Menjelang tayangnya Star Wars: Episode VII – The Force Awakens di penghujung tahun 2015, nilai action figure Luke Skywalker dan Obi-Wan Kenobi yang dijual seharga £1,50 di tahun 1977/1978 telah berlipat ganda menjadi £18.000 per mainan.

New York, Juni 2014. The British Guiana One-Cent Black on Magenta menjadi prangko termahal dunia. Prangko ini dibeli seorang anonim seharga $9.48 juta.

Kembali ke New York, tahun 2007. Ada yang membeli mangkuk keramik putih seharga $3. Saat dinilai, ternyata mangkuk putih ini berasal dari dinasti Song Utara Cina. Saat mangkuk ini dilelang Sotheby’s — broker seni nomor satu dunia, empat penawar berperang untuk mendapatkannya. Akhirnya ‘perang’ dimenangkan seorang warga London seharga $2.225 juta.

Kita sering dikejutkan cerita-cerita “aneh tapi nyata” di atas. Reaksi pertama pembaca biasanya iri. Duh, seandainya saya yang menemukan harta karun tersebut, sudah tak perlu kerja lagi. Namun setelah dipikir-pikir lagi, muncul pertanyaan: Siapa sih pembeli action figure Star Wars, prangko termahal, dan mangkuk dinasti Song Utara di atas? Apakah mereka kebanyakan duit?

Atau mungkin Anda mendengar cerita extravaganza kaum super kaya yang koleksi mobil klasik dan tas Hermes. Terlalu banyak uang mereka, mungkin pikir Anda.

Belum tentu. Pengeluaran luar biasa di atas biasanya memiliki alasan. Barang-barang ini menjadi investasi alternatif.

Investasi alternatif? Apa itu? Situs edukasi Investopedia mendefinisikan investasi alternatif sebagai “investasi yang bukan dalam bentuk tiga tipe aset tradisional (saham, deposito, dan cash).” Dengan kata lain, properti, karya seni, logam berharga, barang antik, dan komoditas (batu bara, gula, minyak dan gas bumi) dianggap investasi alternatif.

Investasi alternatif dianggap ranah orang kaya. Masuk akal. Hanya orang mapan yang bisa membeli banyak properti atau karya seni. Investasi alternatif juga memiliki sisi negatif sulit dicairkan dan kurang diregulasi.

Status quo ini mulai berubah. Seiring kemajuan Financial Technology (FinTech), bentuk investasi alternatif mulai berkembang dan bertambah.

Apa artinya bagi Anda? Sekarang Anda pun bisa “bermain” investasi alternatif. Siapa tahu? Dengan perkembangan FinTech, mungkin suatu hari investasi alternatif tak lagi eksklusif bagi yang super kaya atau bagi investor profesional.

Sejauh ini, platform peer-to-peer lending merupakan contoh terbaik usaha FinTech yang inovatif dan menjadi ragam investasi alternatif. Peer-to-peer lending bahkan mulai diakui regulator. Lending Club, platform peer-to-peer lending terbesar dunia, masuk ke bursa saham di tahun 2014 dengan nilai estimasi $8 miliar.

Apa itu peer-to-peer lending? Berbasis teknologi digital, suatu usaha peer-to-peer lending menjodohkan pemberi pinjaman dan orang yang membutuhkan modal. Peminjam mendapatkan pinjaman berbunga kompetitif dan pemberi pinjaman mendapatkan return yang lebih tinggi dibandingkan bentuk investasi tradisional. Inilah sebabnya peer-to-peer lending dianggap investasi alternatif.

Kesuksesan platform peer-to-peer lending menyebar ke banyak negara. Inggris Raya memiliki Funding Circle, Cina memiliki Dianrong, Australia memiliki Society One, Singapore memiliki Funding Societies, dan Indonesia, tentunya, memiliki Modalku.

Fokus utama Modalku adalah perkembangan UKM berkualitas Indonesia. Karena itu, pinjaman Modalku eksklusif bagi UKM berpotensi yang telah melewati proses screening yang ketat, agar pemberi pinjaman pun merasa aman memberi kepercayaan pada Modalku.

Selain platform peer-to-peer lending, banyak usaha FinTech inovatif yang sedang menciptakan bentuk investasi alternatif baru. Mata uang digital misalnya, seperti Bitcoin.

Harus kami akui, kebanyakan bentuk investasi alternatif ini masih baru. Karena itu, berhati-hatilah saat investasi. Jangan pernah mengalokasikan semua aset Anda di satu tempat. Tetapi jangan terlalu takut karena FinTech adalah bidang menjanjikan yang terus mengalami kemajuan. Siapa tahu? Mungkin suatu hari mata uang digital akan menjadi investasi umum di masa depan.