidak semua punya background akuntansi, sehingga banyak yang memiliki masalah finansial karena salah mengelola keuangan. Hal ini menandakan bahwa mengelola keuangan pribadi bukan perkara mudah.

Meski tidak punya background akuntansi, bukan berarti kita tidak bisa mengelola keuangan pribadi dengan baik. Kita bisa belajar dari internet, financial planner atau pengalaman orang terdekat. Selain itu, mengatur keuangan pribadi juga bisa Anda sesuaikan dengan tingkat kerapian Anda. Bagaimana contohnya?

Lihat juga: “Siapa Bilang Mengelola Keuangan Pribadi Itu Sulit?”

Bagi yang Gaptek tapi Well-Organized

Meski sudah masuk dalam era digital, orang yang masuk dalam tipe ini masih lebih suka mengatur keuangan secara konvensional. Gaptek atau gagap teknologi bukannya anti teknologi, tapi kehadiran teknologi sangat minim dalam pengaturan keuangannya. Misalnya dalam mencatat arus kas, ia masih menggunakan buku catatan. Padahal saat ini sudah ada berbagai platform, software, hingga aplikasi pencatat keuangan.  

Tapi jangan salah, cara mencatat secara konvensional ternyata punya keunggulan tersendiri. Penelitian dari Princeton University dan University of California menyatakan bahwa mahasiswa yang mencatat di atas kertas memperoleh lebih banyak ilmu daripada teman-temannya yang mencatat dengan laptop.

Fakta tersebut bisa kita berlakukan juga untuk pencatatan keuangan pribadi. Dengan mencatat arus kas di kertas, Anda akan lebih memahami detail pemasukan dan pengeluaran. Selain itu, setiap angka yang tertulis pada kolom pengeluaran juga lebih diresapi, sehingga Anda akan lebih berhati-hati saat membelanjakan uang. 

Pada dasarnya orang yang masuk dalam kategori ini adalah seorang perencana. Baginya, tak hanya arus kas yang harus dicatat, tapi juga berbagai hal yang menurutnya penting. Misalnya, saat mau liburan, buku catatannya akan berubah menjadi itinerary. Mulai jadwal kunjungan, daftar objek wisata, hingga budgeting ditulis dengan sangat rinci. Mereka juga akan mematuhi semua yang tertulis dalam buku catatannya. 

Bagi yang Tech-Savvy tapi Ogah Diatur

Berbeda dengan orang gaptek, teknologi menjadi gaya hidup seorang tech-savvy. Meski menyukai teknologi, orang tipe ini tidak terlalu bergantung pada semua yang disediakan oleh aplikasi. Mereka ingin agar format pencatatan keuangan diatur sendiri dan tidak mengikuti standar keuangan yang umum beredar (yang diatur aplikasi/platform).

Orang yang masuk kategori ini umumnya suka dengan kerapian, namun punya standar kerapian sendiri. Hal ini bisa disebabkan oleh pola penghasilan dan pengeluaran tidak cocok dengan format aplikasi. Atau karena format yang dirasa kurang nyaman dan sulit dipahami. Membuat format pencatatan sendiri tentu bukan masalah, selama arus kas pribadi bisa dilacak dan dipahami dengan baik.

Biasanya, pencatatan keuangan dengan format sendiri menggunakan software yang sudah cukup populer yakni Google Spreadsheet. Software ini mirip seperti Microsoft Excel, hanya saja bisa diakses secara online. Pencatatan keuangan dengan software ini tidak hanya cocok untuk mengatur keuangan pribadi, tapi juga cocok untuk keuangan rumah tangga. 

Anda dapat membagikan akses Google Spreadsheet pada pasangan. Dengan demikian, arus kas bisa dikontrol bersama-sama. Pengeluaran dan pemasukan pun bisa dilakukan secara up-to-date. Misalnya Anda berada di luar kota dan berbelanja pajangan, maka Anda bisa langsung meng-update pembelian tersebut pada Google Spreadsheet. Pasangan Anda pun juga langsung bisa memantau pengeluaran yang Anda lakukan.

Metode ini lebih nyaman dengan menggunakan perangkat laptop atau PC (personal computer) ketimbang perangkat mobile, seperti smartphone atau tablet. Mengedit dan memasukkan data pada Google Spreadsheet kurang user friendly rumi jika menggunakan perangkat mobile. Meski demikian, cara ini lebih rapi dan jauh dari risiko salah input karena layar PC/laptop lebih besar. Angka-angka akan lebih mudah terlihat di layar laptop maupun PC.

Lihat juga: “Meraih Kebahagiaan Pernikahan dengan Menyusun Keuangan Rumah Tangga”

Bagi yang Tech-Savvy dan Ogah Ribet

Meski sama-sama menggunakan teknologi, orang yang masuk pada kategori ini tidak mau repot dengan pencatatan pemasukan dan pengeluarannya. Mereka lebih suka pakai aplikasi yang sudah tersedia, tanpa perlu merancang format pencatatannya. Orang-orang ini juga lebih suka pakai perangkat mobile ketimbang PC atau laptop.

Hanya bermodalkan smartphone, pengeluaran yang baru dilakukan bisa langsung dicatat. Misalnya, setelah Anda selesai nongkrong, tagihan kopi, kentang goreng, dan croissant pada bill pun bisa langsung dicatat. Tidak perlu menunggu sampai rumah atau kantor, aplikasi pencatat keuangan ini mudah diakses di mana saja dan kapan saja.

Tidak hanya pengeluaran, pemasukan pun bisa langsung dicatat dengan lebih mudah. Setelah mendapat gaji, langsung catat sebagai pemasukan. Begitu juga saat mendapat bonus tahunan atau uang lembur.

Cara ini cocok bagi Anda yang baru belajar mengatur keuangan. Tanpa perlu mencatat dengan kertas, laptop atau PC Anda hanya perlu meng-input semua transaksi dalam aplikasi smartphone. Baik itu pemasukan, pengeluaran, bahkan utang. Bagi Anda yang digital-savvy, suka belanja online, dan sering melakukan transaksi non tunai, cara ini juga menarik untuk dicoba.

Segera unduh aplikasi pencatat keuangan pada smartphone Anda! Pilih yang menurut Anda paling mudah dipahami. Meski demikian, yang paling penting adalah disiplin. Meski sudah dicatat secara up-to-date pada smartphone, tanpa kedisiplinan soal pengeluaran, kesehatan finansial Anda tetap tidak akan terkontrol.


Apapun cara mengatur keuangannya, mencatat adalah kunci. Baik dengan kertas, Google Spreadsheet, ataupun aplikasi mobile, lakukan pencatatan secara rutin. Tanpa mencatat pengeluaran dengan disiplin, arus kas Anda terancam tidak terkendali dan sulit dilacak. Mencatat adalah langkah awal untuk terhindar dari berbagai bencana keuangan.

Artikel blog ini ditulis oleh Modalku, pionir platform peer-to-peer (P2P) lending di Indonesia dan Asia Tenggara. Kami menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tanah air dan membuka opsi investasi alternatif dengan pengembalian menarik bagi pemberi pinjaman.

Modalku memenangkan Global SME Excellence Award dari ITU Telecom, salah satu badan organisasi PBB, di akhir tahun 2017. Modalku juga memenangkan Micro Enterprise Fintech Innovation Challenge yang diselenggarakan oleh United Nations Capital Development Fund (UNCDF) dan UN Pulse Lab Jakarta di tahun 2018. Visi kami adalah memberdayakan UMKM untuk bersama memajukan ekonomi Indonesia. Lihat statistik perkembangan pesat Modalku di sini.

Tertarik mengenal Modalku lebih baik? Klik di sini.

Modalku secara resmi terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Comments 2

    1. Post
      Author

      Sama-sama. Terima kasih juga sudah menyimak artikel kami. Semoga konten kami bisa terus memberikan manfaat.

Leave a Reply