Menghadapi Wabah Corona: Hentikan Panic Buying dan Stockpiling

Beberapa waktu belakangan, sosial media dipenuhi dengan video dan foto rak-rak kosong di supermarket-supermarket di beberapa negara. Tisu toilet, makanan cepat saji, hand sanitiser, serta kebutuhan-kebutuhan darurat lainnya tampak habis terjual. Apalagi kabar tentang lockdown makin santer dihembuskan. Alhasil, hal ini menimbulkan munculnya fenomena panic buying yang terjadi akibat mewabahnya virus corona. Apa itu panic buying dan apa akibat yang akan ditimbulkannya?

Kenapa Panic Buying Bisa Terjadi?

Menurut para peneliti dari Universitas Hongkong, panic buying atau yang juga sering disebut consumer hoarding adalah tindakan orang-orang yang membeli produk dalam jumlah banyak hingga sangat banyak yang didasari oleh rasa panik. Panic buying sering menyebabkan akibat negatif terhadap kondisi ekonomi dan sosial di masyarakat. Umumnya, panic buying dilakukan dengan tujuan stockpiling. Stockpiling adalah tindakan menumpuk atau mengumpulkan sebanyak-banyaknya barang dengan tujuan tertentu. Biasanya, fenomena panic buying dan stockpiling muncul ketika terjadi suatu peristiwa yang mengharuskan orang-orang untuk menyediakan persiapan darurat di rumah. Misalnya, saat terjadi kemarau berkepanjangan pada tahun 2008, masyarakat di berbagai negara di Asia langsung menyerbu pasar dan supermarket untuk membeli persediaan beras sebanyak mungkin. 

Menurut Sander van der Linden, seorang asisten profesor psikologi sosial di Universitas Cambridge, fenomena panic buying yang terjadi di Amerika Serikat beberapa waktu lalu dilatarbelakangi oleh fear contagion. Sederhananya, jika seseorang dihadapkan dengan keadaan penuh tekanan, ia akan bercermin pada apa yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya. Jika banyak yang melakukan panic buying dan stockpiling, maka individu tersebut juga akan melakukan hal yang sama. 

Sementara itu, ahli lain menyebutkan bahwa fenomena panic buying adalah bentuk coping mechanism masyarakat. Dengan melakukan stockpiling, seseorang akan merasa aman dan siap menghadapi wabah, tanpa sadar bahwa tindakan tersebut justru akan membahayakan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitar. Mengapa demikian? 

Akibat Panic Buying

Sebagian dari Anda mungkin merasa lebih tenang menghadapi wabah ketika sudah memiliki persediaan barang darurat dalam jumlah yang banyak. Jika demikian, maka sebaiknya Anda ubah pola pikir tersebut karena panic buying dan stockpiling akan mengakibatkan hal-hal negatif berikut ini: 

  • Kelangkaan barang 

Efek jangka pendek dari fenomena panic buying adalah kelangkaan barang-barang yang paling dibutuhkan untuk menghadapi wabah virus, seperti masker, hand sanitiser, makanan kaleng, hingga tisu toilet. Kelangkaan ini akan berimplikasi pada timpangnya jumlah permintaan dan penawaran barang. Jika semakin tidak terkendali, kelangkaan ini secara tidak langsung juga dapat berujung pada konflik.

  • Meningkatnya harga barang

Seringkali, di saat-saat sulit seperti sekarang ini, ada saja oknum tidak bertanggung jawab yang melakukan stockpiling untuk mendapatkan keuntungan sebesar mungkin. Sebagai contoh, saat pemerintah mengumumkan kasus pertama pasien corona di Indonesia, masker menjadi barang langka dan oknum-oknum yang menjualnya dengan harga tidak masuk akal mulai bermunculan. Tingginya harga jual ini membuat kelompok yang paling membutuhkan kesulitan mengakses barang-barang tersebut. 

Jika Anda terbukti menimbun masker untuk mendapatkan keuntungan, maka Anda dapat dijerat dengan Pasal 107 Undang-Undang Perdagangan dengan pidana kurungan maksimal 5 tahun dan/atau pidana denda maksimal 50 miliar rupiah. Tidak para oknum saja, Anda yang melakukan stockpiling untuk pemakaian pribadi juga turut bertanggung jawab secara moral karena tindakan ini dapat membahayakan keselamatan publik. 

Persiapkan diri Anda dengan dana darurat untuk menghadapi kesulitan ekonomi akibat wabah virus corona! Simak artikel ini: “Menghadapi Krisis Ekonomi dengan Dana Darurat”

  • Membahayakan tenaga medis dan kelompok rentan

Petugas medis, orang lanjut usia, anak-anak, hingga kelompok masyarakat yang memiliki penyakit bawaan adalah kelompok yang paling rentan untuk tertular virus corona. Maka dari itu, kelompok rentan inilah yang paling memerlukan barang-barang seperti masker dan hand sanitiser. Jika kedua barang tersebut sulit untuk ditemukan, maka kelompok ini yang akan terancam bahaya. 

Petugas medis sebagai garda utama dalam perang melawan virus corona tentu memerlukan persediaan logistik yang mencukupi dan dukungan moral yang layak. Orang tua kita yang sudah lanjut usia dan orang-orang di sekitar kita yang memiliki riwayat penyakit tertentu pun juga seharusnya dilindungi. 

Masyarakat dengan ekonomi lemah juga merupakan kelompok yang terdampak buruk atas fenomena panic buying. Jika harga barang meningkat akibat ketidakseimbangan pasar, maka kelompok ini akan semakin kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, apalagi untuk membeli masker dan hand sanitiser. Maka, sudah seharusnya kita lebih sensitif terhadap keadaan mereka yang bekerja seadanya hari ini untuk biaya makan esok hari. 

Apa yang Dapat Kita Lakukan?

Beberapa pemerintah daerah di Indonesia sudah mulai menerapkan semi-lockdown hingga full-lockdown dengan memblokir akses masuk ke daerah masing-masing. Belum lama ini, wacana untuk menutup akses ke Jabodetabek juga sering diberitakan oleh media. Kebijakan ini terbukti memicu terjadinya panic buying di beberapa negara seperti Jepang dan Hongkong. Baiknya, kini Anda sudah mengetahui akibat buruk dari panic buying. Untuk mencegah dan mengantisipasi terjadinya fenomena ini di Indonesia, berikut adalah langkah-langkah yang dapat Anda lakukan:

  • Persiapkan diri dengan bertanggungjawab

Dari pada melakukan panic buying yang dapat membahayakan diri Anda sendiri dan orang lain, lebih baik Anda mempersiapkan diri dengan bertanggungjawab. Buatlah perhitungan terhadap persediaan makanan, obat-obatan, dan barang-barang darurat lainnya yang Anda butuhkan. Perhitungannya dapat Anda lakukan berdasarkan jumlah anggota keluarga di rumah, anggota keluarga yang memerlukan kebutuhan khusus, dan takaran gizi perhari. Perhitungkan pula untuk berapa hari Anda mempersiapkan barang-barang yang dibutuhkan. Idealnya, belilah persediaan untuk 14 hari jika Anda melakukan self-isolation. Untuk menghindari pembelian dalam jumlah banyak, sebaiknya cicil pembelian sedini mungkin. Ingat, selalu beli yang Anda butuhkan dalam jumlah secukupnya, dan jangan pula menggunakan persediaan darurat untuk kebutuhan sehari-hari. 

  • Ketahui sumber informasi yang akurat

Pemerintah hingga masyarakat memang kewalahan untuk menangani wabah virus corona yang mengepidemi secara tiba-tiba. Di era serba digital seperti sekarang ini pun segala jenis informasi dapat menyebar luas dengan cepat. Maka dari itu, pastikan informasi yang Anda dapatkan bebas hoax. Jangan cepat percaya pada informasi yang beredar di platform media sosial dan konsumsilah informasi yang diberikan oleh media-media yang kredibel. Cermati dan sikapi berita yang Anda baca dengan baik. Berikut adalah daftar perusahaan pers yang terverifikasi administrasi dan faktual menurut Dewan Pers Indonesia.

Beberapa waktu lalu, di Amerika Serikat terjadi kesimpangsiuran informasi, di mana CDC (Center for Disease Control and Prevention) mengumumkan bahwa Amerika Serikat sedang berada pada situasi darurat, namun badan administratif Presiden Trump menyebutkan bahwa situasi aman terkendali. Ketidakjelasan informasi tersebut akan membuat masyarakat semakin khawatir dan memutuskan untuk melakukan hal-hal tertentu untuk melindungi diri mereka, salah satunya adalah panic buying. Maka dari itu, untuk memitigasi panik, yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah memberikan informasi yang akurat dan terkoordinasi. 

  • Cari tahu tempat belanja alternatif

Panic buying biasanya terjadi di supermarket-supermarket di pusat perbelanjaan. Hindari supermarket-supermarket tersebut karena keramaian akan memudahkan Anda untuk tertular dan menularkan virus corona. Ketahui tempat belanja alternatif yang tidak terlalu terdampak, seperti warung-warung kecil dan pasar tradisional di sekitar Anda. Ketika berbelanja, jangan lupa untuk selalu mengutamakan keselamatan Anda da orang-orang di sekitar Anda dengan mengikuti langkah-langkah pencegahan penyebaran virus corona. 

Wabah virus corona memang mengharuskan Anda untuk kerja dari rumah, alias work from home. Ketahui tipsnya di sini agar Anda lebih produktif!

Di saat wabah virus corona melanda, memang penting untuk melakukan persiapan diri dengan baik. Sembari mempersiapkan diri Anda sendiri, jangan lupa untuk melihat ke kanan dan kiri Anda. Jangan sampai tindakan siap siaga yang Anda lakukan justru memperburuk keadaan. Hentikan panic buying dan stockpiling dan jadilah anggota masyarakat yang peduli sesama. 


Anda juga dapat mengakses informasi tentang tips-tips keuangan, gaya hidup, produk keuangan, hingga alternatif investasi di blog.modalku.co.id. Awali kebebasan finansial dengan memperkaya literasi keuangan bersama kami. Ayo jelajahi blog kami!

Artikel blog ini ditulis oleh Modalku, pionir platform peer-to-peer (P2P) lending di Indonesia dan Asia Tenggara. Kami menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tanah air dan membuka opsi investasi alternatif dengan bunga menarik bagi pemberi pinjaman.

Modalku memenangkan Global SME Excellence Award dari ITU Telecom, salah satu badan organisasi PBB, di akhir tahun 2017. Modalku juga memenangkan Micro Enterprise Fintech Innovation Challenge yang diselenggarakan oleh United Nations Capital Development Fund (UNCDF) dan UN Pulse Lab Jakarta di tahun 2018. Visi kami adalah memberdayakan UMKM untuk bersama memajukan ekonomi Indonesia. Lihat statistik perkembangan pesat Modalku di sini.

Tertarik mengenal Modalku lebih baik? Klik di sini.

Modalku secara resmi berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Leave a Reply