Mengenal Budaya Influencer

Jauh sebelum mengenal istilah influencer, pebisnis harus menyiapkan budget yang cukup besar untuk mengiklankan produk atau jasa melalui saluran TV. Hasil riset yang dilakukan oleh Nielsen bahkan menunjukkan bahwa untuk menciptakan iklan di stasiun televisi tanah air, Anda harus menyediakan dana miliaran hingga triliunan rupiah dalam satu tahun. Tidak berselang lama dari riset tersebut, perubahan gaya hidup masyarakat dunia, termasuk Indonesia, terhadap penggunaan media sosial membawa pelaku bisnis bergerak ke arah pemasaran digital.

Dilansir dari situs We Are Social, saat ini tercatat setidaknya ada lebih dari 3 miliar orang yang aktif menggunakan media sosial. Jumlah tersebut bahkan mencapai 40% dari total populasi di seluruh dunia. Bukan hal yang mengejutkan jika kemudian muncul budaya influencer di berbagai platform media sosial yang ada.

Lihat juga: “4 Cara Sukses Usia Muda di Era Teknologi Digital”

Apa itu Influencer?

Sebelum membahas lebih jauh tentang budaya influencer, terlebih dulu Anda perlu memahami apa yang dimaksud dengan istilah influencer itu sendiri. Jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, influencer berarti individu yang memiliki kekuatan untuk memengaruhi pengambilan keputusan dari pihak lain. Artinya, influencer yang Anda temukan di media sosial merupakan pengguna yang sukses membangun kredibilitas sehingga berhasil mengumpulkan audiens dalam jumlah besar untuk kemudian diarahkan pada keputusan-keputusan tertentu.

Lantas, berapa follower yang harus dimiliki oleh individu untuk masuk kategori influencer? Jawabannya tentu beragam sesuai dengan demografi audiens yang Anda miliki. Beberapa influencer sukses meraup untung dengan bermodalkan 5.000 followers, namun influencer lain justru harus mencapai belasan ribu followers untuk bisa mendapatkan pundi-pundi penghasilan.

Cara Influencer Memperoleh Pendapatan

Setelah sukses membangun personal branding dan menentukan bidang yang akan digeluti sesuai dengan passion, maka Anda bisa mulai menciptakan konten-konten yang menarik. Jangan lupa untuk mencantumkan identitas singkat dan kontak yang bisa dihubungi pada kolom bio yang biasa terdapat pada akun media sosial. Ketika sudah banyak yang mengikuti akun Anda, maka para pengikut tersebut akan tertarik terhadap konten apa pun yang Anda unggah.

Semakin baik Anda menciptakan postingan, maka semakin baik pula feed yang Anda miliki. Dengan begitu, pemilik brand-brand akan mempercayakan pemasaran produk atau jasa untuk ditawarkan pada audiens yang Anda miliki. Cara ini sudah berhasil dibuktikan oleh deretan influencer populer di Indonesia seperti Atta Halilintar, Ria Ricis, hingga Raditya Dika. Dikutip dari situs Katadata, bahkan pendapatan influencer di Indonesia bisa mencapai 3 – 7 juta rupiah per konten yang di-posting setiap harinya.

Perbedaan Influencer dengan Buzzer

Masih banyak masyarakat Indonesia yang salah kaprah tentang influencer dan buzzer dengan menyamakan kedua profesi tersebut. Faktanya, influencer harus mampu menciptakan konten visual yang menarik agar memengaruhi follower yang dimiliki untuk menggunakan produk atau layanan yang sama. Sebaliknya, buzzer justru berperan sebagai individu yang hadir untuk membicarakan informasi-informasi terkait produk dan layanan yang sama secara berulang-ulang guna membangun awareness.

Lebih lanjut, tarif yang dipatok oleh buzzer relatif lebih terjangkau dibandingkan influencer. Hal ini disebabkan karena influencer harus mengutamakan kualitas konten sementara buzzer lebih memprioritaskan kuantitas konten.

Lihat juga: “Penghasilan Tambahan Lewat Smartphone for Smart Millenial”

Mengapa Influencer Jadi Sangat Populer?

Dibandingkan dengan buzzer, popularitas influencer saat ini lebih naik daun. Bukan tanpa alasan, pasalnya influencer memiliki konten dengan kualitas visual sangat baik sehingga lebih mampu menarik perhatian pengguna media sosial. Didukung dengan peningkatan pencarian dengan kata kunci influencer di Google sebesar 325%, tidak heran jika banyak brand yang memanfaatkan keberadaan influencer untuk memengaruhi audiens tentang produk maupun layanan melalui postingan berupa foto, video, ulasan blog, dan sebagainya.


Perubahan pola kehidupan masyarakat tentu mempengaruhi strategi pemasaran yang harus dilakukan oleh para pebisnis. Di Indonesia sendiri, influencer sudah menjadi profesi yang menjanjikan keuntungan besar bagi sebagian orang. Bagaimana menurut pendapat Anda?

Artikel blog ini ditulis oleh Modalku, platform peer-to-peer (P2P) lending nomor 1 di Indonesia dan Asia Tenggara. Kami menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tanah air dan membuka opsi investasi alternatif dengan pengembalian menarik bagi pemberi pinjaman. Tertarik mengenal Modalku lebih baik? Klik di sini.

Leave a Reply