5 Perbedaan Startup dan Perusahaan Konvensional

Baik itu perusahaan startup maupun konvensional, keduanya tentu sama-sama merintis bisnis dari nol. Mulai dari menggunakan tabungan pribadi untuk menjalankan operasionalnya, melewati masa-masa jatuh bangun, mendirikan usaha modal kecil, hingga bisa bertahan dan mengembangkan bisnis.

Startup maupun konvensional juga sama-sama berfokus untuk mencari uang dan meraih kesuksesan bisnis. Lantas, di mana letak perbedaan perusahaan startup dan konvensional?

Mentalitas Awal

Perbedaan pertama antara startup dan perusahaan konvensional terletak pada mentalitas awalnya. Startup fokus melakukan eksperimen yang berisiko karena perlu menemukan model bisnis baru dan aspek pasar yang berpotensi tumbuh. Startup dibuat untuk membuat pasar baru atau menggebrak yang sudah ada. Itulah mengapa startup berharap untuk mendapatkan pertumbuhan dan perkembangan yang signifikan.

Sedangkan pada perusahaan konvensional, fokus awalnya adalah untuk mendapatkan profit secepat mungkin. Di lain sisi, perusahaan konvensional bertujuan untuk menjadi perusahaan berkelanjutan yang bisa menyejahterakan pemiliknya. Perusahaan ini juga mencari pertumbuhan yang signifikan dari ekspansi organik.

Lihat juga: “Dunia Startup Mungkin Berisiko, tapi ini 6 Alasan Milenial Memilihnya untuk Berkarir”

Cara Pendanaan

Perbedaan kedua antara startup dengan perusahaan konvensional adalah cara pendanaan. Startup pendanaan awalnya berasal dari perusahaan pemodal. Besaran jumlah yang dikeluarkan untuk memulai startup juga cukup besar, yaitu hingga mencapai miliaran dolar untuk skala yang besar. Dengan pendanaan yang besar, startup seperti ini memang ditargetkan untuk segera melejit. Beda dengan startup kecil yang harus tumbuh perlahan.

Untuk perusahaan konvensional, pendanaan awal berasal dari keuntungan atau profit yang dihasilkan dari hasil usaha sendiri. Perusahaan konvensional memulai usaha dengan modal sendiri dan kemudian membiayai keberlanjutannya dengan uang yang dihasilkan dari penjualan.

Banyak Eksperimen Berisiko

Perusahaan startup menerapkan banyak eksperimen berisiko dengan prinsip test, measure, dan act demi mencari layanan yang tepat untuk pasar. Hal ini karena memang tujuan awal startup adalah mencari pasar baru atau mendobrak yang lama. Pekerja startup juga bisa ikut serta berpartisipasi dalam penerapan ide dan eksperimen inovatif. Sedangkan pada perusahaan konvensional, setiap strategi dijalankan dengan sangat hati-hati dengan meminimalkan risiko yang muncul.

Struktur Organisasi

Pada perusahaan startup, hierarki cenderung rata. Meskipun ada posisi atasan dan karyawan, namun sekat di antara keduanya tidak terlalu mencolok. Staf bisa berkomunikasi antar divisi dan bahkan atasan. Dengan begitu, komunikasi di perusahaan startup berjalan dalam dua arah. Percakapan juga santai. Setiap ide dan gagasan akan dihargai karena dianggap sebagai aset penting perusahaan.

Sedangkan pada perusahaan konvensional, hierarki telah disusun secara formal sesuai budaya korporat. Pada setiap struktur karyawan terdapat posisi atasan yang menentukan batasan untuk menentukan sikap dan perilaku. Karyawan harus selalu patuh pada atasan. Karyawan juga tidak boleh sembarangan berkomunikasi dan berdiskusi antar divisi atau dengan senior di atasnya.

Ritme Kerja Karyawan

Karyawan startup dan perusahaan konvensional memiliki ritme kerja yang berbeda. Karyawan startup selalu dituntut untuk berkembang dan bekerja lebih cepat. Ini karena banyak pekerjaan atau proyek yang harus dipelajari serta diselesaikan dalam waktu yang singkat dengan jumlah karyawan yang tak seberapa. Pada perusahaan startup, Anda juga dituntut untuk serba bisa melakukan pekerjaan yang mungkin tidak termasuk dalam wilayah kerja.

Sedangkan di perusahaan konvensional, ritme kerja memang tidak sefleksibel startup. Itulah kenapa pekerjaan yang harus diselesaikan tiap orang pun cenderung mudah ditebak. Tiap karyawan sudah memiliki job desc yang settled

Lihat juga:“10 Mitos yang Beredar di Lingkungan Startup”


Sebenarnya masih ada banyak lagi perbedaan antara startup dengan perusahaan konvensional, seperti misalnya jam kerja dan seragam kantor. Untuk hal ini, tentu startup cenderung lebih fleksibel dan bebas. Jadi, mau bekerja di startup atau perusahaan konvensional?

Artikel blog ini ditulis oleh Modalku, platform peer-to-peer (P2P) lending nomor 1 di Indonesia. Kami menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tanah air dan membuka opsi investasi alternatif dengan pengembalian menarik bagi pemberi pinjaman. Tertarik mengenal Modalku lebih baik? Klik di sini.  

Leave a Reply