Kata Siapa Generasi Milenial Boros?

Generasi milenial tidak ada habisnya untuk dibahas. Berbagai pihak ingin mengenal baik segmen ini, terutama karena generasi ini telah berusia produktif. Ke depannya, generasi milenial akan berdampak besar ke dunia kerja dan ekonomi. 

Saat ini, sudah banyak asumsi mengenai generasi milenial. Salah satu tuduhan yang sering dikeluarkan adalah bahwa mereka merupakan generasi yang boros dan enggan menabung. Anggapan ini seakan didukung oleh survei Rumah123 yang memprediksi bahwa pada tahun 2020 mendatang hanya 5% dari kaum milenial yang sanggup membeli rumah. Sedangkan 95% sisanya tak mampu membeli aset properti. Gaya hidup digital di mana semua bisa dibeli dengan smartphone secara mudah juga kerap disebut sebagai kontributor signifikan ke pemborosan milenial.

Tetapi apakah generasi milenial benar-benar tidak bisa mengatur keuangan pribadinya? Yuk, kita bahas lebih lanjut.

Lebih lanjut: “Kecanduan Gaya Hidup Digital”

Generasi yang Penuh Tantangan

Tantangan finansial yang dihadapi oleh milenial berbeda dengan generasi sebelumnya. Secara umum, semua orang menginginkan hal-hal yang sama. Generasi milenial pun menginginkan kesejahteraan finansial, sama seperti generasi-generasi sebelumnya. Hanya saja, mindset yang mereka miliki sedikit berbeda. Tantangan yang dihadapi dan tools yang dimiliki untuk menyelesaikan permasalahan keuangan pribadi pun berbeda. 

Studi Credit Suisse menunjukkan bahwa walaupun segmen milenial memiliki tingkat pendidikan dan keahlian yang lebih tinggi dibandingkan orang tuanya, mereka menghadapi harga rumah yang jauh lebih tinggi, minimnya akses dana pensiun, serta mobilitas pendapatan yang lebih rendah. Aturan kredit juga semakin ketat, sehingga lebih sulit mengambil pinjaman untuk berbagai kebutuhan. Ini menciptakan situasi yang sulit. Pendidikan dan membangun skill set memerlukan modal, bahkan modal yang tidak sedikit. Tetapi investasi tidak selalu berbalik modal karena butuh waktu lebih lama untuk mendapatkan pendapatan yang memadai, membeli rumah, dsb. Tidak heran bila mengelola keuangan di era milenial tidak semudah generasi orang tua mereka, yakni baby boomers.

Meskipun baby boomers dianggap sebagai generasi yang paling gemar menabung, bukan berarti semuanya sukses mengelola keuangan di hari tua. Bagi milenial, ada yang terjerat fenomena generasi sandwich. Generasi sandwich adalah mereka yang menanggung biaya hidup keluarga sendiri (banyak milenial yang sudah berkeluarga dan memiliki anak-anak kecil) bersamaan dengan biaya hidup orang tuanya. Bila berada di posisi ini, menabung dan berinvestasi untuk aset jangka panjang tentu sangat sulit.

Ingin tahu mengapa generasi sandwich muncul? Klik di sini!

Semakin Banyak Opsi, Semakin Banyak Kesempatan

Generasi milenial tumbuh dewasa bersama kemajuan dan kuatnya penetrasi internet. Akibatnya, wawasan dan informasi yang didapatkan milenial jauh lebih luas. Generasi milenial tumbuh sambil menyadari bahwa pilihan hidup sangat beragam. 

Saat ini, generasi milenial sudah banyak yang masuk usia produktif. Tetapi di saat yang sama, ini adalah segmen demografis yang masih muda. Mereka masih menginginkan banyak pengalaman dan hidup yang dinamis sebelum lebih settle atau membentuk karir yang lebih stabil. 

Karena itu, banyak milenial yang suka traveling atau tinggal berpindah-pindah kota sebelum hidup settle. Dengan cara ini, milenial tak hanya mendapatkan pengalaman, tetapi juga kenalan atau network baru. Tidak jarang ide bisnis muncul saat “berpetualang” di kota lain. Bagi milenial yang berkesempatan bekerja di kota atau negara lain, pengalaman tersebut menjadi investasi bagi karir jangka panjang.

Dengan inovasi digital, cara untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti transportasi pun lebih beragam. Kehadiran layanan ride sharing, terutama bila sedang banyak kampanye promosi, mengisi kebutuhan transportasi dan commute generasi milenial. Semua kembali ke kebutuhan tiap individu dan prioritas utama mereka. Bila memiliki kendaraan pribadi belum menjadi prioritas, maka berbagai opsi alternatif digital bisa digunakan.

Bukan Sekedar Ngafe

Kegemaran milenial dalam mengonsumsi kopi ala kafe juga dituduh sebagai sumber pemborosan. Harga secangkir kopi ini memang jauh lebih mahal daripada menyeduh sendiri.

Kebiasaan ini mungkin kurang dimengerti generasi sebelumnya, tetapi milenial bisa menggunakan habit minum kopi untuk mengerjakan hal-hal produktif. Misalnya bekerja dari kafe (dengan menggunakan wifi gratis kafe tentunya) dan memperluas jaringan. Di era digital ini, kafe pun bisa menjadi tempat meraih peluang bisnis baru. Contoh: milenial sering menggunakan kafe sebagai lokasi meeting untuk mendiskusikan rencana bisnis dengan kolega atau pihak eksternal. Pertemuan dengan partner bisnis pun lebih nyaman. 

Siapa Bilang Milenial Tidak Bisa Menabung?

Tidak punya tabungan juga menjadi tuduhan yang sering dihadapi oleh generasi milenial. Milenial dianggap lebih memprioritaskan pengeluaran untuk nonton konser atau traveling. Memang milenial adalah generasi penyuka traveling, tetapi kegiatan ini dibantu oleh inovasi yang terjadi di masa mereka, seperti banyaknya digital travel tools seperti Traveloka, Expedia, Agoda, dsb atau semakin banyaknya low-cost airlines yang berdiri.

Kesempatan dan inovasi yang ada di tiap generasi akan membentuk perilaku. Bukan malas memikirkan keuangan pribadi atau boros, tetapi kesempatan dan solusi keuangan yang dimiliki milenial berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya.

Saat ini, banyak milenial yang memiliki lebih dari satu akun keuangan digital untuk mengurus keuangan pribadi. Penyedia layanan keuangan digital pun banyak yang mengeluarkan promo, seperti transfer tanpa biaya. Hal-hal yang mungkin disepelekan ini sebenarnya termasuk tools yang dimiliki milenial untuk mengelola keuangan mereka.

Selain menabung untuk prioritas masing-masing, generasi milenial juga berinvestasi. Tapi, jangan dibayangkan instrumen investasinya sama seperti yang digunakan orang tua mereka. Kehadiran teknologi mendorong mereka untuk mencari opsi yang lebih menarik. Misalnya menabung emas secara digital. Kini, milenial bisa menabung emas via aplikasi seperti Pegadaian Digital dan Tokopedia Emas. Saham masih menjadi favorit milenial, karena transaksinya bisa dilakukan setiap saat dan dapat dilakukan secara online.

Kehausan generasi milenial akan inovasi terjawab dengan banyaknya alternatif investasi berbasis digital. Selain return yang lebih tinggi, cara menggunakannya juga praktis, user-friendly, dan digital-friendly. Ini terbukti dengan tingginya jumlah generasi milenial yang menjadi pemberi pinjaman di Modalku. Jumlahnya mencapai hampir 70% dari seluruh pemberi pinjaman.

Lihat juga: “Alternatif Investasi: Inovasi yang Disukai Generasi Milenial”

Sukses dengan Gaya Milenial

Memang ada perbedaan perilaku serta perbedaan teknologi antara generasi milenial dengan generasi-generasi sebelumnya, tetapi berbeda tidak berarti tidak akan sukses atau menjadikan milenial pasti boros. Generasi milenial tetap menabung dan berinvestasi, namun dengan cara yang mereka sukai.

Bahkan kesuksesan bisa diraih generasi milenial dengan gayanya sendiri. Mereka disebut-sebut lebih asertif, sehingga lebih berani meminta tanggung jawab lebih, juga bernegosiasi untuk kenaikan gaji dan jabatan. Mungkin karena usianya yang masih tergolong muda, mereka juga berani mengambil risiko. Contohnya menjadi founder startup atau memulai bisnis baru. Milenial memimpikan kesuksesan yang diraih bersama idealisme, dan perilaku ini akan menjadi faktor yang membentuk masa depan ekonomi yang pastinya menarik.


Artikel blog ini ditulis oleh Modalku, platform peer-to-peer (P2P) lending nomor 1 di Indonesia dan Asia Tenggara. Kami menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tanah air dan membuka opsi investasi alternatif dengan pengembalian menarik bagi pemberi pinjaman. Tertarik mengenal Modalku lebih baik? Klik di sini.

Modalku secara resmi terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Leave a Reply