Ingin Mulai Bisnis? Ikuti Cara Memulai Bisnis Franchise!

Bisnis franchise, disebut juga dengan waralaba, secara sederhana bisa dikatakan sebagai bentuk usaha yang menjual produk orang lain atas seizin mereka. Namun, pada praktiknya, bisnis satu ini penerapannya cukup beragam. Hal ini tergantung dari kesepakatan antara pemilik franchise (franchisor) dan pembeli franchise. Ada yang hanya boleh menjual produk, ada juga yang menyasar ranah konsep.

Namun, jika dibandingkan dengan bisnis yang benar-benar dimulai dari awal, bisnis franchise relatif lebih praktis. Selama modalnya cukup, Anda bisa membeli hak cipta franchise dari franchisor. Saat mendapat keuntungan, nantinya Anda harus membayar sekian persen kepada pemilik hak cipta tersebut. Tertarik menggeluti bisnis franchise? Begini cara memulainya!

Pilih franchise sesuai minat

Hal pertama yang harus Anda lakukan untuk memulai bisnis franchise adalah menentukan jenis bisnisnya. Pilih jenis bisnis franchise yang memang sesuai kesukaan atau preferensi Anda. Sebagai pertimbangan, berikut beberapa jenis bisnis waralaba yang dapat Anda pilih.

  • Franchise makanan – pilih bisnis waralaba makanan yang sudah punya nama besar dan terkenal. Bisa juga makanan dalam bentuk snack.
  • Franchise minuman – menjamurnya kedai es kopi kekinian merupakan salah satu contoh franchise minuman.
  • Franchise minimarket – minimarket ternyata juga menerapkan sistem bisnis waralaba. Tidak mengherankan jika cabangnya begitu banyak dan tersebar di berbagai tempat.
  • Franchise jasa ekspedisi – adanya waralaba jenis satu ini membantu konsumen agar lebih mudah menjangkau jasa ekspedisi. Semakin banyaknya titik jasa ekspedisi juga dapat membantu menekan biaya transportasi.

Jika sudah menemukan bisnis franchise yang diinginkan, jangan buru-buru membelinya. Cari tahu dulu segala hal terkait waralaba tersebut, mulai dari sistem kerja hingga manajemennya. Apabila memungkinkan, Anda juga bisa mencari informasi dari orang lain yang sudah lebih dulu terjun ke bisnis waralaba tersebut.

Ikuti arahan dari franchisor

Sudah yakin dengan bisnis waralaba pilihan Anda? Saatnya menghubungi pemilik franchise. Dari sini, Anda bisa mempelajari lebih dalam tentang bisnis tersebut. Idealnya, pihak franchisor akan memberikan arahan kepada Anda sebagai pembeli franchise, mulai dari pasokan bahan baku, cara membuat produk yang dijual, standar layanan, hingga terkait promosi.

Selain itu, franchisor juga biasanya memberlakukan sejumlah syarat dan ketentuan yang harus Anda penuhi. Tentunya syarat dan ketentuan tersebut berbeda pada tiap franchisor. Syarat dan ketentuan yang dimaksud bisa berupa minimal jenjang pendidikan, apakah harus mendirikan bangunan dulu, luas area yang harus disiapkan, dan lain-lain.

Penting bagi Anda untuk mengikuti arahan franchisor agar bisnis waralaba berjalan lancar. Ingatlah bahwa saat berjualan nanti, Anda membawa nama besar franchise. Jika seandainya Anda melakukan kesalahan, konsumen pasti akan mengasosiasikannya dengan cabang-cabang bisnis waralaba franchisor di tempat lain.

Pastikan adanya perjanjian

Apabila Anda dan pihak franchisor telah menemui kesepakatan, maka surat perjanjian atau hitam di atas putih bisa segera dibuat. Surat perjanjian ini dibuat oleh franchisor untuk kemudian disetujui kedua belah pihak. Perjanjian ini mencakup sejumlah hal penting yang mengatur jalannya bisnis waralaba, termasuk di dalamnya berbagai syarat dan ketentuan yang berlaku. 

Sebelum menandatangani perjanjian tersebut, pastikan Anda sudah memahami setiap poin yang dibahas di dalamnya. Pasalnya, ketika sudah menandatangani perjanjian, maka Anda wajib mematuhi seluruh poin yang tercantum. Jangan sampai di tengah jalan nanti, Anda melakukan hal yang dianggap melanggar perjanjian atau kontrak. Bisa-bisa pihak franchisor meminta ganti rugi atau bahkan menuntut Anda. 

Siapkan modal dan strategi pemasaran

Karena bisnis yang akan Anda jalani ini pada dasarnya adalah milik orang lain, maka Anda harus memiliki modal yang cukup untuk menyewa hak cipta selama jangka waktu tertentu sesuai yang tercantum dalam perjanjian. Selain itu, modal juga dibutuhkan untuk menyiapkan tempat berbisnis, menyewa lahan, hingga membeli berbagai peralatan.

Jumlah modal yang harus disiapkan pun beragam, tergantung dari jenis bisnis waralaba yang akan Anda geluti. Umumnya, semakin besar perusahaannya, maka modal yang dibutuhkan akan semakin banyak.

Di samping modal, Anda juga perlu memikirkan soal strategi pemasaran dari bisnis waralaba yang Anda beli. Namun, pastikan strategi tersebut tidak bertabrakan dengan nilai-nilai yang dianut franchisor. Kalau perlu, Anda bisa berdiskusi dengan franchisor terkait hal ini. Sesuaikan pula strategi tersebut dengan target konsumen yang Anda sasar.

Jadi, apakah Anda tertarik memulai bisnis franchise? Siapkan dulu modalnya dengan mengajukan pinjaman online melalui Modalku. Anda bisa segera berkunjung ke website Modalku untuk mempelajari lebih lanjut tentang syarat dan ketentuan pinjaman online. Segera wujudkan impian Anda untuk memulai bisnis franchise


Anda juga dapat mengakses informasi tentang tips-tips keuangan, gaya hidup, produk keuangan, hingga alternatif investasi di blog.modalku.co.id. Awali kebebasan finansial dengan memperkaya literasi keuangan bersama kami. Ayo jelajahi blog kami!

Artikel blog ini ditulis oleh Modalku, pionir platform peer-to-peer (P2P) lending di Indonesia dan Asia Tenggara. Kami menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tanah air dan membuka opsi investasi alternatif dengan pengembalian menarik bagi pemberi pinjaman.

Modalku memenangkan Global SME Excellence Award dari ITU Telecom, salah satu badan organisasi PBB, di akhir tahun 2017. Modalku juga memenangkan Micro Enterprise Fintech Innovation Challenge yang diselenggarakan oleh United Nations Capital Development Fund (UNCDF) dan UN Pulse Lab Jakarta di tahun 2018. Visi kami adalah memberdayakan UMKM untuk bersama memajukan ekonomi Indonesia. Lihat statistik perkembangan pesat Modalku di sini.

Tertarik mengenal Modalku lebih baik? Klik di sini.

Modalku secara resmi berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Leave a Reply