5

8 Prinsip bagi Investor Pemula dan Berpengalaman

Tidak ada jalan pintas dalam investasi. Investasi membutuhkan waktu, riset, dan pemeliharaan aset secara berkala. Tergantung dari instrumen pilihan Anda, ada investasi yang membutuhkan lebih banyak upaya pengelolaan. Saham, misalnya. Saham mengharuskan Anda memperhatikan pergerakan pasar. Bandingkan dengan deposito, di mana Anda hanya perlu membeli lalu menunggu tenggat waktu.

Secara umum, tidak ada metode instan untuk mendapatkan hasil investasi tinggi. Berikut adalah 8 prinsip dalam investasi.

  1. Investasi adalah suatu komitmen

Investasi dapat dianalogikan dengan hubungan persahabatan. Untuk membangun hubungan baik, kita perlu investasi waktu untuk mengenal orang. Saat ini, ada banyak sekali opsi investasi, termasuk pilihan baru seperti cryptocurrency dan P2P lending yang mulai masuk dalam mainstream. Kita sebagai investor harus mengenal baik fitur-fitur, serta sisi positif dan negatif instrumen investasi yang dipilih.

Sebelum Anda berinvestasi, Anda juga perlu mengenal profil investasi Anda – sama seperti sahabat terdekat adalah orang yang cocok dengan pribadi Anda. Bila Anda tipe orang yang lebih suka main aman dan tidak suka repot, mungkin Anda bisa mulai investasi dengan deposito atau obligasi.

Terakhir, investasi membutuhkan waktu agar hasilnya maksimal. Ada investasi yang berjangka pendek, ada yang berjangka panjang. Anda juga perlu menyisihkan waktu untuk meninjau investasi Anda. Bila pasar banyak bergerak, mungkin Anda harus menyeimbangkan portofolio investasi Anda agar sesuai preferensi.

  1. Investasi saat tabungan Anda cukup

Semua orang memiliki ide tersendiri soal berapa jumlah tabungan yang “cukup”. Yang pasti, Anda perlu memiliki rekening yang berisi uang yang cukup untuk pengeluaran beberapa bulan sebelum mulai investasi. Tabungan yang berisi 3 bulan ongkos pengeluaran adalah jumlah minimal, 6 bulan lebih aman.

Bila akun tabungan Anda stabil, Anda memiliki uang cadangan apabila ada keadaan darurat. Jika semua uang Anda berada di portofolio investasi, maka di saat genting Anda harus menarik uang Anda padahal pasar dalam kondisi tidak baik atau keuntungan investasi tidak maksimal. Menarik investasi sebelum waktunya juga bisa dikenai biaya penalti.

  1. Perhatikan laju inflasi

Bunga tabungan saat ini jumlahnya kecil, dan setelah dipotong biaya admin bank, jumlah di akun tabungan pun tak berubah seiring waktu. Tapi apa yang terus meningkat? Harga barang karena laju inflasi.

Inflasi adalah alasan kita berinvestasi. Kita ingin agar daya beli tetap stabil ke depannya. Untuk memastikan hal itu, investasi harus di atas laju inflasi. Pastikan agar pengembalian atas investasi-investasi Anda di atas laju inflasi nasional.

  1. Kenali profil risiko Anda

Kenal prinsip risk and return? Semakin tinggi potensi keuntungan, semakin tinggi risiko – dan juga sebaliknya. Karena prinsip ini, portofolio tiap investor pasti berbeda. Tiap individu akan menyeimbangkan risk and return sesuai dengan toleransi risiko investasi masing-masing dan pengembalian yang diinginkan.

Investor yang agresif akan memilih instrumen dengan keuntungan tertinggi, walaupun risikonya tinggi. Portofolio investasi mereka bisa berisi 80-90% investasi risiko tinggi. Di sisi lain, investor yang konservatif akan banyak memilih produk yang lebih tergolong “aman”.

Usia bisa menjadi faktor yang menentukan toleransi risiko investasi. Orang yang muda dan sehat, dengan tabungan cukup dan masa produktif yang masih panjang bisa mengambil risiko investasi yang lebih besar.

Untuk membangun portofolio investasi sesuai preferensi, Anda perlu menentukan profil risiko Anda. Apakah Anda berani mengambil risiko untuk hasil tinggi? Atau lebih memilih instrumen yang stabil?

  1. Investasi dengan keuntungan super tinggi mengharuskan Anda mengambil risiko ekstrim atau merupakan penipuan

Ada instrumen dengan tingkat risiko stabil tetapi memiliki pengembalian yang lebih tinggi dibandingkan instrumen “aman” lainnya. Tetapi tidak ada investasi untung tinggi tanpa risiko. Berhati-hatilah dengan tawaran menggiurkan.

Investasi bodong biasanya memiliki ciri-ciri berikut:

  • Keuntungan tinggi dan tak masuk akal (10% pengembalian per bulan, contohnya)
  • Penjual tidak transparan menjelaskan produk investasi
  • Deskripsi produk yang tidak jelas di website
  • Penjual investasi tidak memiliki lisensi untuk beroperasi
  1. Jangan lupa diversifikasi

Bagaimana cara meminimalkan risiko investasi? Caranya dengan diversifikasi. Diversifikasi artinya mengalokasikan dana Anda ke berbagai macam investasi. Semakin terdiversifikasi investasi Anda, semakin terlindungi dana Anda. Kalaupun satu instrumen gagal, pengembalian investasi Anda secara umum tetap positif.

Dengan diversifikasi, Anda dapat membangun portofolio investasi yang sesuai preferensi Anda. Ingat profil risiko? Mungkin Anda kurang suka instrumen berisiko. Anda bisa membangun portofolio dengan 70% deposito dan obligasi, 10% uang kas dan sejenisnya (valuta asing, misalnya), dan 20% dalam saham.

Lho? Kenapa tidak investasi di deposito dan obligasi saja kalau saya tak suka risiko? Semua investasi memiliki risiko, begitu juga instrument yang dianggap “aman”. Apa yang terjadi bila bunga deposito turun? Nilai portofolio Anda akan ikut merosot. Membagi dana investasi ke berbagai aset akan mencegah masalah ini.

  1. Reinvestment atau investasi ulang sangat penting

Saat penghasilan investasi masuk ke rekening Anda, ada beberapa opsi. Anda bisa menarik penghasilan tersebut. Anda juga bisa melakukan investasi ulang atau reinvestment untuk memaksimalkan penghasilan.

Sebagai contoh, Anda investasi Rp 30 juta ke dalam deposito dengan tingkat penghasilan 6% per tahun. Di akhir tahun, Anda memperoleh penghasilan sebesar Rp 1,8 juta. Tahun berikutnya, Anda investasi total Rp 31,8 juta ke dalam skema deposito yang sama. Di akhir tahun, Rp 31,8 juta menjadi Rp 33.708.000,- tanpa upaya keras.

Asalkan rutin investasi ulang, Anda akan memaksimalkan bahkan melipatgandakan dana Anda.

  1. Investasi sejak dini

Efek investasi ulang (reinvestment) semakin bersinar jika Anda investasi sejak muda. Contoh: di usia 25, Budi investasi di instrumen dengan tingkat pengembalian 5-6% per tahun. Tiap tahun, ia melakukan investasi ulang di instrumen dengan skema yang sama. Parto melakukan hal yang sama dengan jumlah dana yang sama di usia 35. Berbagai grafik menunjukkan bahwa di usia 60, Budi memiliki 2 kali hasil investasi dibandingkan Parto.


Ingat: mulai investasi sejak muda, komitmen investasi jangka panjang, miliki tabungan yang cukup, ketahui profil risiko Anda, jangan termakan tawaran mencurigakan, dan lakukan diversifikasi serta investasi ulang.

Artikel blog ini ditulis oleh Modalku, platform peer-to-peer (P2P) lending nomor 1 di Indonesia dan Asia Tenggara. Kami menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tanah air dan membuka opsi investasi alternatif dengan pengembalian menarik bagi pemberi pinjaman. Tertarik mengenal Modalku lebih baik? Klik di sini.

Comments 5

  1. Pingback: Membedakan Investasi Bodong dengan Investasi Terpercaya – Modalku

  2. Pingback: Menumpuk Pundi, Meminimalkan Rugi dengan Mengenali Risiko Investasi – Modalku

  3. Pingback: Part 1: Kiat-kiat Mempersiapkan Pensiun - Modalku

  4. Pingback: Menemukan Investasi yang Paling Menguntungkan, Mungkinkah? - Modalku

  5. Pingback: Edukasi Sebelum Investasi untuk Memaksimalkan Portofolio - Modalku

Leave a Reply