10 Mitos yang Beredar di Lingkungan Startup

Merebaknya gaya hidup digital juga memengaruhi minat banyak orang (khususnya generasi milenial) dalam memilih tempat bekerja. Perusahaan startup kini menjadi primadona bagi generasi milenial. Mereka ingin menjadi bagian dari produk atau aplikasi yang digunakan oleh masyarakat. Karakter generasi milenial yang menyukai kebebasan berekspresi ketimbang sekedar gaji tinggi, cocok dengan “DNA” startup. Dalam sekejap, perusahaan startup menjadi magnet kuat bagi generasi milenial dalam meniti karir.

Saking populernya perusahaan startup, banyak mitos yang beredar tentang suasana bekerja di dalamnya. Apa saja itu? Mari kita bahas satu persatu.

Lihat juga: “Dunia Startup Mungkin Berisiko, tapi Ini 6 Alasan Milenial Memilihnya untuk Berkarir”

1. Jam Kerja Bebas

Jam kerja adalah salah satu hal yang membedakan antara perusahaan startup dengan perusahaan konvensional. Banyak yang menganggap jam kerja di startup bebas, dan bisa masuk kantor kapan saja. Hal ini menjadi faktor penarik bagi generasi milenial yang enggan terikat jam kantor. Namun, benarkah demikian? Lantas bagaimana dengan produktivitas karyawan?

Sebenarnya, mitos “jam kerja bebas” tidaklah benar. Lebih tepat disebut “jam kerja fleksibel”. Pekerja startup tetap diwajibkan kerja 8 jam sehari, tetapi jamnya lebih fleksibel. Mungkin tidak harus dari jam 9 pagi sampai 6 sore, tetapi semua pekerjaan harus diselesaikan dan target harus tercapai. Jadi, pekerja harus mandiri dan mampu memaksimalkan waktu yang ada untuk menciptakan dampak. Tak jarang karyawan juga diwajibkan datang pada waktu-waktu tertentu. Untuk meeting misalnya.

Di Modalku, karyawan harus datang pada jam 09.30 WIB setiap hari Senin karena ada meeting weekly focus dari founder perusahaan. Melalui weekly focus, diharapkan karyawan dapat menyerap nilai-nilai perusahaan, sehingga semangat dan etos kerja menjadi lebih maksimal. Tidak hanya itu, saat ada meeting Townhall yang diadakan setiap bulan, karyawan juga harus hadir agar dapat mengikuti perkembangan perusahaan dan pencapaian setiap divisi.

Dengan adanya jam kerja fleksibel di Modalku, bukan berarti karyawan seenaknya mengerjakan tugas kapan saja hingga melewati deadline. Semua pekerjaan harus selesai tepat waktu. Jam kerja fleksibel juga bukan berarti kita tidak tepat waktu saat ada janji meeting dengan klien atau rekan kerja. Dengan datang tepat waktu, target-target pekerjaan dapat lebih mudah diraih.

2. Ide Brilian yang Paling Penting

Tentu saja ide brilian diperlukan untuk mengembangkan startup. Namun, tanpa eksekusi, ide brilian hasilnya nihil. Oleh karena itu, di Modalku karyawan tak hanya diberi kebebasan untuk menelurkan ide-ide baru, tapi juga mengeksekusinya. Ide-ide brilian tersebut diuji, dipertanyakan, dan ditantang oleh rekan-rekan kerja dan atasan sebelum akhirnya dieksekusi. Hal ini bertujuan agar ide tersebut matang dan siap diterapkan.

Karyawan harus mampu membuktikan bahwa ide tersebut dapat diwujudkan menjadi project. Ia juga harus terus mengawal project tersebut hingga berhasil. Tak perlu takut salah, karena startup memiliki ruang untuk itu.  Modalku menerapkan nilai budaya test, measure, act agar kesalahan yang terjadi bisa diuji, diukur hasilnya lalu ditindaklanjuti. Dengan cara ini, startup dapat menghasilkan hasil unggulan.

3. Simpel, Tidak Ada Birokrasi

Meskipun perusahaan baru, bukan berarti tidak ada struktur organisasi dalam startup. Mengutip dari buku StartupPedia, semua startup idealnya setidaknya memiliki enam anggota inti, yakni CEO, CTO, CFO, WP (Wakil Presiden) Pemasaran/Penjualan, CMO, dan COO. Nah, ini merupakan bukti bahwa bahkan di startup pun birokrasi masih memiliki peran. Ini diperlukan agar peran dan tanggung jawab setiap individu menjadi lebih jelas. Dengan peran yang jelas, perusahaan startup pun dapat lebih cepat berkembang.

Saat awal berdiri, bisa saja struktur organisasi startup masih belum lengkap. Akibatnya, banyak tanggung jawab yang tumpang tindih. Namun, seiring dengan perkembangannya, struktur birokrasi dalam startup harus dibenahi. Job description yang tumpang tindih pun harus dikurangi. Setelah job description jelas, setiap individu harus mematuhi aturan dan hierarki yang ditetapkan. Jika tidak dipatuhi atau peran tiap karyawan masih tidak jelas, bisa-bisa target dan project divisi sulit dipertanggungjawabkan. Pasti ini akan mempengaruhi arah perusahaan.

4. Jenjang Karir di Startup Tidak Jelas

Sebagai perusahaan baru, tentunya masih banyak sistem dan proses kerja yang belum established di perusahaan startup. Tak terkecuali jenjang karir. Hal ini membuat banyak orang menganggap bahwa jenjang karir di startup tidak jelas. Benarkah demikian? Hal ini tidak sepenuhnya benar. Ukuran dan jumlah karyawan startup yang masih kecil justru menjadi peluang untuk meningkatkan karir. Mengapa? Ketika jumlah karyawan semakin meningkat, kemungkinan Anda untuk naik posisi juga semakin besar.

Tentu saja semua itu tergantung dari kinerja Anda. Terus tingkatkan skill dan performa Anda saat bekerja di startup. Dengan begitu, pihak perusahaan akan memberi Anda apresiasi berupa peningkatan karir. Sebagai startup, Modalku memperhatikan jenjang karir karyawan di dalamnya. Karyawan yang menunjukkan performa yang baik akan mendapatkan promosi jabatan. Jadi, kata siapa jenjang karir di startup tidak jelas?

5. Karyawan Kerjanya Hanya “Main”

Banyak perusahaan startup memberikan fasilitas hiburan di kantor seperti PlayStation, meja biliar, board games, hingga meja pingpong. Tidak heran jika ada yang menganggap bahwa karyawan startup kerjanya hanya main. Benarkah mitos ini? Apa alasan startup memberikan fasilitas-fasilitas tersebut? Apakah waktu karyawan akan habis hanya untuk bermain-main? Bukankah kantor itu tempat untuk bekerja bukan bermain?

Di startup pekerjaan tidak dinilai berdasarkan durasi, tetapi hasil kerjanya. Jika pekerjaan sudah selesai, karyawan bisa bermain dan istirahat. Dengan demikian, keberadaan fasilitas hiburan tidak akan mengganggu waktu dan konsentrasi kerja. Mereka juga akan lebih mudah melepaskan stres dengan beristirahat. Setelah pikiran segar, mereka dapat melanjutkan pekerjaan dengan lebih maksimal. Fasilitas hiburan akan membuat karyawan startup makin nyaman. Dengan suasana kantor yang nyaman, mereka akan makin produktif.

6. Founder/Co-founder Harus Bisa Ngoding

Karena bergerak di bidang teknologi digital, founder startup seringkali dianggap bisa membuat aplikasi sendiri. Mereka dianggap bisa melakukan coding pemrograman. Ini adalah mitos, founder startup tidak harus bisa membuat aplikasi teknologi sendiri. Ia bisa berkolaborasi dengan orang yang paham IT (information technology) untuk menciptakan sebuah produk. Meski demikian, seorang founder setidaknya perlu memahami ragam dan fungsi bahasa pemrograman. Pengetahuan ini berguna bagi founder startup agar bisa mempertimbangkan jenis bahasa pemrograman apa yang efektif untuk digunakan. Minimal dalam meeting dengan tim teknis bisa saling memberi masukan.

7. Hanya Fokus pada Dana

Sebagai perusahaan yang baru berdiri, tentu memerlukan pendanaan. Biaya operasional, gaji karyawan, biaya riset dan tes, serta promosi dan pemasaran membutuhkan dana yang tidak sedikit. Oleh karena itu, startup selalu dianggap sebagai perusahaan yang selalu haus dana. Benarkah demikian?

Startup memang memerlukan dana, tetapi bukan berarti hanya itu yang menjadi fokus. Ada yang lebih penting, yaitu model bisnis dan inovasi. Mengapa demikian? Model bisnis yang menarik dan disertai inovasi akan memikat minat investor dan venture capitalist (VC) untuk menanamkan uangnya. Selain itu, startup juga harus fokus pada pelanggan. Mereka harus memikirkan bagaimana caranya agar pelanggan dapat dimudahkan dengan layanan/produk startup. Pendanaan hingga Seri B yang diraih Modalku tentu bukan hasil dari “hanya fokus pada dana” melainkan karena model bisnis, inovasi, serta fokus pada pelanggan. Dengan ini, secara otomatis investor akan tertarik untuk mendanai startup.

8. Pemasaran Masif = Kunci Sukses

Sebagai perusahaan baru, pemasaran menjadi fokus utama. Banyak orang yang belum mengenal produk, apalagi perusahaan startup-nya. Tidak heran jika banyak startup yang menghabiskan uang untuk melakukan pemasaran secara masif. Namun, benarkah pemasaran masif harus selalu menghabiskan uang? Apakah cara “bakar uang” ini  selalu efektif?

Perkenalan ke produk pun bisa dilakukan dengan anggaran yang terbatas. Strategi perencanaan marketing yang tepat bagi startup yang minim budget memiliki tiga pilar, yaitu content strategy, marketing strategy, dan measurement strategy. Jelaskan produk startup melalui content strategy agar Anda bisa mengetahui selera, minat, hingga preferensi calon pengguna. Setelah itu, jalankan marketing strategy agar informasi produk sampai dengan baik. Terakhir, jangan lupa untuk mencari tahu efektivitas konten dan messaging yang digunakan. Apakah sudah berjalan dengan baik atau belum? Jika berjalan, maka bisa diteruskan. Jika belum, segera cari tahu di mana salahnya dan temukan solusinya.

9. Karena Kecil, Mustahil Startup Dapat Melayani Permintaan Dalam Jumlah Besar

Sebagai perusahaan yang baru berdiri, startup sering diremehkan karena mustahil melayani permintaan besar.

Belum tentu. Dengan produk dan teknologi yang tepat, startup bisa memberikan layanan ke pasar yang lebih luas. Permintaan dalam skala besar pun bisa dipenuhi. Buktinya, sebagai startup yang baru berusia 3 tahun, Modalku telah menyalurkan lebih dari 300.000 pinjaman kepada UMKM-UMKM di Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Teknologi menjadi faktor utama untuk mewujudkan pencapaian tersebut.

Produk yang memiliki fokus dan pasar yang tepat justru akan berhasil. Startup juga sering melakukan kolaborasi agar dapat melayani pasar yang lebih besar. Modalku sendiri melakukan kolaborasi untuk menggaet pelanggan e-commerce (Tokopedia, Lazada, dan Bulapak) dan agribisnis (Tanihub).

10. Banyak Waktu Luang

Bagi orang yang tidak bekerja di startup, pandangan ini tentu sering ditemui. Kesan santai ditambah dengan aturan berpakaian non-formal dan kasual. Tentu saja ini hanya mitos yang tidak benar. Karyawan startup juga dikejar deadline dan target. Tak jarang, mereka bahkan meluangkan waktu lebih untuk mempersiapkan peluncuran produk baru atau project penting. Di lingkungan startup, perubahan terjadi dengan sangat cepat. Jika tidak cekatan, perusahannya akan tertinggal.

Meski sibuk dan dikejar deadline atau target, ada karyawan startup yang tetap terlihat santai. Mengapa demikian? Jawabannya adalah passion, sehingga mereka senang dan tidak terlalu terbebani pekerjaan. Tak hanya itu, dengan passion seseorang dapat menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat dan efektif.

Lebih lanjut: “Mengapa Passion Diperlukan Saat Bekerja di Startup?”


Itulah 10 mitos yang ada di perusahaan startup. Faktanya, bukan suasana kerja yang santai yang membuat karyawan nyaman. Tetapi passion dan tekad kuat agar dapat memenangkan persaingan. Jadi bagaimana? Tertarik kerja di startup?

Artikel blog ini ditulis oleh Modalku, platform peer-to-peer (P2P) lending nomor 1 di Indonesia. Kami menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tanah air dan membuka opsi investasi alternatif dengan pengembalian menarik bagi pemberi pinjaman. Tertarik mengenal Modalku lebih baik? Klik di sini.

Leave a Reply