Menghitung rasio keuangan adalah skill penting, baik bagi investor maupun pelaku usaha. Ingin menanam investasi di saham? Anda harus membaca laporan keuangan dan rasio keuangan untuk memprediksi pertumbuhan perusahaan pilihan Anda di masa depan. Anda pelaku usaha? Lewat rasio keuangan, Anda dapat mengukur kesehatan usaha Anda. Anda ingin mengerjakan proyek baru seperti ekspansi? Rasio keuangan menjadi cermin keadaan finansial usaha Anda saat ini.

Hari ini, Modalku ingin mengenalkan tiga rasio penting: debt-to-equity ratio, current ratio, dan profit margin.

Debt-to-Equity Ratio

Rumus debt-to-equity ratio adalah total utang suatu periode dibagi dengan total modal periode yang sama. Bagi usaha mana pun, memiliki utang adalah hal yang wajar. Namun semakin tinggi total utang dan debt-to-equity ratio, risiko bagi investor semakin tinggi – sebab, ini berarti usaha tersebut memajukan diri lewat tumpukan utang. Apa yang akan terjadi apabila pasar bergejolak sehingga perusahaan tersebut kesulitan membayar utang? Hal ini juga berlaku bagi para pelaku usaha dengan debt-to-equity ratio tinggi. Berhati-hatilah karena usaha Anda mulai riskan. Sebaliknya, semakin rendah debt-to-equity ratio, risiko usaha semakin kecil

Current Ratio

Ingin evaluasi seberapa sehat keuangan Anda untuk melakukan operasi harian atau aktivitas jangka pendek? Current ratio jawabannya.

Rumus current ratio, atau sebutan Indonesia-nya rasio lancar, adalah aktiva lancar (current assets) suatu periode dibagi kewajiban jangka pendek (current liabilities) periode yang sama. Current ratio digunakan untuk melihat kemampuan suatu usaha membayar kewajiban jangka pendek lewat asetnya. Karena itu, current ratio merupakan cara cepat menilai kesehatan suatu usaha.

Logikanya, semakin besar current ratio, semakin sehat usaha karena dapat menutupi utangnya tanpa masalah. Current ratio yang rendah (di bawah 1) menunjukkan bahwa usaha tersebut memiliki masalah likuiditas (kekurangan uang tunai). Juga kemungkinan tak dapat membayar kewajibannya.

Namun, current ratio yang terlalu tinggi (di atas 3) tak lagi menunjukkan kesehatan usaha. Ada banyak dana menganggur di perusahaan dengan current ratio terlalu tinggi. Lebih baik digunakan untuk hal-hal yang dapat memajukan usaha.

Net Profit Margin

Revenue atau pendapatan kotor yang tinggi belum tentu menunjukkan bahwa suatu perusahaan mendulang keuntungan tinggi. Net profit margin lebih menunjukkan laju keuntungan yang sesungguhnya. Rumus net profit margin adalah laba bersih (pendapatan kotor dikurangi semua biaya dan pengeluaran) dibagi pendapatan kotor (harga dikali jumlah barang yang terjual).

Net profit margin menunjukkan berapa persen keuntungan yang diperoleh perusahaan dalam upaya mengelola tingkat pertumbuhan penjualan. Net profit margin juga menunjukkan efisiensi seluruh komponen biaya. Tingkat net profit margin menunjukkan kepiawaian dari manajemen perusahaan dalam mengelola usahanya.

Tetapi, tiap industri/jenis usaha pada umumnya memiliki karakter net profit margin yang berbeda. Ada industri/jenis usaha yang memiliki net profit margin rendah. Misalnya usaha penjualan pulsa. Pulsa memiliki net profit margin yang rendah jika dibandingkan dengan usaha restoran.

Sebenarnya, net profit margin berguna untuk menilai apakah suatu perusahaan efisien dan memiliki managemen yang baik. Namun, kita juga harus memaklumi jenis usaha tersebut. Usaha dengan net profit margin rendah belum tentu tidak sehat. Bagi jenis usaha dengan net profit margin rendah, lebih baik menilai kesehatannya lewat volume penjualan. Usaha dengan net profit margin rendah harus selalu diimbangi dengan volume penjualan yang besar demi menambah keuntungan.

***

Artikel blog ini ditulis oleh Modalku, platform peer-to-peer (P2P) lending nomor 1 di Indonesia. Kami menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) tanah air dan membuka opsi investasi alternatif dengan pengembalian menarik bagi pemberi pinjaman. Tertarik mengenal Modalku lebih baik? Klik di sini.