Mencegah Kemunculan Generasi Sandwich Baru

Beberapa dari Anda mungkin masih asing dengan istilah generasi sandwich. Istilah ini merujuk pada orang yang terhimpit secara finansial karena harus mencukupi kebutuhan anak-anak dan orang tuanya. Di satu sisi, menjadi generasi sandwich memiliki kebahagiaan tersendiri karena mereka mampu menghidupi dua generasi sekaligus. Namun, di tengah kondisi ekonomi yang makin kompleks, menjadi generasi sandwich tentu akan semakin berat.

Pada banyak kasus, munculnya generasi sandwich disebabkan oleh minimnya kemampuan seseorang dalam mengatur keuangan. Apabila hal tersebut terus-menerus terjadi, maka keluarga Anda akan menghadapi masalah finansial yang serius. Itulah mengapa generasi sandwich harus diputus.

Maksud “diputus” di sini bukan berhenti memberi dukungan finansial kepada orang tua, tetapi menata kembali kondisi keuangan Anda dengan menyiapkan dana pensiun. Dengan begitu, anak-anak Anda di kemudian hari tidak harus mengalami hal yang sama. Jadi, mereka bisa fokus menghidupi keluarga dan anak-anak mereka saja.

Memutus generasi sandwich memang tidak mudah. Selain mengubah pola pikir, tindakan nyata juga sangat diperlukan. Untuk itu, ketahui beberapa tindakan yang bisa Anda lakukan untuk mencegah munculnya generasi sandwich baru.

Lebih lanjut: “Mengapa Generasi Sandwich Muncul?”

Hindari Investasi Bodong

Di tengah kondisi hidup dan keuangan yang penuh ketidakpastian, terkadang pikiran seseorang mudah dipengaruhi oleh orang lain. Pada saat-saat seperti inilah biasanya orang akan menawarkan investasi pada Anda. Berinvestasi tidaklah buruk, namun Anda memilih perusahaan investasi yang aman, terpercaya, dan sudah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Bila anda salah berinvestasi alias investasi bodong, alih-alih akan mendapat keuntungan, Anda justru makin merugi.

Untuk itulah Anda perlu menghindari investasi bodong dengan mengenali ciri-cirinya. Menurut OJK, ada beberapa ciri dari investasi bodong, antara lain:

  • Investasi bodong biasanya mengiming-imingi return yang tinggi
  • Menawarkan jaminan bebas risiko
  • Menjanjikan cashback besar untuk tiap perekrutan nasabah baru
  • Menjanjikan penarikan dana yang mudah dan cepat
  • Investasi bodong juga tidak memiliki badan hukum yang jelas.

Per periode Januari hingga September 2018, OJK telah menghentikan penyelenggara investasi ilegal sebanyak 108 entitas. Mengutip dari Tempo.co, Direktorat Kebijakan dan Dukungan Penyidikan Departemen Penyidikan Sektor Jasa Keuangan OJK menyebutkan ada 1.314.600 korban investasi bodong maupun sengketa industri selama 2016-2017 saja. Tentu Anda tidak ingin menjadi korban berikutnya, bukan?

Lebih lanjut: “Membedakan Investasi Bodong dengan Investasi Terpercaya”

Buat Rencana Kegiatan Pensiun

Kemunculan generasi sandwich juga dipicu oleh perencanaan biaya hidup dan kegiatan setelah pensiun yang asal-asalan. Hal ini tentu bisa membuat keuangan semakin amburadul. Karena itulah Anda perlu merancang strategi dan kegiatan di masa pensiun. Tak ketinggalan tabungan pensiun untuk memenuhi kebutuhan hidup di hari senja.

Anda bisa melakukan bisnis sampingan yang dapat menambah penghasilan. Melalui cara ini, Anda tidak akan terlalu memberatkan anak-anak di kemudian hari, sehingga mereka bisa lebih fokus pada keluarganya. Selain berbisnis, Anda juga bisa mulai berinvestasi sebagai bekal di masa depan.

Lebih lanjut: “Merencanakan Bisnis Sampingan, Perlu atau Tidak?” dan “Memilih Instrumen Investasi Sesuai Kebutuhan”

Hitung Biaya Hidup Saat Pensiun

Biaya hidup dari tahun ke tahun semakin meningkat, terlebih lagi ketika Anda memasuki masa tua. Karena faktor usia, akan banyak kebutuhan untuk biaya kesehatan dan sebagainya. Setelah menghitung pengeluaran, tidak ada salahnya juga berinvestasi melalui asuransi kesehatan untuk meringankan beban saat sakit.

Selain itu, selagi Anda mampu, sebelum pensiun sebaiknya segera lunasi seluruh utang yang ada. Jika Anda melunasi utang saat pensiun, besar kemungkinan Anda akan kesulitan sehingga terpaksa harus mengandalkan anak.

Lebih lanjut: “Kiat-kiat Mempersiapkan Dana Pensiun”

Hindari Sindrom FoMO (Fear of Missing Out)

Terakhir yang perlu Anda lakukan adalah menghindari sindrom FoMO. Semakin pesatnya perkembangan teknologi informasi terutama media sosial, membuat siapa saja menjadi tak ingin ketinggalan informasi. Termasuk produk-produk keluaran terbaru dari sebuah perusahaan seperti pakaian, kosmetik, dan sebagainya.

Agar tidak dibilang ketinggalan zaman, Anda pun akhirnya membeli produk-produk mahal yang sebetulnya tidak terlalu dibutuhkan. Alhasil, Anda pun mengabaikan kebutuhan dasar lainnya. Bahkan apabila uang tidak mencukupi, terkadang bisa saja Anda mengambil uang tabungan yang sudah dipersiapkan untuk keperluan lain. Jika ini diteruskan, maka bukan tidak mungkin keuangan Anda semakin berantakan.


Kini, setelah membaca ulasan di atas, saatnya Anda berusaha untuk menjadi pribadi yang tangguh dan bijak dalam mengelola keuangan keluarga. Dengan begitu, Anda dapat mencegah kemunculan generasi sandwich baru. Semoga bermanfaat!

Artikel blog ini ditulis oleh Modalku, platform peer-to-peer (P2P) lending nomor 1 di Indonesia. Kami menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tanah air dan membuka opsi investasi alternatif dengan pengembalian menarik bagi pemberi pinjaman. Tertarik mengenal Modalku lebih baik? Klik di sini.

Leave a Reply