5 Sektor Saham yang Diprediksi Melambung Tinggi di 2021

Investasi di sektor saham dan pasar modal sampai saat ini cukup banyak dilirik dan diminati oleh para investor. Bahkan pada tahun 2021 mendatang, beberapa sektor saham diprediksi akan mengalami tren yang positif dan harganya melambung tinggi. Bagi Anda yang ingin berinvestasi saham, ada baiknya untuk memperhatikan sektor saham apa saja yang potensial di lantai bursa agar Anda bisa mendapatkan cuan dengan keuntungan yang tinggi.

Properti

Sektor saham di bidang properti masih menjanjikan bagi para investor tahun 2021. Pertumbuhan nilai investasi properti akan kembali booming sampai tahun 2023 mendatang. Kemudian, akan kembali menurun seiring grand supercycle komoditas yang berakhir pada tahun 2022. Pada saat ini, properti memasuki periode yang terbilang low, sehingga dapat menjadi pilihan bagus bagi Anda.

Bila kita berkaca pada sektor properti di Cina, penjualan pasca pandemi cenderung naik. Begitu pula dengan bunga pinjamannya yang turun, harga properti ini akan melambung tinggi. Saham properti yang diperdagangkan pun dipangkas hingga 50%-70%. Pada periode seperti ini, beberapa emiten yang bisa Anda pilih antara lain Summarecon Agung (SMRA), Pakuwon Jati (PWON), Ciputra Development (CTRA),  dan Bumi Serpong Damai (BSDE).

Lebih lanjut: Ingin Investasi Properti Rumah? Pelajari Caranya!

Perbankan

Berikutnya adalah sektor saham perbankan diprediksi akan mendapatkan angin segar di tahun depan. Sektor perbankan dan keuangan dinilai aman di masa pandemi karena memiliki regulasi yang sangat ketat. Terutama dengan pengawasan dan dukungan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan adanya restrukturisasi kredit.

Likuiditas sektor saham perbankan pun dirasa sangat kuat dan tinggi. Adanya kebijakan bekerja dari rumah, membuat investasi dalam bentuk deposito mampu meningkatkan keuangan perbankan. Pada sektor ini, emiten dengan nama besar di bursa yang bisa Anda pilih di antaranya adalah Bank Mandiri (BMRI), Bank BRI (BBRI), Bank BNI (BBNI), dan Bank BCA (BBCA).

IT dan Telekomunikasi

Di masa pandemi COVID-19, sektor teknologi dan telekomunikasi melesat secara signifikan. Pasalnya, banyak kegiatan yang beralih ke ranah daring dan memanfaatkan fitur teknologi dan komunikasi. Disebut-sebut pula, teknologi dan telekomunikasi menjadi sektor saham yang dapat pulih dengan cepat. Terlebih lagi pada daerah yang menerapkan pembatasan sosial, sehingga penggunaan fitur komunikasi semakin meningkat.

Selain itu, penggunaan teknologi dan komputerisasi pada sektor manufaktur juga akan berpengaruh secara positif terhadap perusahaan teknologi di masa pandemi. Tren positif sektor teknologi dan informasi dapat dilihat dari kinerja laporan keuangan yang membaik.

Meski begitu, kenaikan fundamental bisa terjadi karena adanya persepsi pasar. Namun, perlu diingat dalam memilih sektor saham ini, sebaiknya Anda lebih jeli. Sebab, tidak banyak perusahaan teknologi dan komunikasi yang mencatatkan diri di bursa.

Pertambangan

Sektor saham di bidang pertambangan oleh sebagian besar pengamat dinilai masih sangat potensial tahun 2021. Meningkatnya sentimen positif sektor tambang di bursa saham disebabkan oleh maraknya isu global mengenai green energy hingga mobil listrik di masa depan. Dengan begitu, produksi baterai listrik dengan bahan baku nikel ditengarai bakal meningkat dan bisa menjadi potensi menjanjikan.

Indonesia sendiri menjadi negara produsen nikel besar dunia dalam segi ekspor. Berbeda halnya dengan Cina yang menggunakan nikelnya untuk kepentingan domestiknya. Apabila Indonesia memiliki kebijakan pembatasan ekspor nikel, tentu harganya bisa melambung.

Untuk emiten sektor tambang ini yang bisa Anda lirik antara lain Indo Tambangraya (ITMG), Timah (TINS), Aneka Tambang (ANTM), dan Vale Indonesia (INCO). Sektor lainnya adalah batubara dan minyak, yakni Adaro Energy (ADRO) dan Bukit Asam (PTBA).

Anda mungkin tertarik: Logam Mulia, Investasi Gaya Lama yang Kian Mudah dan Menguntungkan

Perkebunan

Dulu, perkebunan mungkin saja dianggap sebagai sektor saham yang dipandang sebelah mata oleh sebagian kalangan. Namun jangan salah, sektor ini diprediksi dapat melambung tinggi pada tahun 2021. Sektor perkebunan yang cukup banyak dilirik adalah komoditas sawit. Terutama sawit yang digunakan untuk bahan minyak sawit atau yang biasa dikenal dengan crude palm oil (CPO).

CPO diprediksi mengalami tren kenaikan bersamaan dengan komoditas perkebunan lainnya. Inilah yang membuat emiten pada sektor saham perkebunan sangat potensial. Khususnya lagi bila melihat negara-negara di kawasan Eropa yang masih mengandalkan palm oil dan penggunaan minyak nabati yang melambat. Tentu saja ini menjadi peluang bagi para investor untuk mendapatkan emiten CPO.

Setidaknya itulah lima sektor saham yang cukup menjanjikan dan melambung tinggi di tahun 2021 mendatang. Jadi, sektor mana yang akan Anda pilih? Jika Anda tertarik mencari investasi lain, bisa memilih alternatif investasi Modalku yang menawarkan profil risikonya terkendali dengan peluang bunga mencapai 20% per tahun!


Anda juga dapat mengakses informasi tentang tips-tips keuangan, gaya hidup, produk keuangan, hingga alternatif investasi di blog.modalku.co.id. Awali kebebasan finansial dengan memperkaya literasi keuangan bersama kami. Ayo jelajahi blog kami!

Artikel blog ini ditulis oleh Modalku, pionir platform peer-to-peer (P2P) lending di Indonesia dan Asia Tenggara. Kami menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tanah air dan membuka opsi investasi alternatif dengan pengembalian menarik bagi pemberi pinjaman.

Modalku memenangkan Global SME Excellence Award dari ITU Telecom, salah satu badan organisasi PBB, di akhir tahun 2017. Modalku juga memenangkan Micro Enterprise Fintech Innovation Challenge yang diselenggarakan oleh United Nations Capital Development Fund (UNCDF) dan UN Pulse Lab Jakarta di tahun 2018. Visi kami adalah memberdayakan UMKM untuk bersama memajukan ekonomi Indonesia. Lihat statistik perkembangan pesat Modalku di sini.

Tertarik mengenal Modalku lebih baik? Klik di sini.

Modalku secara resmi berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Leave a Reply