Waspada! Virus Corona Justru Ancam “Kesehatan” Ekonomi Indonesia

Wabah virus corona sejak akhir tahun lalu menjadi perhatian dunia. Bermula di Wuhan, China, virus corona kini telah menjadi ancaman bagi banyak orang di dunia. Pasalnya virus corona mampu menyebar sangat cepat meski dalam waktu singkat. Sampai saat ini virus corona diketahui telah menewaskan hingga lebih dari 3 ribu orang dan menginfeksi lebih dari 100 ribu orang di dunia. Wabah virus corona ini pun telah sampai hingga ke berbagai belahan dunia mulai dari negara-negara di Asia, Eropa, Amerika, hingga Afrika.

Selain bisa mengakibatkan kematian bagi penderitanya, wabah ini juga memiliki dampak yang signifikan bagi sektor perekonomian dunia. Bahkan, menurut beberapa ahli wabah corona ini bisa menyebabkan dampak ekonomi yang lebih serius seperti saat terjadinya krisis ekonomi global pada tahun 2008 lalu.

China yang saat ini menjadi raksasa manufaktur pun sudah mengalami dampaknya. Perekonomian mereka menurun drastis akibat dari wabah virus corona ini. Menurut OECD (Organisation for Economin Co-operation and Development), pertumbuhan ekonomi dunia di tahun ini hanya berkisar di angka 2,4% saja. Angka tersebut sudah turun dari 2,9% di bulan November 2019 lalu. Jika wabah virus corona ini tidak segera berkurang dan malah semakin membesar, maka pertumbuhan ekonomi hanya bisa sampai 1,5% saja.

Virus Corona bisa saja berujung krisis ekonomi, ketahui cara untuk mengantisipasinya di artikel ini: “Krisis Ekonomi Datang, Apa yang Harus Anda Lakukan?”

Virus Corona Memperlambat Ekonomi Indonesia

Melemahnya perekonomian dunia akibat virus corona tentunya juga akan berdampak langsung pada ekonomi Indonesia. Apalagi baru-baru ini telah diketahui ada lebih dari 134 orang yang dikonfirmasi telah terjangkit oleh virus corona. Selain membuat cukup banyak kepanikan, virus corona juga langsung mempengaruhi ekonomi Indonesia. Mengapa bisa demikian? Padahal orang yang positif terjangkit baru sedikit jika dibandingkan negara-negara lainnya. Untuk lebih jelasnya, mari kita bahas lebih lanjut!

Perdagangan Lesu

Tahukah Anda? Indonesia dan China memiliki hubungan perdagangan yang sangat kuat. Dalam data neraca perdagangan dari Badan Pusat Statistik (BPS) per Januari 2020, terlihat adanya penurunan dari ekspor migas (minyak dan gas) serta non migas. China adalah negara yang selalu mengimpor minyak mentah dalam jumlah sangat banyak dan salah satunya berasal dari Indonesia.

Sejak wabah virus corona merebak, rupanya impor migas China dari Indonesia turun drastis. Banyak pabrik yang menghentikan aktivitas produksinya. Hal itu tentunya akan menimbulkan dampak buruk bagi Indonesia. Apalagi jika nantinya harga minyak mentah berkurang drastis. Sebagai negara pengimpor barang non-migas dari Indonesia, turunnya aktivitas perdagangan tentu akan memperlambat aliran pundi-pundi ekonomi Indonesia.

Di sisi lain, China juga mengekspor barang-barang manufaktur, bahan baku industri, peralatan elektronik, hingga komoditas buah-buahan. Smartphone, laptop, earphone, mouse, smart TV, hingga bahan pakaian yang kita pakai selama ini juga berasal dari negeri tirai bambu tersebut. Jadi, tidak mengherankan jika impor barang dari China terhambat, aktivitas bisnis di Indonesia akan terganggu. Importir, distributor, pedagang besar, hingga pengecer pun akan terganggu pasokan barangnya. Penjualan pun makin sulit, harga barang-barang naik, dan uang pun makin sulit didapat. Jika kondisi ini berkelanjutan, bukan tidak mungkin resesi yang sudah dimulai tahun 2019 akan makin parah.

Resesi sudah mulai terjadi tahun 2019, dengan adanya dampak virus corona tentu keadaan akan makin sulit. Meski demikian, jangan khawatir! Simak 5 Langkah ini Untuk Antipasi Resesi Ekonomi!

Tidak hanya pedagang konvensional, pebisnis online shop pun ikut terganggu akibat virus corona. Perlu Anda ketahui jika mayoritas barang-barang yang diperjualbelikan di toko online adalah barang impor dari China. Keberadaan e-commerce atau toko online, tidak bisa diremehkan. Karena kontribusinya pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. McKinsey & Co memproyeksikan nilai pasar e-commerce Indonesia dinilai akan mencapai sekitar Rp 910 triliun pada 2022. Jadi, penurunan bisnis online sudah pasti berdampak pada ekonomi Indonesia.

Resesi, krisis, hingga dampak virus corona merupakan bagian dari lika-liku bisnis online. Simak 4 tips agar bisnis online bertahan  di sini. Dengan cara-cara tersebut, Anda juga akan berhasil memenangkan persaingan bisnis online.

Pukulan Berat bagi Sektor Pariwisata

Virus corona juga akan memiliki dampak ekonomi pada sektor pariwisata. Penyebaran virus corona yang bisa terjadi dengan cepat membuat banyak orang tidak ingin bepergian. Memang saat ini pemerintah China juga telah memberikan aturan larangan bagi warganya untuk melakukan perjalanan ke luar negeri. Selain itu, pemerintah Indonesia juga memberlakukan peraturan untuk melarang wisatawan China untuk masuk ke Tanah Air.

Hal tersebut tentunya sangat berpengaruh dengan sektor pariwisata di Indonesia. Pasalnya wisatawan yang berasal dari China sangatlah banyak dan menduduki posisi ketiga sebagai wisatawan asing terbesar yang berkunjung ke Indonesia. Setelah wabah corona merebak, saat ini diketahui bahwa wisatawan asal China yang datang ke Indonesia berkurang drastis.

Tak hanya pendapatan dari pengelola objek wisata yang berkurang, tapi juga pelaku industri wisata lain seperti, hotel, travel agent, driver, pemandu wisata, pengrajin, hinggga penjual souvenir. Pendapatannya akan menurun drastis. Untuk daerah-daerah yang menggantungkan ekonominya pada sektor pariwisata, tentu dampak virus corona menjadi pukulan berat.

Usaha-usaha mikro yang produknya bersinggungan dengan pariwisata juga akan terdampak. Namun, pelaku usaha mikro tidak boleh patah semangat. Berdasarkan kejadian-kejadian sebelumnya, usaha mikro lebih tahan resesi maupun krisis ekonomi. Tentu pelaku usaha mikro harus menerapkan strategi dan kiat-kiat hadapi resesi yang jitu.  

Tanggapan Pemerintah Indonesia

Menteri Keuangan Sri Mulyani telah memberikan pernyataan bahwa wabah virus corona memberikan dampak ekonomi yang lebih kompleks dan rumit. Menurutnya virus corona ini langsung menyangkut keselamatan dan kesehatan dari manusia. Jadi masalah ini akan langsung menghantam sektor riil di masyarakat.

Sri Mulyani juga mengungkapkan bahwa pemerintah akan membuat aturan yang akan bisa mengurangi dampak langsung di sektor riil. Selain itu, ia juga berpesan kepada masyarakat untuk tidak terlalu merasa ketakutan hingga tidak melakukan kegiatan apa pun.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang ditargetkan sebesar 5,3% pada tahun ini sepertinya juga tidak akan tercapai. Namun, misalnya bisa tumbuh hingga 5% saja maka sudah dianggap cukup baik. Salah satu strategi yang bisa dilakukan pemerintah pada saat ini yaitu dengan mengoptimalkan APBN serta menjaga daya beli dari masyarakat. 


Anda juga dapat mengakses informasi tentang tips-tips keuangan, gaya hidup, produk keuangan, hingga alternatif investasi di blog.modalku.co.id. Awali kebebasan finansial dengan memperkaya literasi keuangan bersama kami. Ayo jelajahi blog kami!

Artikel blog ini ditulis oleh Modalku, pionir platform peer-to-peer (P2P) lending di Indonesia dan Asia Tenggara. Kami menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tanah air dan membuka opsi investasi alternatif dengan pengembalian menarik bagi pemberi pinjaman.

Modalku memenangkan Global SME Excellence Award dari ITU Telecom, salah satu badan organisasi PBB, di akhir tahun 2017. Modalku juga memenangkan Micro Enterprise Fintech Innovation Challenge yang diselenggarakan oleh United Nations Capital Development Fund (UNCDF) dan UN Pulse Lab Jakarta di tahun 2018. Visi kami adalah memberdayakan UMKM untuk bersama memajukan ekonomi Indonesia. Lihat statistik perkembangan pesat Modalku di sini.

Tertarik mengenal Modalku lebih baik? Klik di sini.

Modalku secara resmi berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).


Leave a Reply