Tingkat Default dalam Platform Peer-to-Peer Lending

Artikel “The Ultimate Crowdfunding Guide” dari Crowdfund Insider menjelaskan bahwa risiko yang harus ditanggung pemberi pinjaman saat melakukan alternatif investasi di platform peer-to-peer (P2P) lending adalah gagal bayar (default). Setiap platform P2P lending memiliki kebijakan masing-masing pada kasus default . Oleh karena itu, semua pemberi pinjaman harus paham dengan kebijakan-kebijakan tersebut agar mereka bisa melindungi diri mereka sendiri.

Karena tiap platform P2P lending memiliki kebijakan default sendiri dan karena model bisnis P2P lending masih tergolong baru, kita harus berhati-hati saat menyamaratakan tingkat gagal bayar (default rates) di setiap platform P2P lending. Modalku berusaha agar angka gagal bayar tidak jauh dari bank dan institusi finansial lainnya. Hal ini dilakukan agar pemberi pinjaman tetap mendapatkan tingkat pengembalian yang menarik.

Karena industri P2P lending masih muda, investor dengan toleransi risiko rendah menganggap bahwa P2P lending adalah instrumen alternatif yang tidak bisa diprediksi. Secara umum, P2P lending sebagai alternatif investasi dianggap memiliki risiko tinggi, namun memberikan keuntungan yang juga lebih tinggi.

Apakah keyakinan di atas benar dan valid? Mari kita lihat tren global tingkat gagal bayar (default rates) di platform P2P lending.

Studi Kasus: Angka Gagal Bayar P2P Lending di USA

Mari kita mulai dengan tingkat default platform-platform asal negeri Paman Sam. Di artikel “ Default Rates at Lending Club & Prosper: When Loans Go Bad”, penulis menganalisis riwayat dan tren dari kasus default dua platform P2P lending terkemuka di Amerika Serikat. Dari analisis tersebut, kita bisa mengetahui gambaran tingkat default di industri P2P lending.

(Catatan: Artikel lendingmemo ini dipublikasikan pada tahun 2014. Mungkin beberapa informasi sudah tidak relevan, namun analisisnya masih layak dibaca.)

Penulis artikel menunjukkan bahwa di tahun 2007 – 2008, perekonomian Amerika Serikat sedang memburuk. Selain itu, dua platform P2P lending besar Amerika Serikat, yakni Lending Club dan Prosper saat itu baru berdiri dan sedang beroperasi di bawah credit model awal yang belum sempurna. Tingkat default di kurun waktu tersebut pun sulit dihindari. Sejak tahun 2010, kedua platform ini telah mencapai tingkat default rata-rata 5% dan kemungkinan akan memiliki tingkat pembayaran yang solid ke depannya.

Artikel tersebut berakhir dengan kesimpulan positif tentang industri P2P lending. Penulisnya berkata: Saya melihat penyempurnaan algoritma underwriting dan pemasaran bagi peminjam yang mendorong modal dari pemberi pinjaman serta teknologi yang terus disempurnakan hingga sistem yang dimiliki stabil. Saya melihat analisis, kerja keras, serta pengulangan analisis dalam proses ini. Hasilnya adalah salah satu instrumen investasi yang paling sederhana dan kreatif yang pernah dilihat negara ini.

Kombinasi antara tim yang inovatif serta kebijakan kredit yang ketat akan mengembangkan platform P2P lending, menurunkan tingkat default, dan memberikan pengembalian yang menarik bagi pemberi pinjaman. Kuncinya adalah memilih platform P2P lending yang terpercaya untuk menyalurkan dana pinjaman.

Studi Kasus Lain dan Beberapa Temuan Penting

Mari kita lanjut ke platform P2P lending yang terkenal di UK, yaitu Funding Circle. Pada halaman statistiknya, ditampilkan bahwa persentase pinjaman yang gagal bayar dibandingkan total pinjaman (alias tingkat default) terhitung stabil sejak Funding Circle berdiri, yakni tahun 2012.

Bagaimana dengan platform kami Modalku? Berikut adalah halaman statistik kami. Secara historis, sejak berdiri hingga sekarang tingkat default Modalku mengalami perubahan, termasuk kenaikan dan penurunan, hingga akhir-akhir ini tingkat default di grafik mulai stabil. Kondisi ini mencerminkan apa yang terjadi di Amerika Serikat dan UK, di mana perkembangan berkelanjutan suatu platform P2P lending serta kebijakan kredit yang baik akan menstabilkan tingkat default.

Bacaan lain yang berkaitan dengan risiko dalam P2P lending adalah hasil kajian Asosiasi Keuangan Peer-to-Peer Inggris atau P2PFA. Beberapa poin terkait kajian tersebut adalah:

  • Industri P2P lending telah menciptakan lebih banyak pilihan di pasar keuangan
  • Platform P2P lending melakukan penilaian risiko kredit dengan menggunakan praktik terbaik dalam industri keuangan
  • P2P lending tidak menciptakan risiko sistemik. Platform P2P lending ada di posisi yang baik untuk bertahan apabila terjadi siklus kredit yang buruk. Untuk menurunkan tingkat pengembalian bagi pemberi pinjaman menjadi di bawah nol, tingkat default di P2P lending perlu meningkat setidaknya 3 kali lipat.

Mari kita kembali ke pertanyaan sebelumnya. Apakah P2P lending memiliki risiko tinggi? Belum tentu.

Studi P2PFA memunculkan dua poin penting, yakni perlunya kerangka regulasi yang baik untuk industri P2P lending serta pemberi pinjaman yang sadar akan adanya risiko. Pada poin pertama, OJK mengatur regulasi untuk layanan P2P lending melalui Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) nomor 77. Modalku selalu menyesuaikan dengan peraturan regulasi yang ada, kami juga sudah resmi terdaftar dan diawasi oleh OJK. Uji kelayakan dan proses penilaian kredit juga dilakukan dengan serius.

Poin kedua mengingatkan bahwa selalu ada risiko bagi pemberi pinjaman. Tapi jangan khawatir, ada beberapa cara untuk memitigasi risiko P2P lending.

Mengelola Risiko P2P Lending

Bagaimana cara mengelola risiko alternatif investasi di P2P lending? Anda harus rajin diversifikasi dan melakukan pendanaan ulang dari pengembalian yang diperoleh.

Diversifikasi artinya menyalurkan dana Anda ke sebanyak mungkin pinjaman untuk menurunkan risiko kerugian apabila terjadi default. Semakin Anda diversifikasi, semakin terlindungi portofolio Anda. Default pun tidak mengganggu tingkat pengembalian Anda. Bila Anda tidak diversifikasi, satu pinjaman yang default bisa menyebabkan kerugian besar.

Contoh: Anda menyalurkan Rp 10 juta ke 10 pinjaman yang berbeda, masing-masing Rp 1 juta. Bila satu pinjaman default, Anda tetap dapat pengembalian dari 9 pinjaman lainnya. Bandingkan bila Anda mendanai Rp 10 juta ke dalam 1 pinjaman lalu pinjaman tersebut default. Dana Rp 10 juta tersebut semua habis.

Pendanaan ulang berarti menggunakan pengembalian yang didapatkan dari pinjaman sebelumnya untuk mendanai pinjaman baru. Aktivitas ini memaksimalkan pengembalian Anda. Tanpa pendanaan ulang, pemberi pinjaman hanya mendapatkan pengembalian sesuai tingkat bunga pinjaman. Tetapi dengan pendanaan ulang, Anda akan memaksimalkan (bisa hingga berlipat ganda) pengembalian sambil melakukan diversifikasi untuk mengelola risiko.

Ketika pemberi pinjaman menyadari betul-betul risiko P2P lending dan melakukan diversifikasi serta pendanaan secara konsisten, maka keuntungan alternatif investasi P2P lending lebih besar dibandingkan risikonya. Hasilnya, pemberi pinjaman akan terus mendapatkan pengembalian positif.


Artikel blog ini ditulis oleh Modalku, platform peer-to-peer (P2P) lending nomor 1 di Indonesia dan Asia Tenggara. Kami menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tanah air dan membuka opsi investasi alternatif dengan pengembalian menarik bagi pemberi pinjaman. Tertarik mengenal Modalku lebih baik? Klik di sini.

Leave a Reply