Sudahkah Anda Mengenali Risiko Produk-Produk Keuangan Ini?

Setiap produk investasi yang menguntungkan sudah dapat dipastikan memiliki potensi risiko. Risiko investasi tentu berbeda, tergantung dari masing-masing jenis instrumen. Oleh karena itu, sebagai investor Anda harus mampu membaca peluang dan mengendalikan risiko investasi dengan bijaksana.

Secara umum, risiko investasi akan selalu melekat pada berbagai produk keuangan, seperti risiko likuiditas, risiko inflasi, risiko pajak, risiko bunga, bahkan risiko gagal bayar dari produk alternatif investasi yang telah Anda pilih. Agar tidak salah langkah dalam menentukan keputusan terkait investasi, yuk cari tahu dulu informasi lengkap tentang risiko yang dapat ditimbulkan dari produk-produk keuangan di bawah ini. Simak dan catat baik-baik, ya!

Lihat juga: “Menumpuk Pundi, Meminimalkan Rugi dengan Mengenali Risiko Investasi”

Risiko Produk Asuransi

Alternatif investasi melalui produk asuransi belakangan cukup populer di kalangan masyarakat tanah air. Melalui produk asuransi ini, sebagian premi yang Anda bayarkan akan dialokasikan sebagai coverage atas risiko yang dilindungi, sementara sisanya akan ditempatkan pada beberapa instrumen investasi. Meski sudah mengantongi izin resmi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), bukan berarti produk asuransi bebas risiko.

Sebaliknya, instrumen investasi yang dibalut dengan asuransi ini justru memiliki risiko yang cukup besar terhadap turunnya bunga investasi. Terutama ketika perusahaan asuransi memiliki kondisi ekonomi yang kurang stabil. Tidak sedikit investor yang memanfaatkan produk asuransi sebagai instrumen investasi justru harus mengalami risiko gagal bayar. Artinya, dana yang diinvestasikan tidak dapat dikembalikan oleh penyedia investasi sesuai pada waktu yang dijanjikan.

Risiko Deposito

Deposito masih menjadi primadona instrumen investasi yang menguntungkan bagi sebagian besar investor. Hal ini dikarenakan instrumen investasi ini memiliki keamanan yang terjamin, memberikan pendapatan per tenor, hingga risiko investasi yang cukup rendah. Akan tetapi, nilai uang yang disimpan pada deposito bisa berkurang seiring dengan laju inflasi yang terjadi. Dengan demikian, bunga deposito yang diperoleh pun tidaklah besar, bahkan cenderung rendah jika nilai uang sudah semakin menurun.

Risiko Saham

Tertarik memulai investasi saham? Tentu instrumen ini bukan pilihan yang buruk untuk Anda. Terlebih ada keuntungan berupa capital gain dan dividen yang bisa didapatkan melalui investasi saham. Sayangnya, investasi saham cukup berisiko. Termasuk capital loss atau ketika harga jual saham lebih rendah dibandingkan dengan harga belinya. Ada pula risiko kerugian ketika harga saham mengalami penurunan harga secara drastis dalam kurun waktu singkat.

Tentu saja, Anda bisa meminimalkan risiko investasi saham. Pertama, Anda perlu memahami cara kerja pasar modal. Kedua, pilih saham yang berkualitas dan berkinerja baik. Ketiga, jangan lupa untuk melakukan diversifikasi.

Lihat juga: “Tips Cerdas Berinvestasi di Pasar Modal”

Risiko Reksa Dana

Reksa dana menjadi alternatif investasi bagi para investor pemula yang memiliki modal terbatas. Hanya dengan ratusan ribu saja, Anda sudah bisa memulai investasi ini. Namun demikian, reksa dana juga punya risiko. Terlebih jika aset dalam portfolio suatu reksa dana sulit dicairkan. Artinya, sebagai pengelola, Manajer Investasi sulit menjual kembali portofolio reksa dana tersebut. Risiko wanprestasi atau gagal bayar pun dapat terjadi akibat keterlambatan pengembalian dana investasi Anda.

Risiko Investasi Properti

Bagi investor yang memiliki modal investasi cukup besar dari bisnis sampingan, investasi properti bisa menjadi pilihan terbaik. Instrumen investasi yang menguntungkan ini dapat berupa rumah kos, kontrakan, apartemen yang disewakan, maupun guest house apabila lokasinya berada di dekat objek wisata. Meski tergolong bisnis sampingan yang akan selalu dibutuhkan, ternyata alternatif investasi ini tetap memiliki sejumlah risiko.

Investasi properti memiliki kemungkinan kosong atau properti belum memiliki penyewa. Selain tidak mendapatkan income, properti dalam keadaan kosong justru lebih mudah rusak karena tidak terawat. Belum lagi Anda masih harus membayar angsuran serta biaya tagihan-tagihan lain, padahal tidak ada income yang masuk. Di sisi lain, likuiditas instrumen investasi ini cukup rumit dan sulit ditukar dengan uang dalam keadaan mendesak.

Risiko Alternatif Investasi P2P Lending

Satu lagi alternatif investasi yang saat ini mulai naik daun di Indonesia, yaitu melalui financial technology berbentuk P2P lending. Return dari investasi P2P lending ini bahkan bisa mencapai 18% – 20% per tahun. Seperti instrumen lainnya, alternatif investasi P2P lending juga punya risiko, yakni gagal bayar/default. Ini terjadi saat peminjam tidak dapat memenuhi tanggung jawabnya melunasi pinjaman.

Tapi tenang, risiko memang tidak bisa dieliminasi, tapi bisa diminimalkan. Bagaimana caranya? Lakukan diversifikasi pinjaman.  Selalu ingat dengan kalimat “Jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang”? Ini adalah dasar prinsip diversifikasi. Berikanlah pendanaan ke sebanyak mungkin pinjaman. 

Sebagai pemberi pinjaman, Anda juga perlu mempelajari beragam informasi tentang calon peminjam. Salah satu “alat” untuk mempelajarinya adalah dengan factsheet Modalku. Factsheet merupakan kumpulan berbagai fakta dan informasi yang berkaitan dengan peminjam beserta kegiatan bisnisnya. Factsheet diberikan kepada calon pemberi pinjaman agar mereka dapat mempertimbangkan risiko pendanaan yang akan mereka berikan. 

Lihat juga: “Menakar Risiko Alternatif Investasi dengan Factsheet”


Itulah tadi beberapa risiko investasi yang ditimbulkan dari sejumlah instrumen atau produk keuangan yang biasa digunakan. Meski investasi yang menguntungkan bisa memberi Anda income, selalu pertimbangkan risiko yang ditimbulkan dari setiap produk keuangan agar Anda tidak mengalami kerugian finansial dalam jumlah besar.

Artikel blog ini ditulis oleh Modalku, pionir platform peer-to-peer (P2P) lending di Indonesia dan Asia Tenggara. Kami menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tanah air dan membuka opsi investasi alternatif dengan pengembalian menarik bagi pemberi pinjaman.

Modalku memenangkan Global SME Excellence Award dari ITU Telecom, salah satu badan organisasi PBB, di akhir tahun 2017. Modalku juga memenangkan Micro Enterprise Fintech Innovation Challenge yang diselenggarakan oleh United Nations Capital Development Fund (UNCDF) dan UN Pulse Lab Jakarta di tahun 2018. Visi kami adalah memberdayakan UMKM untuk bersama memajukan ekonomi Indonesia. Lihat statistik perkembangan pesat Modalku di sini.

Tertarik mengenal Modalku lebih baik? Klik di sini.

Modalku secara resmi terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Leave a Reply