Tingkatkan Inklusi Keuangan, Wujudkan Emansipasi Wanita!

56 tahun telah berlalu sejak Presiden Soekarno menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahirnya sebagai hari besar nasional. Sejak saat itu, perempuan sudah mendapatkan lebih banyak kesempatan di bidang bisnis dan keuangan. Berbagai posisi strategis di pemerintahan maupun dunia binsis juga diduduki oleh perempuan, mulai dari Menteri Keuangan Sri Mulyani, Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, Diajeng Lestari founder e-commerce HijUp, hingga Merry Riana, pengusaha dan motivator. Meningkatnya peran perempuan di masyarakat merupakan contoh emansipasi wanita yang paling tampak.

Bank Dunia mengungkapkan terdapat empat jenis layanan jasa keuangan yang dianggap vital bagi kehidupan masyarakat, yaitu layanan penyimpanan dana, layanan kredit, layanan sistem pembayaran, dan asuransi. Namun, data statistik inklusi keuangan di Indonesia yang dirilis oleh Bappenas menunjukkan, perempuan (68%) lebih banyak menabung daripada laki-laki (50%), tetapi perempuan lebih memilih menabung secara konvensional, sedangkan laki-laki cenderung menggunakan jasa keuangan resmi. Padahal, peningkatan inklusi keuangan pada perempuan akan turut membantu pertumbuhan ekonomi nasional. Mengapa demikian? Simak ulasan di bawah ini untuk tahu jawabannya!

Kenyataan yang Dihadapi oleh Perempuan Berekonomi Lemah

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), angka Kemiskinan di Indonesia menurun menjadi 10,19% pada 2017 dari 10,86% pada 2016. Artinya, terdapat 26 juta penduduk Indonesia yang hidup dalam kemiskinan. Jika dilihat dari kategori gender, tingkat kemiskinan perempuan relatif lebih tinggi hampir di semua tingkatan umur. Hal tersebut tercermin di seluruh provinsi di Indonesia. Rendahnya partisipasi perempuan dalam ketenagakerjaan merupakan sebab dari situasi tersebut. Pasalnya, diskriminasi terhadap perempuan di tempat kerja masih menjadi permasalahan di Indonesia.

Mayoritas perempuan yang hidup dalam kemiskinan di Indonesia adalah perempuan yang tidak mendapatkan kesempatan pendidikan yang optimal. Sehingga, sebagian besar dari perempuan-perempuan ini adalah ibu rumah tangga yang kehidupannya bergantung pada pendapatan suami yang juga tidak seberapa. Untuk uang tambahan, biasanya para perempuan ini berjualan atau menjadi buruh rumahan. Dalam mengatur keuangan, perempuan berekonomi lemah menabung dan meminjam uang secara konvensional. Para perempuan ini meminjam uang dengan mengandalkan arisan serta meminjam dengan tetangga, kerabat dan teman.

Sebagai investor, perempuan memiliki gaya uniknya sendiri, lho! Telusuri lebih lanjut di sini!

Jangankan Mengenal Karakteristik Obligasi, Mengakses Produk Keuangan Lain Pun Masih Sulit

Survei Bappenas tentang inklusi keuangan dan gender menunjukkan bahwa masih banyak perempuan berekonomi lemah yang tidak memiliki akses untuk membuka rekening di Bank. Hal ini dipicu oleh keterjangkauan tempat tinggal dengan layanan bank hingga kurangnya edukasi terhadap layanan keuangan formal. Padahal, perempuan-perempuan ini berperan dalam mengatur arus pendapatan dan pengeluaran keluarga karena lebih pandai dan telaten dalam mencatat arus keuangan keluarga. Karena rendahnya pendapatan, survei juga menunjukkan bahwa para perempuan ini cenderung berfokus pada kebutuhan berjangka jangka pendek, seperti pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Faktanya, terdapat banyak produk-produk keuangan yang dapat membantu perekonomian masyarakat berekonomi lemah. Salah satunya adalah program Tabunganku yang merupakan produk tabungan yang dirancang untuk masyarakat kurang mampu dan didukung oleh sejumlah bank. Selain itu, terdapat pula produk asuransi yang preminya hanya Rp25.000 setiap bulan. Produk-produk ini dirancang untuk meningkatkan perekonomian masyarakat kurang mampu, namun pada kenyataannya masih belum mampu menjangkau target secara efektif.

Inklusi Keuangan Membantu Perempuan Pelaku UMKM

Data Bank Indonesia menyebutkan bahwa jumlah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pada tahun 2018 mencapai 57,83 juta dan sebanyak 60% dikelola oleh perempuan. Statistik ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran yang besar dalam menunjang perekonomian nasional, mengingat UMKM menyumbang 60% dalam pertumbuhan ekonomi negara. Sebuah laporan McKinsey Institute menyatakan bahwa PDB global pada tahun 2025 dapat mencapai angka US$12 triliun jika pemberdayaan perempuan dilakukan secara merata di seluruh dunia. Dalam skala yang lebih kecil, menurut PBB, perempuan dunia yang bekerja akan memberikan 90% penghasilannya untuk keluarga mereka. Tingginya perhatian perempuan dalam mensejahterakan keluarganya akan berdampak baik bagi kualitas hidup dan pendidikan anak-anak.

Inklusi keuangan sangat berperan dalam kestabilan ekonomi para perempuan pelaku UMKM. Pasalnya, salah satu tantangan yang paling sering dihadapi oleh para pelaku UMKM adalah kesulitan untuk mendapatkan modal usaha. Contoh nyatanya dapat dilihat dari kisah Bu Sri Cahyaningsih, salah satu peminjam di Modalku. Sempat mengalami kesulitan dana usaha, kini ia  sukses merintis usaha Pet Shop setelah mendapatkan pinjaman dari crowdfunding di Modalku. Kisah Bu Sri Cahyaningsih menunjukkan bahwa inklusi keuangan juga dapat membantu mewujudkan mimpi-mimpi perempuan pelaku UMKM lainnya untuk mengembangkan usahanya.

Peran Perempuan dalam Meningkatkan Inklusi Keuangan

Membangun inklusi keuangan secara makro baru akan berhasil jika juga dilakukan secara mikro. Artinya, peningkatan inklusi keuangan dapat dimulai sedini mungkin dari entitas keluarga. Dalam berkeluarga, masing-masing laki-laki dan perempuan memang memiliki tanggung jawab yang setara dalam mengurus anak. Namun, pada keluarga dengan low income, perempuan umumnya adalah figur ibu rumah tangga yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan anak-anak. Maka, meningkatnya inklusi keuangan pada perempuan secara otomatis akan membantu meningkatkan tingkat literasi keuangan terhadap generasi selanjutnya sedini mungkin. 


Berjayanya ekonomi perempuan adalah contoh emansipasi wanita yang berhasil. Peningkatan inklusi keuangan merupakan salah satu cara untuk mewujudkannya. Langkah pertama yang harus dilakukan oleh pemerintah dan lembaga-lembaga terkait adalah memahami kehidupan keuangan, kebutuhan, dan hambatan perempuan dalam mengakses layanan keuangan. Sementara itu, perempuan juga harus proaktif memperkaya pengetahuannya tentang keuangan dan mulai memanfaatkan produk-produk keuangan yang telah tersedia demi terwujudnya kesejahteraan ekonomi.

Selamat Hari Kartini ke-56 untuk seluruh perempuan di Indonesia!

Meragukan pentingnya peran perempuan di dunia finansial? Artikel ini punya jawaban untuk Anda!

Anda juga dapat mengakses informasi tentang tips-tips keuangan, gaya hidup, produk keuangan, hingga alternatif investasi di blog.modalku.co.id. Awali kebebasan finansial dengan memperkaya literasi keuangan bersama kami. Ayo jelajahi blog kami!

Artikel blog ini ditulis oleh Modalku, pionir platform peer-to-peer (P2P) lending di Indonesia dan Asia Tenggara. Kami menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tanah air dan membuka opsi investasi alternatif dengan bunga menarik bagi pemberi pinjaman.

Modalku memenangkan Global SME Excellence Award dari ITU Telecom, salah satu badan organisasi PBB, di akhir tahun 2017. Modalku juga memenangkan Micro Enterprise Fintech Innovation Challenge yang diselenggarakan oleh United Nations Capital Development Fund (UNCDF) dan UN Pulse Lab Jakarta di tahun 2018. Visi kami adalah memberdayakan UMKM untuk bersama memajukan ekonomi Indonesia. Lihat statistik perkembangan pesat Modalku di sini.

Tertarik mengenal Modalku lebih baik? Klik di sini.

Modalku secara resmi berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Leave a Reply