Butuh Biaya Pendidikan? Pilih Asuransi, Investasi, Tabungan atau Pinjaman?

Menteri pendidikan Indonesia yang baru, Nadiem Makarim baru saja dilantik pada 23 Oktober 2019 lalu. Memang belum ada kebijakan baru yang menggebrak dunia pendidikan Indonesia. Namun jelas ada tumpukan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan menteri baru. Salah satunya adalah masalah biaya pendidikan.

Menurut rilisan Badan Pusat Statistik (BPS), biaya pendidikan di Indonesia terus naik sehingga menyebabkan terjadinya inflasi. Hal ini dapat dilihat pada laporan bulan Agustus 2019 lalu. Kenaikan biaya pendidikan adalah penyumbang terbesar laju inflasi kala itu.

Apa yang bisa dilakukan orang tua untuk mengatasi kenaikan tersebut? Strategi apa yang harus diambil di kala membutuhkan biaya pendidikan? Tabungan, asuransi, investasi atau justru mengajukan pinjaman dana?

Lihat juga: “Mengapa Asuransi Pendidikan Perlu Dipersiapkan Sejak Dini?”

Tidak Cukup Hanya dengan Menabung

Menabung adalah strategi yang paling konvensional dalam menyiapkan biaya pendidikan anak. Bagi kebanyakan orang tua di Indonesia, cara ini dianggap masih efisien. Namun pada kenyataannya, menabung saja tidak cukup. Terlebih jika kenaikan biaya pendidikan semakin tinggi tiap tahunnya.

Mengapa demikian? Ini karena ada banyak sekali celah dalam tabungan konvensional. Pertama, tabungan konvensional memiliki biaya administrasi yang membuat uang Anda terus terpotong tiap bulannya. Kedua, tabungan konvensional juga bisa diambil sewaktu-waktu sehingga uang yang awalnya untuk pendidikan anak beralih untuk keperluan lain.

Jika Anda tetap ingin menggunakan tabungan untuk mempersiapkan biaya pendidikan anak, sebaiknya pilih tabungan khusus pendidikan. Tabungan jenis ini hanya dapat ditarik dalam jangka waktu tertentu yang sudah disepakati nasabah. Dengan begitu, uang untuk biaya pendidikan tidak akan lari untuk kebutuhan lain.

Lihat juga: “Menabung atau Investasi dulu?”

Mengapa Asuransi?

Selain tabungan, Anda juga bisa mempertimbangkan asuransi pendidikan. Mengapa asuransi pendidikan? Asuransi pendidikan memiliki dua fungsi sekaligus, proteksi dan investasi. Dengan fungsi proteksi, Anda selaku tertanggung akan mendapatkan perlindungan terhadap risiko sakit atau kecelakaan.

Sedangkan fungsi investasi mengindikasikan bahwa dana yang Anda asuransikan akan dikelola layaknya instrumen investasi. Artinya, Anda bisa mendapatkan return yang tinggi. Ini karena suku bunga asuransi menyesuaikan performa dari instrumen investasi itu sendiri. Semakin baik performanya maka semakin besar peluangnya untuk mendapatkan return yang tinggi.

Apakah Asuransi Lebih Baik dari Investasi?

Lalu, apakah asuransi pendidikan ini lebih baik dari instrumen investasi lainnya? Jawabannya belum tentu. Jika melihat fungsi investasi dalam sebuah asuransi pendidikan, Anda tentu sadar akan adanya nilai risiko di dalamnya meski sedikit. Hal ini sama dengan instrumen investasi lainnya yang juga memiliki risiko.

Jika performa investasi pada asuransi buruk, maka return beserta manfaat asuransi yang akan didapat pun tidak akan maksimal. Instrumen investasi lainnya pun sama, jika trennya memang sedang negatif maka return yang didapat pun kecil, bahkan bisa berisiko rugi.

Namun Anda bisa tetap berinvestasi dengan memilih instrumen yang relatif kecil risikonya. Salah satunya adalah reksadana. Pengelolaannya yang dibantu oleh manajer investasi (MI) membuat investasi ini cocok bagi pemula. Selain itu, Anda juga bisa melakukan diversifikasi investasi untuk menghindari tren negatif pada satu jenis instrumen investasi.

Utang untuk Pendidikan

Selain cara-cara di atas, ternyata masih ada cara lain untuk mendapatkan biaya pendidikan. Cara tersebut adalah utang pendidikan atau lebih dikenal dengan student loan. Utang pendidikan ini sudah umum dijumpai di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris. Di Indonesia sendiri, program student loan mulai diluncurkan tahun 2018 lalu.

Per April 2018, tercatat ada tiga bank BUMN yang meluncurkan program pembiayaan pendidikan ini. Ketiga bank tersebut adalah Bank Mandiri, BRI, dan BTN. Plafon serta tenor yang ditawarkan berbeda-beda untuk setiap bank. Anda tinggal memilih mana yang paling sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan.


Ada banyak cara yang bisa ditempuh untuk memenuhi biaya pendidikan. Setiap cara memiliki kelebihan serta risikonya masing-masing. Jangan gegabah dalam mengambil langkah. Lakukan perbandingan, banyak-banyak mencari informasi, agar si kecil bisa terus mengenyam pendidikan hingga tingkat lanjut.

Artikel blog ini ditulis oleh Modalku, pionir platform peer-to-peer (P2P) lending di Indonesia dan Asia Tenggara. Kami menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tanah air dan membuka opsi investasi alternatif dengan pengembalian menarik bagi pemberi pinjaman.

Modalku memenangkan Global SME Excellence Award dari ITU Telecom, salah satu badan organisasi PBB, di akhir tahun 2017. Modalku juga memenangkan Micro Enterprise Fintech Innovation Challenge yang diselenggarakan oleh United Nations Capital Development Fund (UNCDF) dan UN Pulse Lab Jakarta di tahun 2018. Visi kami adalah memberdayakan UMKM untuk bersama memajukan ekonomi Indonesia. Lihat statistik perkembangan pesat Modalku di sini.

Tertarik mengenal Modalku lebih baik? Klik di sini.

Modalku secara resmi berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Leave a Reply