Dengan harga produk yang hampir selalu mengalami kenaikan tiap tahunnya, menabung saja belum cukup untuk mengumpulkan uang yang jumlahnya bisa “sejajar” dengan kenaikan harga tersebut. Untuk itulah Anda perlu melakukan investasi. Dibandingkan membuka tabungan di bank, investasi menawarkan bunga yang relatif lebih tinggi. Tentunya ada banyak hal yang harus diperhatikan terlebih dulu, terutama jika ini merupakan kali pertama Anda berinvestasi.

Apa Tujuan Anda Berinvestasi?

Lebih dari sekadar mengumpulkan keuangan atau melipatgandakan penghasilan, investasi adalah tentang mempersiapkan masa depan. Itulah mengapa sebelum mulai berinvestasi, Anda harus menentukan tujuan terlebih dulu. Tujuan inilah yang nantinya akan menentukan jenis dan jangka waktu investasi, sekaligus jumlah uang yang harus Anda alokasikan untuk investasi. Dalam menentukan tujuan investasi pun Anda juga perlu spesifik. Jangan hanya bertujuan untuk menyiapkan masa depan, tapi deskripsikan pula hal yang harus Anda persiapkan tersebut.

Misalnya, Anda berinvestasi untuk membiayai kuliah anak. Saat ini anak Anda masih duduk di bangku kelas VIII SMP. Artinya, Anda masih memiliki waktu sekitar lima tahun lagi untuk mengumpulkan biaya kuliah tersebut. Dari sini, Anda bisa mulai melakukan riset. Kira-kira jurusan dan universitas apa yang akan dipilih anak Anda, lalu cari tahu biayanya. Perkirakan pula kenaikan harga yang sangat mungkin terjadi ketika anak Anda masuk kuliah lima tahun lagi. Setelah mendapatkan perkiraan biaya, Anda bisa mulai mencari beberapa pilihan instrumen investasi yang cocok untuk tujuan Anda.

Menerapkan Sistem Diversifikasi

Jika pernah mencari informasi tentang investasi, Anda pasti sudah tidak asing lagi dengan kalimat “don’t put all your eggs in one basket”. Maksudnya, Anda dianjurkan untuk tidak melakukan investasi di satu tempat saja. Tujuannya adalah untuk meminimalisir risiko. Sebagai contoh, Anda memutuskan untuk berinvestasi saham. Jangan menaruh seluruh saham Anda hanya pada satu perusahaan. Sebarlah saham Anda ke beberapa perusahaan sekaligus. Dengan begitu, jika salah satu perusahaan ternyata bangkrut dan tidak mampu memberi keuntungan, Anda masih memiliki saham di perusahaan lain. Posisi Anda pun akan tetap aman.

Perhatikan Tingkat Inflasi

Dalam berinvestasi, inflasi wajib dipertimbangkan karena memiliki keterkaitan dengan nilai waktu dan uang. Jumlah dari uang yang Anda miliki sekarang akan berubah nilainya pada masa mendatang. Sekarang, Anda bisa membeli 2 botol minuman ringan dengan harga Rp 10.000, tetapi belum tentu harga minuman tersebut akan tetap sama dalam lima tahun lagi.

Di sinilah investasi bisa membantu Anda. Menabung di bank memang merupakan langkah yang mudah karena uang Anda tersimpan secara aman di sana. Anda juga mendapat keuntungan dari bunga berdasarkan jumlah tabungan di bank. Namun, bagaimana jika tingkat kenaikan inflasi lebih tinggi daripada suku bunga bank? Bukannya untung, Anda justru bisa rugi. Jadi, dalam berinvestasi, intinya bukan mendapat pengembalian tinggi, tetpi harus melebihi inflasi tahunan suatu negara.

Kenali Profil Risiko Anda

Setiap instrumen investasi memiliki risiko, ada yang rendah, sedang, dan tinggi. Umumnya, semakin tinggi risikonya, semakin besar pengembalian yang akan Anda dapatkan. Untuk itu, Anda perlu menyesuaikan profil risiko Anda dengan risiko yang dimiliki oleh instrumen investasi. Profil risiko seseorang menggambarkan tingkat toleransinya terhadap risiko atau sejauh mana ia dapat menanggung risiko. Biasanya, profil risiko ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti usia, lingkungan, dan pemahaman tentang investasi. Setidaknya ada tiga jenis kategori profil risiko:

  • Konservatif – cenderung memilih instrumen investasi yang sangat aman dengan hasil yang sudah diketahui sebelumnya, contohnya deposito.
  • Moderat – cenderung mengambil risiko yang lebih besar, tetapi tetap berhati-hati dalam memilih instrumen investasi. Biasanya, ia juga membatasi jumlah investasi pada instrumen berisiko.
  • Agresif – cenderung mengambil risiko yang lebih tinggi sehingga berani menempatkan sebagian besar dananya pada instrumen berisiko.

Setelah memahami panduan singkat di atas, kini saatnya Anda melakukan riset tentang jenis investasi yang hendak dipilih. Semoga investasi Anda bisa mendapatkan keuntungan yang Anda inginkan.

Untuk mempelajari lebih lanjut tentang investasi, bacalah “Kiat Menjadi Seorang Investor Handal” dan “Investasi Alternatif.”

Artikel blog ini ditulis oleh Modalku, platform peer-to-peer (P2P) lending nomor 1 di Indonesia. Kami menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) tanah air dan membuka opsi investasi alternatif dengan pengembalian menarik bagi pemberi pinjaman. Tertarik mengenal Modalku lebih baik? Klik di sini.