Mau Launching Produk? Hindari 7 Kesalahan Ini!

Setiap pengusaha pasti ingin produknya diminati oleh banyak orang. Selain mendongkrak penjualan, produk yang diminati juga menunjukkan loyalitas konsumen. Pencapaian tersebut menjadi kepuasan tersendiri bagi seorang pengusaha. Launching produk menjadi waktu yang menentukan kesuksesan bisnis Anda. Faktanya, masih banyak pengusaha yang melakukan kesalahan dalam meluncurkan produknya, Apa saja?

1. Tidak Menguji Produk

Meski penting, tidak jarang yang mengabaikan tahap ini. Seringkali, penjualan pertama  dianggap sebagai pengujian produk. Memang anggapan ini tidak sepenuhnya salah, namun alangkah baiknya jika produk yang akan “dilempar” ke pasar diuji dalam lingkup yang lebih kecil terlebih dahulu seperti di antara teman, kolega, dan keluarga.

Misalnya, Anda punya usaha katering. Sebelum menawarkan ke calon konsumen, Anda perlu memastikan rasa masakan Anda dapat diterima oleh banyak orang. Cobalah untuk memberikan tester masakan pada orang-orang terdekat. Anda bisa menggunakan kuesioner untuk mengumpulkan kesan dan persepsi mereka. Dengan kuesioner, kesan tentang masakan lebih terukur, sehingga Anda lebih mudah mengambil tindakan.

Bayangkan jika Anda langsung menawarkan masakan katering tanpa pengujian? Bisa saja orang-orang merasa kecewa karena rasa masakan tidak sesuai selera. Akibatnya, mereka enggan memesan makanan Anda. Reputasi Anda sebagai penjual makanan katering akan terganggu dan ini berpengaruh buruk bagi bisnis Anda ke depannya.

2. Enggan Menerima Feedback

Feedback sangat penting untuk memperbaiki kualitas produk. Feedback juga sangat berguna untuk menyesuaikan produk dengan selera konsumen. Mengacu pada contoh usaha katering di atas, feedback bisa didapatkan setelah pengujian tester masakan. Tampung berbagai feedback dari orang-orang yang sudah merasakan tester. Meski feedback bernada negatif, Anda harus menerimanya dengan lapang dada. Ingat bahwa feedback adalah modal untuk melakukan perbaikan dan pengembangan produk.

Menerima feedback tidak hanya dilakukan setelah pengujian, tapi juga setiap saat. Kita tidak bisa memastikan produk bisa selalu sesuai dengan kebutuhan semua orang. Saat pelanggan melakukan pemesanan ulang, artinya masakan katering sesuai dengan seleranya. Namun, tiba-tiba ada pelanggan baru yang protes karena masakan Anda terlalu pedas. Nah, feedback semacam ini sangat berguna. Anda bisa menanggapinya dengan meluncurkan produk baru yang level kepedasannya ringan. Dengan demikian, produk Anda makin berkembang dan pelanggan tetap puas.  

3. Promosi Kurang Maksimal

Promosi menjadi momen pengenalan produk agar bisa diterima oleh pasar. Tanpa promosi, bagaimana mungkin calon-calon pembeli mengenal produk Anda. Meski produk masih baru, bukan berarti Anda promosi dengan ala kadarnya. Justru karena produk baru, promosi harus dilakukan dengan maksimal. Jika tidak, pembeli tidak akan melirik produk Anda.

Sebagai tahap awal, Anda bisa mulai memberi tahu rekan bisnis, keluarga, teman tentang launching produk Anda. Kemudian minta mereka  mengajak keluarganya untuk mencoba produk. Bukan tidak mungkin, orang-orang yang sudah mencoba, akan merekomendasikan produk Anda di circle-nya. Memang terdengar simpel, tapi cara ini ampuh menarik calon konsumen.

Setelah dipromosikan pada orang-orang terdekat, Anda bisa mulai memperkenalkan produk pada khalayak. Kini, dunia online menjadi pilihan yang menarik untuk promosi. Selain karena jangkauannya luas, biaya promosinya pun lebih murah, bahkan bisa gratis. Keberadaan influencer pada berbagai platform media sosial dapat menarik minat konsumen. Jika dibandingkan dengan media promosi offline, jasa influencer lebih murah.

Lihat juga: “Mengenal Budaya Influencer”

4. Salah Menargetkan Konsumen

Tidak bisa dipungkiri bahwa konsumen adalah “nyawa” dari sebuah bisnis. Tanpa konsumen, mustahil bisnis bisa bertahan hidup. Oleh karena itu, seorang pebisnis harus memahami betul semua aspek tentang calon konsumennya. Mulai dari minat, selera, daya beli, kebiasaan, hingga penghasilan rata-ratanya. Tanpa memahami aspek-aspek tersebut, pebisnis bisa salah menargetkan konsumen.

Menurut pengamat ritel, Sugiyanto Wibawa, kesalahan menargetkan pasar bisa berdampak pada konsep bisnis secara keseluruhan. Misalnya, dari usaha kuliner berbasis pesanan (on demand)  menjadi ready stock. Dengan demikian, Anda pun harus merombak produk dari awal. 

Pada contoh usaha katering, kesalahan bisa terjadi saat Anda menargetkan konsumen pekerja bangunan, padahal selama ini Anda hanya melayani pekerja kantoran. Tanpa penyesuaian sedikit pun Anda memberikan produk yang sama. Tentu produk Anda akan mendapat banyak komplain. Pekerja kantoran dan pekerja bangunan adalah dua konsumen dengan kebutuhan dan asupan kalori berbeda. Dengan demikian, Anda harus mengubah konsep bisnis katering dari yang awalnya untuk orang kantoran, kini juga punya produk untuk pekerja bangunan.

5. Keliru Menetapkan Harga

Kesalahan berikutnya adalah harga. Banyak pebisnis pemula menganggap remeh produknya demi mendapatkan perhatian konsumen. Harga produk harus rasional, tidak bisa terlalu mahal atau terlalu murah. Harga produk juga harus mencerminkan perceived value yang akan masuk ke dalam benak konsumen. Pikirkan berapa yang konsumen siap bayar, itulah price-nya. Untuk mencapai level itu, suatu produk baru harus punya value.

Strategi meremehkan produk di awal bisa menjadi boomerang. Jika harga produk terlalu murah, pelanggan Anda akan meyakini bahwa produk atau layanan tersebut tidak berkualitas. Karena kalau produk atau layanan tersebut berkualitas, bagaimana mungkin dijual dengan harga sebegitu murah oleh pemiliknya. Atau sebaliknya, pembeli terbiasa dengan harga murah, namun pebisnis menaikkan harga secara tiba-tiba. Overpricing dan underpricing adalah dua hal yang sering dilakukan oleh pebisnis yang gagal memahami nilai yang mereka berikan pada produk mereka.

Jangan takut menetapkan harga yang lebih mahal, jika produk katering Anda memang punya nilai lebih. Misalnya, kemasan yang bagus, bahan higienis, dan rasa yang nikmat. Agar tidak ada komplain tentang harga makanan, targetkan konsumen dengan tepat. Telitilah rentang penghasilan konsumen mana yang dapat menjangkau produk Anda.

6. Nama “Brand” yang Kurang Menarik

Nama brand merupakan bagian yang sangat penting bagi sebuah produk. Sebagai identitas, nama brand dapat mewakili berbagai keunggulan, keunikan, hingga kisah di balik sebuah produk. Oleh karena itu, nama brand harus menarik dan mudah diingat. Jika tidak, calon pembeli tidak tertarik atau bahkan lupa dengan produk Anda.

Saat launching, brand menjadi wajah produk yang dilihat oleh calon-calon pembeli. Saat pertama kali diucapkan, brand juga harus merepresentasikan produk. Anda bisa menemukan nama brand yang menarik melalui proses brainstorming, eliminasi, dan uji coba. Selain harus disesuaikan dengan produk, nama brand juga harus sesuai dengan visi, filosofi, dan brand positioning.

Misalnya brand Modalku sebagai layanan peer-to-peer lending berbasis teknologi di Indonesia. Dengan visi memajukan ekonomi Indonesia melalui pembiayaan modal bagi UMKM (Usaha, Mikro, Kecil dan Menengah), nama “Modalku” mewakili jenis layanan yang diberikan yakni pinjaman modal usaha. Selain itu, kata “Modalku” juga mudah diingat dan diucapkan. 

7. Memperbaiki Masalah yang Sebenarnya Tidak Ada

Anda bisa saja memiliki makanan katering kelas premium dan terbaik di kelasnya. Namun, itu semua tidak berguna jika tidak ada pelanggannya. Mengapa produk bisa tidak punya pelanggan?

Bisnis bukan hanya tentang mencari keuntungan, tetapi juga tentang mengatasi masalah konsumen. Pebisnis katering mengatasi masalah orang-orang yang ingin makan dengan praktis, tanpa harus effort memasak atau mendatangi gerai makanan. Oleh karena itu, sebelum memutuskan meluncurkan produk katering, pastikan dulu calon konsumen Anda punya masalah tersebut. 

Bila calon konsumen Anda adalah tipikal orang yang suka makan di luar kantor, artinya mereka tidak butuh masakan yang praktis, seperti makanan katering. Pada titik ini, Anda perlu mencari masalah-masalah baru yang dialami konsumen. Kini, banyak karyawan kantoran yang ingin menurunkan berat badan dengan makanan rendah kalori. Nah, Anda bisa membantu masalah mereka, dengan menyediakan menu makanan rendah kalori. Selain itu, Anda juga bisa mencari konsumen lain yang menyukai kepraktisan. Misalnya, karyawan pusat perbelanjaan yang jam istirahatnya terbatas. Mereka perlu mendapatkan makanan yang cepat dan praktis.

Jika Anda sekedar meluncurkan produk tanpa ada masalah yang perlu diselesaikan, katering Anda tidak akan laku. Pertimbangkan juga keberadaan pesaing dari layanan antar makanan via online seperti Go-Food atau GrabFood. Keberadaan mereka mampu memenuhi kebutuhan makan siang banyak orang, seperti pekerja kantoran. Jika Anda tetap ingin berbisnis katering, Anda harus punya value yang tidak dimiliki oleh kedua pesaing. Misal, adanya keterangan komposisi makanan dan bahan makanan sehat dan rendah kalori. Tentu produk katering specialized semacam ini cocok untuk orang-orang yang menyukai makanan sehat.

Lihat juga: “Tak Sekedar Gaya Hidup, Makanan Sehat Juga Menunjang Karir Anda”


Artikel blog ini ditulis oleh Modalku, platform peer-to-peer (P2P) lending nomor 1 di Indonesia dan Asia Tenggara. Kami menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tanah air dan membuka opsi investasi alternatif dengan pengembalian menarik bagi pemberi pinjaman. Tertarik mengenal Modalku lebih baik? Klik di sini.

Modalku secara resmi terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Leave a Reply