Reksadana, Sukuk, atau Deposito, Pilih yang Mana?

Berencana untuk melakukan investasi? Ada banyak opsi instrumen investasi yang bisa Anda pilih. Beberapa yang paling sering direkomendasikan adalah reksadana, sukuk, dan deposito. Meski sering muncul bersamaan dalam pembahasan instrumen investasi, ketiganya memiliki karakteristik yang berbeda. Jadi, di antara reksadana, sukuk, dan deposito, mana yang cocok untuk Anda?

Definisi Instrumen

Dari definisinya saja, ketiga instrumen investasi ini sudah berbeda. Reksadana adalah pola pengelolaan dana yang diperuntukkan bagi orang-orang untuk berinvestasi dalam instrumen yang tersedia di pasar. Caranya dengan membeli unit penyertaan reksadana, di mana dananya dikelola oleh Manajer Investasi atau MI dalam portofolio investasi (bisa berupa saham, obligasi, pasar uang dan lainnya).

Sukuk adalah Surat Berharaga Syariah Negara (SBSN) Ritel. Sukuk yang juga kerap disebut sebagai Sukuk Ritel ini adalah surat berharga yang dirilis berdasar prinsip syariah. Sukuk dapat dijual para ritel ataupun perseorangan dengan syarat bahwa orang tersebut haruslah warga negara Indonesia. Anda bisa mendapatkan sukuk melalui agen penjual dengan jumlah yang sudah ditentukan sebelumnya. Bagi investor, sukuk menjadi alternatif pilihan investasi selain obligasi konvensional.

Berbeda lagi dengan deposito yang didefinisikan sebagai salah satu jenis jasa tabungan yang merupakan produk bank. Dana yang ada dalam deposito dijamin oleh pemerintah melalui Lembaga Penjamin Simpanan atau LPS dengan berbagai ketentuan.

Perbedaan Masing-masing Instrumen Investasi

Perbedaan dari ketiga instrumen ini bisa dilihat dari sifat instrumen, tenor, imbalan, perdagangan di pasar sekunder dan jaminan pemerintah. Untuk Sukuk, sifatnya adalah penyertaan terhadap aset SBSN, sedangkan deposito bersifat tabungan, dan reksadana bersifat portofolio efek.

Terkait dengan tenor, sukuk bisa memiliki tenor mencapai dua tahun, sedangkan deposito terbagi menjadi 3, 6, atau 12 bulan. Berbeda lagi dengan reksadana yang tenornya disesuaikan dengan masing-masing orang. Imbalan dari sukuk dibayarkan setiap bulan, sedangkan deposito imbalannya berupa bunga yang dapat berubah setiap saat. Untuk reksadana, imbalannya bersifat NAB (Nilai Aktiva Bersih), atau sesuai dengan dana yang dikelola manajer investasi.

Sukuk dan Deposito tak bisa diperdagangkan di pasar sekunder, sedangkan reksadana bisa. Namun, berbeda dengan deposito, sukuk memiliki opsi early redemption di mana Anda bisa mencairkannya sebelum jatuh tempo. Jaminan pemerintah untuk masing-masing instrumen pun berbeda, di mana sukuk dijamin 100%, deposito dijamin hingga 2 miliar rupiah, dan reksadana tak memiliki jaminan pemerintah.

Bagaimana dengan Risikonya?

Risiko dari masing-masing instrumen ini pun berbeda. Bisa dikatakan sukuk memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan deposito. Pasalnya, sukuk memiliki dua risiko, yakni risiko pasar (market risk) dan risiko likuiditas (liquidity risk). Risiko pasar ini adalah potensi kerugian apabila tingkat bunga naik sehingga menyebabkan penurunan harga sukuk negara ritel di pasar sekunder. Sedangkan, risiko likuiditas adalah potensi kerugian apabila sebelum jatuh tempo pemilik sukuk yang memerlukan dana tunai mengalami kesulitan dalam menjual sukuk negara ritel di pasar sekunder pada tingkat harga wajar.

Namun, sukuk juga memiliki bunga yang lebih besar daripada deposito. Jika deposito hanya memberikan bunga sekitar 6%, maka bunga sukuk bisa mencapai 8.3%. Sehingga bila Anda bisa meminimalisir risikonya, maka sukuk lebih menguntungkan daripada deposito. Sedangkan reksadana yang bisa dibeli dengan harga murah kerap dikatakan sebagai investasi yang high risk, high return (risiko tinggi, pengembalian tinggi). Reksadana mudah didapatkan dengan imbalan yang umumnya lebih tinggi dari sukuk dan deposito, tetapi Anda harus cerdik dalam membagi porsi portofolio instrumennya.

Siapa Cocok untuk yang Mana?

Sukuk yang mudah untuk dibeli lebih cocok untuk para pemilik modal pemula, Anda bisa membelinya dengan harga mulai 5 juta rupiah. Bila Anda memiliki pekerjaan tetap dengan gaji cukup, sukuk cocok untuk Anda.

Hal ini berbeda dengan deposito. Meski ada yang bisa didapatkan dengan uang 2.5 juta rupiah, namun mayoritas menawarkan di atas itu. Bahkan hingga 8 juta rupiah dengan bunga yang cukup rendah. Namun, karena deposito memiliki tingkat keamanan yang cukup mumpuni, Anda dengan gaji yang di atas UMR bisa mengambil instrumen ini.

Berbeda lagi dengan reksadana yang bisa didapatkan oleh berbagai jenis kalangan. Reksadana saham, misalnya, hanya denganĀ  modal 100 ribu rupiah saja Anda sudah bisa mendapatkannya. Beda lagi dengan reksadana pendapatan tetap yang mengacu pada obligasi dan surat utang Anda. Tak ketinggalan reksadana pasar uang yang hanya cocok untuk Anda yang memiliki kondisi keuangan dengan profil risiko konservatif.


Ketiga instrumen ini bisa menjadi fasilitas investasi yang baik, tergantung pada kebutuhan dan tujuan Anda berinvestasi. Bila masih bingung untuk memilih yang mana, Anda bisa berkonsultasi pada bank-bank terdekat di bagian customer service untuk mendapatkan penjelasan secara mendetail.

Artikel blog ini ditulis oleh Modalku, platform peer-to-peer (P2P) lending nomor 1 di Indonesia. Kami menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tanah air dan membuka opsi investasi alternatif dengan pengembalian menarik bagi pemberi pinjaman. Tertarik mengenal Modalku lebih baik? Klik di sini.

Leave a Reply