4 Kesalahan Fresh Graduate dalam Mengelola Gaji

Masuk dunia kerja adalah tahap hidup baru yang menarik sekaligus bikin gugup bagi para fresh graduate. Setelah sibuk mengerjakan tugas kuliah, kini harus berjibaku dengan task-task dunia kerja. Tidak hanya itu, fresh graduate juga dituntut untuk mampu mengelola keuangan secara mandiri. Meski terlihat mudah, masih banyak fresh graduate yang melakukan kesalahan dalam mengelola gaji. Apa saja kesalahannya? 

Tidak Punya Rencana Keuangan

Inilah kesalahan pertama yang dilakukan fresh graduate. Saat pertama kali menerima gaji, mereka benar-benar tidak punya rencana keuangan. Sebenarnya cukup dimaklumkan untuk membeli satu atau dua barang yang diidam-idamkan dengan gaji pertama. Selain karena memang ingin, benda tersebut jadi memiliki sentimental value – bukti bahwa sekarang si pembeli sudah mandiri secara keuangan. Selama batas wajar tidak apa-apa. Asal jangan terjebak euforia gaji pertama. 

Euforia gaji pertama membentuk perilaku yang membenarkan tindakan menghabiskan seluruh gaji untuk kesenangan. Fakta tersebut diamini oleh Budi Raharjo, perencana finansial dari One Shildt Financial Planning. Saldo Anda akan selalu habis karena Anda selalu punya pembenaran untuk menghabiskan uang hasil keringat sendiri. Bukan tidak mungkin, euforia ini akan berlanjut tidak hanya di bulan pertama, tapi bulan-bulan berikutnya. Oleh karena itu, seorang fresh graduate harus punya rencana keuangan, agar gaji tidak menguap begitu saja.

Bagaikan sebuah perjalanan, rencana keuangan adalah petanya. Tanpa peta, Anda akan kesulitan mencapai tujuan finansial. Milikilah “peta finansial” saat mulai menerima penghasilan sendiri. Langkah awalnya, tetapkan tujuan finansial terlebih dahulu. Apa yang ingin Anda miliki dalam kurun waktu 5 tahun ke depan? Misalnya, Anda ingin punya rumah. Maka Anda perlu menabung untuk membayar uang muka. Dengan tujuan finansial, Anda akan punya motivasi yang kuat untuk selalu disiplin dalam menabung.

Perencanaan keuangan tidak hanya terkait dengan barang yang ingin Anda miliki, tapi juga tentang kelancaran arus kas pribadi, perlindungan kesehatan, asuransi jiwa, hingga dana pensiun. Anggaran untuk berbagai kebutuhan-kebutuhan tersebut juga harus dialokasikan tanpa mengganggu arus kas Anda. 

Mulailah belajar cara mengelola keuangan dari berbagai sumber. Anda bisa belajar mengelola keuangan pribadi dari membaca artikel, menggunakan aplikasi financial planning, hingga berkonsultasi dengan financial planner. Dengan rencana keuangan yang matang, tujuan keuangan Anda akan lebih mudah tercapai.

Lebih lanjut: “Financial Planner Semakin Dibutuhkan di Era Milenial”

Malas Menabung

Malas menabung menjadi kesalahan fresh graduate berikutnya. Padahal, menabung memiliki fungsi yang sangat penting dalam menjamin kesejahteraan Anda di masa depan. 

“Ah, menabungnya nanti saja”, “Bulan depan aja ah nabungnya!”, “Nabungnya ntar aja, sekarang kita nikmatin dulu”, “Masih ada uang di rekening, pake dulu aja”. Pikiran-pikiran seperti ini sering muncul di benak fresh graduate.  Hati-hati, prinsip tersebut dapat menjerumuskan Anda dalam siklus dari gaji ke gaji.  

Dengan tidak adanya tabungan, Anda akan sulit meraih impian. Misalnya ingin liburan ke Eropa. Tanpa uang yang cukup di tabungan, visa tidak akan diberikan pada Anda. Atau ingin membeli kendaraan, tentu butuh uang dalam jumlah besar. Meski bisa kredit, tentu masih perlu uang muka yang tidak sedikit bukan?

Tabungan merupakan tahap pertama menjalankan rencana keuangan. Bila Anda serius ingin punya rumah saat menentukan tujuan finansial misalnya, mengumpulkan dana dimulai dari tabungan. Dari dana tabungan yang mencukupi, Anda bisa mulai berinvestasi untuk mempercepat jumlah uang yang dibutuhkan demi mencapai target keuangan.

Tidak punya tabungan juga akan menyulitkan Anda saat menghadapi kondisi darurat. Misalnya, rumah yang tertimpa pohon, mobil rusak hingga smartphone kecopetan. Semua kebutuhan tersebut harus segera dipenuhi. Tanpa tabungan, bagaimana Anda bisa memenuhi semua kebutuhan tersebut?

Berinvestasi dari Sisa Konsumsi

Kesalahan ini masih berkaitan dengan poin sebelumnya. Berinvestasi dari sisa konsumsi terjadi karena tidak adanya rencana keuangan. Dalam rencana keuangan, alokasi bujet untuk investasi harus jadi prioritas. Jika tidak, maka uang bisa habis begitu saja. Gaji bisa berubah wujud menjadi baju, tas, gadget, dan barang lainnya hanya dalam sekejap.

Perlu disadari bahwa kegiatan konsumsi tidak ada habisnya. Penjual tidak henti-hentinya beriklan agar Anda membeli barangnya. Namun, haruskah Anda selalu membeli produk tersebut? Tentu tidak bukan. Anda perlu membatasi kegiatan konsumsi dengan selalu memprioritaskan kebutuhan daripada keinginan. Misalnya, Anda ingin membeli jam tangan namun smartphone Anda rusak dan perlu ganti LCD. Sebaiknya fokuskan untuk memperbaiki smartphone daripada membeli jam tangan. Dengan smartphone, tak hanya komunikasi, pekerjaan Anda pun dapat semakin lancar.

Agar gaji tidak cepat “berubah wujud”, Anda perlu menabung dan berinvestasi sesaat setelah menerima gaji. Anda bisa menggunakan metode 50/30/20. Alokasi 50% pendapatan untuk kebutuhan prioritas seperti membayar tagihan, biaya makanan, sewa tempat tinggal dan sebagainya. Sedangkan 30% dari gaji untuk keinginan pribadi seperti belanja, rekreasi dan hobi. Dan 20% untuk tabungan dan investasi. Nah, jangan sampai keinginan Anda melebihi alokasi tersebut. Selalu ingat bahwa alokasi 20% tersebut harus selalu dipatuhi setiap bulan. Bila Anda tipe yang mudah lupa, aturlah transfer otomatis setiap awal bulan ke rekening tabungan/investasi/yang tidak dipakai untuk transaksi sehari-hari. Manfaatkan kemudahan digital untuk meningkatkan keuangan pribadi Anda!

Terkena Sindrom FoMO

Era digital menyebabkan orang sangat bergantung pada gadget. Memang banyak aplikasi di smartphone yang memudahkan hidup, tapi ada juga yang berpotensi menjerumuskan kita dalam masalah keuangan. Salah satunya media sosial. Mengapa demikian? Media sosial memicu terjadinya sindrom FoMO. FoMO atau Fear of Missing Out merupakan sebuah sindrom yang membuat penderitanya selalu merasa takut tertinggal tren.

Bagi fresh graduate, FoMO terkait dengan kebutuhan sosial, yakni pergaulan. FoMO biasanya muncul dalam bentuk rasa “ingin selalu terlihat keren” di depan teman-temannya. Oleh karena itu, tak jarang fresh graduate rela mengeluarkan uang lebih agar mereka tidak dikucilkan dari pergaulan sosialnya.

Lihat juga:  “Terjerat Masalah Keuangan?, Mungkin Anda Kena FoMO”

Jika dibiarkan, hal ini tentu menimbulkan masalah keuangan. Bayangkan saja berapa uang yang harus Anda keluarkan karena agenda kumpul-kumpul tiap weekend? Tentu banyak. Agenda ini memang baik karena bisa membantu Anda tetap terhubung dengan teman, tapi apakah aman di kantong?

Oleh karena itu, segera kendalikan pengeluaran Anda. Tinggalkan gaya hidup yang tidak sesuai dengan penghasilan Anda. Jika diajak nongkrong tapi bujet tidak sesuai, jangan segan menolak. Jelaskan kepada teman-teman bahwa anggaran Anda terbatas. Sebagai solusinya, Anda bisa mengusulkan nongkrong yang lebih ekonomis, seperti mengadakan potluck lunch di rumah atau taman sembari berpiknik. Dengan cara ini, pertemanan dan kantong Anda akan tetap selamat.


Tidak punya rencana keuangan, malas menabung, berinvestasi dari sisa gaji, dan sindrom FoMO adalah kesalahan yang sering dilakukan oleh fresh graduate. Jika tidak diperbaiki, kesalahan-kesalahan ini dapat menjerumuskan Anda pada berbagai masalah keuangan. Sebagai orang yang baru mulai bekerja, fresh graduate perlu membangun fundamental keuangan yang kuat. Mulailah belajar cara mengelola keuangan lalu terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kondisi finansial Anda akan selalu baik dan terkontrol.

Artikel blog ini ditulis oleh Modalku, platform peer-to-peer (P2P) lending nomor 1 di Indonesia dan Asia Tenggara. Kami menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tanah air dan membuka opsi investasi alternatif dengan pengembalian menarik bagi pemberi pinjaman. Tertarik mengenal Modalku lebih baik? Klik di sini.

Modalku secara resmi terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Leave a Reply