Investasi Dulu, Beli Rumah Kemudian

Bagi sebagian orang, memiliki hunian adalah sebuah pencapaian. Setelah sekian lama menyewa kos, kontrakan, atau apartemen, kini saatnya Anda beli rumah sendiri. Makin tahun, harga properti semakin mahal, sehingga tidak heran jika rumah menjadi kebutuhan yang mendesak.  

Rumah tidak hanya bangunan, tapi juga bentuk investasi properti. Meski demikian, tidak mudah untuk memiliki rumah. Oleh karena itu, sebelum membeli rumah Anda perlu mengumpulkan uang dalam jumlah tertentu. Salah satunya caranya adalah dengan berinvestasi. Setelah uangnya cukup Anda bisa mulai langkah untuk memiliki rumah. Memang tidak mudah, tapi dengan perencanaan yang baik Anda bisa melakukannya.

Tentukan Jumlah Dana untuk Uang Muka

Selain secara kontan, membeli rumah juga bisa melalui mekanisme Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Kredit Pemilikan Rumah (KPR) adalah salah satu cara pembelian rumah yang populer di masyarakat. Harga rumah yang mahal sulit dijangkau oleh sebagian besar masyarakat. Oleh karena itu, lembaga keuangan seperti bank menyediakan pembiayaan berupa KPR. Dengan cara ini, rumah dapat dibeli dengan cara mencicil. Biasanya, dalam mencicil ada uang muka atau DP (down payment) yang harus dibayarkan. 

Meski kini pemerintah punya kebijakan DP ringan, mempersiapkan DP tetap diperlukan, karena semakin besar DP, semakin ringan cicilannya. Tentukan jumlah DP yang Anda inginkan. Dengan mengetahui jumlah DP di awal, Anda bisa memilih cara untuk mendapatkan DP tersebut. Apakah cukup hanya dengan menabung? Apakah Anda perlu mencari pekerjaan atau bisnis sampingan? Atau Anda ingin berinvestasi? Jika berinvestasi, instrumen apa yang imbal hasilnya mampu dijadikan DP?

Pilih Instrumen Investasi untuk Beli Rumah

Setelah menentukan produk KPR, pilih instrumen investasi yang tepat untuk mencapai jumlah DP yang Anda tetapkan. Jangan lupa tentukan juga jangka waktunya. Misalnya, Anda ingin membayar DP tersebut 5 tahun lagi, maka pilih reksa dana atau deposito.

Pertimbangkan juga risiko investasi pada instrumen yang Anda pilih. Apakah Anda mampu menanggung risiko tersebut? Sesuaikan produk dengan profil risiko Anda. Jangan sampai saat dana dibutuhkan, instrumen Anda malah mengalami kerugian. Edukasi diri Anda dengan berbagai informasi tentang investasi. Langkah ini penting agar Anda tidak membeli instrumen yang tidak sesuai.

Lihat juga: “Edukasi Sebelum Investasi untuk Memaksimalkan Portofolio”

Selain KPR, Anda juga bisa memilih untuk membeli rumah secara cash. Jika demikian, maka Anda perlu memilih instrumen investasi jangka panjang, karena dana yang dibutuhkan sangat besar. Saat ini, ada beragam instrumen investasi jangka panjang. Anda bisa pilih dari yang konvensional seperti membeli dan menyimpan logam mulia, hingga metode yang lebih modern seperti asuransi dan saham blue chip.

Diversifikasikan dana Anda ke berbagai aset-aset yang potensial. Dalam berinvestasi selalu ingat prinsip “Jangan meletakkan telur dalam satu keranjang. Risiko investasi dapat lebih terkendali saat Anda melakukan diversifikasi. Selain diversifikasi, Anda juga perlu menginvestasikan kembali return yang Anda dapat. Jangan tergoda untuk membelanjakan uang tersebut. Ingat! Tujuan Anda adalah membeli rumah secara tunai.

Beli Rumah Idaman

Setelah uang muka terkumpul, Anda bisa mulai memilih rumah idaman. Sebagai bentuk investasi properti, Anda perlu mempertimbangkan beberapa faktor yang akan memengaruhi harga rumah di masa depan. Lantas, apa saja faktor yang perlu dipertimbangkan saat membeli rumah?

Lokasi

Lokasi merupakan faktor penting saat memilih hunian. Dengan lokasi yang strategis, Anda lebih mudah menjangkau beragam fasilitas. Contohnya, jarak yang dekat dengan rumah sakit, sekolah, kampus, atau perkantoran. 

Saat memilih rumah, Anda juga perlu mempertimbangkan gaya hidup, khususnya dalam bertransportasi. Apakah Anda orang yang suka menggunakan kendaraan pribadi seperti motor dan mobil? Atau Anda adalah pengguna kendaraan umum berbasis rel seperti KRL (Kereta Rel Listrik), MRT (Mass Rapid Transit), LRT (Light Rail Transit)? Pertimbangan ini akan memengaruhi lokasi hunian yang Anda pilih. Jika Anda pengguna kendaraan pribadi, maka Anda bisa memilih lokasi yang dekat jalan raya atau pintu tol. Untuk pengguna transportasi berbasis rel, maka pilihlah rumah dekat stasiun.

Kemudahan akses transportasi merupakan poin penting, karena akan menghemat waktu perjalanan Anda ke tempat kerja. Saat survei rumah, hitung jarak tempuh rumah dan stasiun atau pintu tol terdekat. Hal ini tentu dapat mendukung mobilitas Anda sehari-hari secara maksimal.

Lihat juga: “Tips Memilih Rumah untuk Milenial”

Legalitas

Legalitas menjadi aspek yang tidak boleh dilupakan saat membeli rumah. Tidak seperti membeli barang pada umumnya, pembelian rumah terikat dengan berbagai aturan hukum. Kenali berbagai jenis kepemilikan rumah dan properti. Pada dasarnya ada dua, yakni hak milik yang dibuktikan dengan SHM (Sertifikat Hak Milik) dan HGB (Hak Guna Banguna). Sehingga pastikan Anda membeli rumah dengan salah satu diantara keduanya. Sebaiknya belilah rumah yang status sertifikatnya sudah SHM, karena SHM merupakan jenis sertifikat dengan kepemilikan hak atas penuh oleh pemegang sertifikat tersebut.

Selain SHM, pastikan juga kredibilitas developer. Proyek mana saja yang sudah berhasil mereka bangun? Sejauh mana reputasinya? Dengan membeli rumah di developer yang kredibel, di masa depan Anda tidak akan direpotkan lagi dengan masalah legalitas rumah Anda. Selain itu, pengembang yang baik juga akan melengkapi syarat-syarat pembelian rumah saat akad KPR, seperti Akta Jual Beli, Akta Notaris, hingga IMB (Ijin Mendirikan Bangunan).

Jenis Rumah

Pemilihan jenis rumah ini tergantung pada kondisi serta gaya hidup Anda. Jika  Anda ingin punya rumah yang dekat pusat kota dan menyukai privasi Anda bisa pilih rumah vertikal seperti apartemen. Namun, jika Anda menginginkan ruang yang lebih lega dan suka bersosialisasi, Anda bisa pilih rumah di pinggiran kota atau suburban.

Ada perbedaan mendasar antara apartemen dan rumah tapak, salah satunya legalitas. Untuk rumah, SHM sudah pasti harus ada. Membeli rumah sama artinya dengan membeli tanahnya juga. Sementara untuk apartemen, hanya diberikan sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) yang batas waktu penggunaannya hanya sampai 20 tahun. Memang ada pemilik apartemen yang mendapatkan SHM, namun mereka tetap diwajibkan untuk memperpanjang HGB.

Periksa Kondisi Keuangan

Setelah yakin dengan lokasi, legalitas, hingga jenis calon rumah Anda, periksa kembali kondisi keuangan Anda. Produk KPR mana yang sesuai dengan kondisi keuangan Anda? Lakukan riset secara online terlebih dahulu. Kini, ada banyak platform pembanding berbagai produk-produk keuangan. Anda juga bisa langsung menghubungi pihak developer melalui situs jual beli rumah. Biasanya mereka sudah bekerja sama dengan pihak bank untuk pembelian KPR.

Kondisi keuangan akan memengaruhi tenor dan jumlah cicilan. Pertimbangkan juga kemungkinan peningkatan penghasilan Anda selama beberapa waktu ke depan. Jika prospek karir Anda cemerlang, maka optimislah saat mengajukan KPR.

Tentu, uang muka juga berpengaruh. Makin tinggi uang muka makin besar juga cicilan. Jika belum siap dengan uang muka, jangan khawatir. Kini pihak bank pun banyak yang memberikan pinjaman KPR maksimal dengan jangka waktu 25 tahun. Hal ini tentu sangat meringankan Anda dalam melakukan pembayaran cicilan nantinya. Sambil membayar cicilan, Anda bisa mulai berinvestasi. Saat menunjukkan return yang signifikan Anda bisa mengajukan pelunasan lebih cepat atau tenor yang lebih pendek. Dengan demikian, rumah lebih cepat lunas dan Anda pun bisa fokus berinvestasi ke berbagai instrumen.


Memiliki rumah memang tidak mudah, tapi Anda bisa merencanakannya. Investasi adalah salah satu cara terbaik agar Anda bisa menjangkau harga rumah yang makin mahal dari hari ke hari. Mau membeli secara kredit ataupun cash, Anda perlu mempersiapkan dana yang tidak sedikit. Mulailah investasi saat ini, untuk rumah Anda di kemudian hari.

Artikel blog ini ditulis oleh Modalku, pionir platform peer-to-peer (P2P) lending di Indonesia dan Asia Tenggara. Kami menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tanah air dan membuka opsi investasi alternatif dengan pengembalian menarik bagi pemberi pinjaman.

Modalku memenangkan Global SME Excellence Award dari ITU Telecom, salah satu badan organisasi PBB, di akhir tahun 2017. Modalku juga memenangkan Micro Enterprise Fintech Innovation Challenge yang diselenggarakan oleh United Nations Capital Development Fund (UNCDF) dan UN Pulse Lab Jakarta di tahun 2018. Visi kami adalah memberdayakan UMKM untuk bersama memajukan ekonomi Indonesia. Lihat statistik perkembangan pesat Modalku di sini.

Tertarik mengenal Modalku lebih baik? Klik di sini.

Modalku secara resmi terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Leave a Reply