Benarkah Kartu Kredit Bisa Menolong Anda?

Siapa yang tidak mengenal kartu kredit? Kartu yang terbuat dari plastik ini sudah bertahun-tahun menjadi alat pembayaran. Kartu kredit dikeluarkan pertama kali oleh Flatbush National Bank di Brooklyn, AS pada tahun 1946. Kini, kartu kredit telah mendunia. Benda ini terbukti memberikan banyak kemudahan bagi penggunanya. Sejak dikenalkan ke masyarakat, pemakai kartu kredit tak lagi harus mengisi banyak uang kas di dompet untuk berbelanja. Kehidupan sehari-hari menjadi lebih praktis.

Pada dasarnya, kartu kredit merupakan alat pembayaran secara kredit (di mana Anda berutang ke penerbit kartu kredit) atas pembelian barang atau jasa. Ini berbeda dengan kartu debit yang membayar tagihan belanja dengan saldo di rekening Anda. Kartu kredit memang memudahkan transaksi keuangan, namun pengguna harus tetap sadar bahwa penggunaan kartu kredit adalah utang yang harus dibayar saat jatuh tempo. Meski sudah beredar selama bertahun-tahun, kartu kredit masih menuai kontroversi. Di satu sisi, kartu kredit memudahkan transaksi, tapi di sisi lain dianggap menjerumuskan orang untuk lebih konsumtif. Benarkah demikian?

Sang Dewa Penolong

Selain dikenal karena praktis, kartu kredit juga bisa menjadi penolong di saat darurat. Misalnya, saat seseorang butuh uang untuk membayar biaya rumah sakit, maka kartu kredit bisa digunakan jika uang tabungan tidak cukup untuk menutup tagihan. Memang biaya tersebut bisa dibebankan pada asuransi, tetapi tak jarang biaya rumah sakit melebihi plafon yang ditetapkan. Kelebihan tersebut harus Anda tanggung dengan merogoh kantong sendiri. Pada titik inilah kartu kredit sangat berguna untuk membantu Anda.

Keadaan darurat juga bisa datang saat tiba-tiba rumah tertimpa pohon dan kondisi dompet sedang menipis. Uang di tabungan juga tidak cukup. Sementara renovasi harus sesegera mungkin dilakukan agar rumah kembali nyaman dan aman untuk ditinggali. Dalam kondisi tersebut, kartu kredit akan sangat berguna untuk biaya renovasi.

Smartphone yang kecopetan juga bisa dianggap kondisi darurat mengingat smartphone sudah menjadi kebutuhan pokok di era milenial ini. Dewa penolong bernama kartu kredit pun bisa menjadi penyelamat untuk membeli pengganti. Masih banyak kondisi-kondisi darurat lain yang bisa diselamatkan dengan adanya kartu kredit. Tidak ada orang yang dapat menduga kapan datangnya kondisi tersebut.

Lihat juga: “Menjaga Agar Smartphone Terus Awet”

Membantu Kelancaran Arus Kas & Godaan Diskon

Saat menghadapi kondisi darurat, penggunaan kartu kredit untuk menalangi tagihan akan mengurangi gangguan arus kas bulanan Anda. Kartu kredit juga membantu arus kas pribadi apabila ada pengeluaran untuk urusan kantor. Contoh: proses reimbursement di kantor Anda dilakukan bulanan. Bila membayar langsung dari rekening atau uang kas Anda, maka sebagian dari uang Anda akan tertahan hingga jadwal pencairan reimbursement. Tetapi bila Anda membayar dengan kartu kredit, arus kas Anda tak akan terganggu. Setelah reimbursement, Anda tinggal mengurus tagihan kartu kredit.

Dengan menggunakan kartu kredit, Anda bisa mendapatkan banyak promo dan diskon. Tentu penawaran ini sangat menguntungkan jika dibandingkan dengan pembayaran tunai. Dengan kartu kredit, pengguna bisa mendapatkan berbagai jenis diskon dan promo cashback.

Namun, pengguna kartu kredit patut waspada dengan semua kemudahan ini. Penawaran diskon melalui pembayaran kartu kredit bisa menjerumuskan Anda pada perilaku konsumtif. Mengapa bisa demikian?

Lihat juga: “4 Hal dalam Pengelolaan Utang yang Harus Dihindari”

Yakin Kartu Kredit Jadi Penolong?

Kemudahan yang ditawarkan kartu kredit dapat mendorong seseorang untuk melakukan impulsive buying. Pengguna kartu kredit akan selalu merasa memiliki uang dan tidak pernah bokek. Jika sudah demikian, pengguna kartu kredit telah terjebak dalam ilusi “punya duit terus”, sehingga terpacu untuk terus berbelanja tanpa terkontrol. Kewajiban membayar tagihan kartu kredit sering dilupakan. Banjirnya diskon dan beragam cashback yang ditawarkan kartu kredit akan semakin mendorong perilaku ini. Hal inilah yang membuat kartu kredit sering dianggap menjebak orang pada jerat utang.

Sudah banyak terdengar berita tentang orang yang kesulitan karena dikejar-kejar debt collector yang menagih utang kartu kredit. Hal ini wajar, karena jika telat membayar tagihan, bunga kartu kredit bisa membengkak berlipat ganda. Jika sudah begini, masih pantaskah kartu kredit disebut sebagai dewa penolong?

Pinjaman Konsumtif yang Selalu Dibutuhkan

Dari tahun ke tahun, transaksi kartu kredit terus mengalami peningkatan. Hal ini menandakan bahwa pinjaman konsumtif berupa kartu kredit masih dibutuhkan oleh masyarakat. Pinjaman konsumtif dibutuhkan sebagai dana talangan, baik untuk melancarkan arus kas pribadi ataupun mengatasi kondisi darurat. Pendek kata, kartu kredit masih dibutuhkan meski dengan segala kekurangannya.

Seiring dengan kemunculan teknologi keuangan atau FinTech (financial technology), berbagai layanan FinTech payments muncul sebagai alat pembayaran terkini. Tanpa kartu, beragam jenis pembayaran bisa diselesaikan hanya dengan smartphone. Tak hanya untuk belanja online, FinTech payments bisa digunakan untuk membayar tagihan telepon, listrik, pulsa, dan kebutuhan transportasi. Diskon yang diberikan oleh FinTech payment juga tak kalah banyak.

Apakah ini artinya kartu kredit sudah bisa digantikan? Belum, sebab saat ini cara kerja FinTech payment masih seperti kartu debit, di mana pengguna harus mengisi saldo terlebih dahulu. Pengguna tetap harus memiliki “uang tunai” dalam platform FinTech. Untuk mendapatkan pinjaman konsumtif, masyarakat bisa menggunakan layanan yang berbeda, yakni, FinTech lending. Berbeda dengan FinTech payment, produk FinTech lending berupa pinjaman dana, bukan layanan pembayaran.

Berbeda kasusnya bila Anda belanja e-commerce menggunakan kartu kredit. Cukup masukkan nomor kartu dan pin, semua beres. Anda hanya menunggu tagihan kartu kredit datang untuk melunasinya. Bisa dikatakan bahwa kartu kredit masih mengisi kebutuhan yang ada di pasar.

Bijaksana adalah Kunci

Adanya produk pinjaman entah itu kartu kredit, kredit tanpa agunan, ataupun pinjaman FinTech belum dapat mengalahkan keistimewaan kartu kredit. Setelah kartu kredit jadi, pengguna bisa menggunakannya untuk membeli barang, membayar tagihan, belanja, atau sekadar tarik tunai.

Kepraktisan kartu kredit merupakan keunggulan sekaligus titik lemahnya. Ilusi “punya duit terus” mendorong pengguna untuk melakukan impulsive buying yang tak terkontrol. Rasa lapar diskon semakin menyuburkan hal ini. Alhasil, banyak orang yang terjerat godaan kartu kredit dan tak sanggup membayar tagihan saat jatuh tempo. Pada akhirnya, kebijaksanaan pengguna menjadi kunci agar mereka tidak terjerumus pada kesulitan finansial. Gunakan kartu kredit sesuai kebutuhan. Selalu ingat bahwa saat Anda menggesek kartu kredit, saat itu juga Anda berutang. Dengan demikian, Anda akan selalu waspada dan tidak sembarangan saat menggunakan kartu kredit.

Lihat juga: “Siapa Bilang Mengelola Keuangan Pribadi itu Sulit?”


Artikel blog ini ditulis oleh Modalku, platform peer-to-peer (P2P) lending nomor 1 di Indonesia. Kami menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tanah air dan membuka opsi investasi alternatif dengan pengembalian menarik bagi pemberi pinjaman. Tertarik mengenal Modalku lebih baik? Klik di sini.

Leave a Reply