Puasa Dulu Lebaran Kemudian, Investasi Dulu Bebas Finansial Kemudian

Puasa menjadi momentum kebangkitan spiritual. Tak hanya lapar dan dahaga, hawa nafsu juga perlu ditekan saat bulan puasa. Selepas bulan Ramadhan, orang yang berpuasa akan mendapatkan kemenangan saat Idul Fitri. Diharapkan setelah masa puasa pun, pengendalian hawa nafsu juga tetap dilakukan.

Tetapi mengapa nafsu belanja justru meningkat saat Ramadhan? Dan benarkah anggaran belanja semakin meningkat saat Ramadhan?

Meskipun makan hanya dua kali sehari (buka puasa dan makan sahur), anehnya pola konsumsi justru meningkat. Saat menjelang berbuka puasa, banyak orang yang “lapar mata” saat berburu sajian buka puasa. Inilah yang menjadi salah satu sumber pemborosan yang signifikan.

Belum lagi, bila acara bukber atau buka puasa bersama diadakan di restoran mahal. Sebagai ajang silaturahmi, bukber sangat baik. Namun, jika dilakukan terlalu sering dan diadakan di gerai makanan ternama, kantong Anda akan jebol juga. Selain kedua poin ini, masih banyak “titik” pemborosan yang perlu diwaspadai.

Kalahkan Hawa Nafsu, Raih Kemenangan

Pada dasarnya, pemborosan terjadi karena ketidakmampuan diri mengendalikan nafsu untuk membeli/menghabiskan uang. Jika kita bisa mengambil hikmah puasa dengan baik, maka pemborosan dapat dihindari. Apa saja hikmah puasa yang bisa kita petik?

Pertama, puasa melatih diri untuk hidup sederhana. Hal ini akan terasa saat berbuka puasa dengan makanan sederhana.  Kegiatan ini menyadarkan kita untuk lebih menghargai makanan dan hidup dengan lebih bersahaja. Oleh karena itu, Anda dapat memulainya dengan mengurangi “lapar mata” saat berburu makanan buka puasa. Selain boros, terlalu banyak makan saat buka puasa juga tidak baik untuk kesehatan.

Kedua, puasa melatih diri untuk lebih disiplin. Seseorang yang menjalankan puasa hidupnya akan lebih teratur. Ia akan terbiasa bangun pagi, makan sahur, hingga buka puasa. Sadarkah Anda jika saat bulan Ramadhan, kita jadi lebih memperhatikan jadwal sholat dan imsakiyah? Khususnya untuk waktu imsak, subuh, dan magrib. Inilah salah satu bentuk latihan kedisiplinan yang nyata.

Ketiga, puasa melatih simpati dan semangat berbagi. Saat orang berpuasa, ia akan merasakan lapar dan dahaga sebagaimana orang yang sedang kesulitan. Penderitaan lapar ini akan menggugah simpati pada sesama yang kurang beruntung. Semangat berbagi pun semakin kuat.

Ketiga hikmah puasa tersebut dapat dipetik dan dijadikan “material“ untuk membangun kemampuan mengendalikan diri. Dengan cara tersebut kita dapat meraih kemenangan terhadap hawa nafsu saat Idul Fitri atau Lebaran.

Memetik Hikmah Puasa untuk Mengendalikan Nafsu Belanja

Sebagai bulan pelatihan, hikmah puasa perlu diterapkan di sepanjang tahun. Meski bulan Ramadhan berakhir, perlawanan terhadap hawa nafsu harus terus dilakukan. Makna puasa perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam bidang keuangan.Dengan cara ini, Anda dapat menghindari pemborosan yang sangat dilarang dalam ajaran agama.

Selama ini, masalah keuangan bermula pada pemborosan. Ketidakmampuan seseorang mengendalikan nafsu berbelanja menjadi awal dari berbagai masalah keuangan. Lantas, apa yang harus dilakukan? Bisakah nafsu berbelanja dikendalikan?

Jawabannya bisa. Petikan tiga hikmah puasa Ramadhan di atas dapat diterapkan untuk mengendalikan nafsu belanja. Bagaimana caranya?

  • Mulailah dengan gaya hidup minimalis dan sederhana. Selalu belanjakan uang sesuai kebutuhan dan utamakan fungsi daripada estetika. Dengan cara ini pengeluaran Anda akan jauh lebih hemat dan tidak mudah tergoda diskon yang ditawarkan di pusat perbelanjaan atau e-commerce.

Lebih lanjut: “4 Cara Ampuh Berhemat dengan Gaya Hidup Minimalis”

  • Disiplin yang dilatih saat bulan puasa juga dapat diterapkan saat mengelola keuangan. Mulailah dengan membuat anggaran untuk pengeluaran rutin Anda. Jangan lupa untuk mematuhi anggaran yang sudah ditetapkan. Kedisiplinan akan menghasilkan sikap bijak dalam mengelola keuangan.
  • Semangat berbagi dan empati yang sudah dipupuk saat puasa akan menjadi “benteng” bagi diri Anda saat nafsu belanja sedang tinggi. Tidak lagi Anda mengikuti tren atau ingin memiliki benda keren yang dimiliki peer group Anda. Anda bisa memilih untuk bersyukur dan menyadari bahwa banyak orang yang secara material tidak seberuntung Anda. Dengan perspektif ini, Anda bisa menahan diri untuk tidak berbelanja yang tidak perlu. Berbagi untuk kaum miskin lebih bermakna daripada hanya menghamburkan uang. Mulai bulan suci ini, Anda bisa memilih untuk lebih rutin berbagi rezeki dengan yang membutuhkan.

Mewujudkan “Lebaran” Finansial

Setelah berhasil mengendalikan nafsu belanja, Anda layak mendapatkan kemenangan. Namun, “kemenangan” ini tidak akan didapat secara instan dan jangka pendek. Anda harus konsisten menerapkan hikmah dan makna puasa dalam mengelola keuangan. Konsistensi ini akan berbuah manis, yaitu kemenangan bernama kebebasan finansial.

Jika menahan lapar dan dahaga saat puasa Ramadhan akan berbuah kemenangan saat lebaran, maka menahan nafsu belanja akan berbuah “lebaran” keuangan (baca: kebebasan finansial). Namun, mungkinkah hanya dengan menahan nafsu belanja, kita bisa meraih kebebasan finansial? Bukankah kebebasan finansial hanya bisa diraih oleh orang dengan jabatan tertentu, kemampuan sosial ekonomi, hingga warisan?

Brian Tracy, motivator internasional yang sukses, mengatakan bahwa kebebasan finansial dapat diraih oleh semua orang. Pemikiran bahwa kebebasan finansial hanya dapat diraih segelintir orang adalah hambatan mental utama bagi mereka yang ingin meraih kebebasan finansial. Tentu kebebasan finansial tidak bisa hanya diraih dengan menahan nafsu belanja. Investasi menjadi salah satu cara yang efektif untuk meraih kebebasan finansial. Kombinasi antara pengendalian nafsu belanja dan investasi akan memudahkan Anda meraih kebebasan finansial.

Lihat juga: “Hindari 5 Sifat Ini agar Anda Bisa Meraih Kebebasan Finansial” dan “Menyelamatkan Keuangan Pribadi dengan Investasi”


Ketiga hikmah puasa di atas dapat menjadi pupuk untuk menyuburkan keuangan pribadi  Anda. Gaya hidup sederhana, sikap disiplin, dan empati kepada sesama akan menjauhkan Anda dari berbagai jenis pemborosan. Dengan cara tersebut, bukan tidak mungkin investasi Anda akan berbuah “lebaran” finansial. Jadi, tunggu apa lagi? Ayo mulai investasi sekarang juga!

Artikel blog ini ditulis oleh Modalku, platform peer-to-peer (P2P) lending nomor 1 di Indonesia dan Asia Tenggara. Kami menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tanah air dan membuka opsi investasi alternatif dengan pengembalian menarik bagi pemberi pinjaman. Tertarik mengenal Modalku lebih baik? Klik di sini.

Leave a Reply