Semua yang ada di dunia ini memiliki risiko dan keuntungannya masing-masing. Bila tak pernah berani mengambil risiko, mustahil Anda bisa maju. Hal ini berlaku juga dalam investasi. Adanya risiko bukan berarti Anda harus menghindari semua jenis investasi. Anda justru tetap bisa mendapatkan keuntungan berlimpah dari investasi yang dilakukan bila Anda meminimalisir risiko tersebut. Bagaimana caranya?

Kenali Risiko Investasi Anda

Ada berbagai macam risiko investasi, salah satunya keuntungan yang tak terjamin. Dalam investasi, keuntungan mungkin didapat dan mungkin juga tidak. Apalagi bagi Anda yang mengambil instrumen reksadana yang tak dijamin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Namun, meski tak dijamin LPS, banyak yang mengatakan bahwa investasi reksadana memiliki sistem high risk, high return, di mana tingkat keuntungannya berjalan lurus dengan tingkat risikonya.

Risiko juga bisa terjadi karena faktor-faktor makro yang memengaruhi pasar, seperti perubahan suku bunga, kurs valas (valuta asing), dan juga kebijakan pemerintah. Dengan kata lain, risiko memang tak bisa dihindari 100%. Banyak faktor eksternal yang bisa mempengaruhi terjadinya kerugian. Namun, bukan berarti Anda tak bisa mengambil instrumen investasi karena takut risikonya.

Setiap instrumen investasi memiliki risiko yang berbeda-beda. Kenali risikonya dan sesuaikan dengan tujuan Anda. Setelah mengenali risiko masing-masing instrumen, segera tetapkan strategi investasi untuk memaksimalkan keuntungan. Dengan strategi investasi yang jitu, risiko dapat diminimalisir. Salah satu strategi yang populer dalam investasi adalah diversifikasi portofolio.

Diversifikasi Portofolio untuk Meminimalisir Kerugian

Diversifikasi portofolio investasi atau melakukan investasi di banyak instrumen adalah satu cara yang kerap dikatakan oleh pakar sebagai cara terbaik untuk meminimalisir risiko investasi. Selain itu, diversifikasi portofolio juga dapat memaksimalkan keuntungan yang bisa Anda dapatkan karena banyaknya cabang dari investasi Anda.

Sama seperti istilah “don’t put all your eggs in one basket” atau jangan masukkan semua telur Anda dalam satu wadah, investasi pun tak sebaiknya difokuskan pada satu instrumen saja. Salah satu contohnya adalah saham. Ketika instrumen tersebut mengalami kerugian besar, maka Anda akan kehilangan banyak uang bila hanya fokus investasi ke dunia saham.

Pahami Risk Tolerance

Risk tolerance atau tingkat toleransi risiko juga merupakan salah satu hal yang harus Anda pahami selama berinvestasi. Pertimbangkan berapa batas minimum dan maksimum risiko yang bisa Anda ambil dan apakah Anda siap dengan risiko yang mungkin terjadi dengan investasi Anda. Hal ini juga berarti memahami betul tentang instrumen investasi yang akan Anda ambil. Dengan memahami instrumen tersebut, Anda akan lebih mudah menentukan risk tolerance Anda.

Rebalancing untuk Keselarasan Investasi

Seperti namanya, rebalancing adalah sebuah proses penyeimbangan. Dalam istilah investasi, rebalancing berarti para investor menyelaraskan bobot aset yang diinvestasikan dalam portofolio yang dimiliki.

Contohnya, dalam saham, kegiatan ini merujuk pada aktivitas membeli atau menjual aset yang ada di portofolio investor untuk menjaga tingkat alokasi aset. Bila sebuah saham memiliki performa baik, maka investor bisa mengubah bobot saham menjadi lebih tinggi. Contohnya, ketika awalnya bobot aset meliputi 50% investasi saham dan sisanya adalah obligasi, investor bisa menaikkan bobot investasi menjadi 70%.


Investasi apapun memiliki risiko, karena itu diversifikasi portofolio sangat diperlukan. Anda pun harus tetap memikirkan keuangan jangka panjang agar tidak berlebihan dalam menaikkan bobot investasi Anda. Demikian pula dengan toleransi risiko yang harus Anda pahami sebelum memutuskan untuk mengambil instrumen yang Anda inginkan. Berkonsultasi dengan orang yang sudah paham dengan investasi, diversifikasi, dan segala hal yang berhubungan juga bisa membantu Anda untuk meminimalisir risiko.

Bacaan terkait: 8 Prinsip bagi Investor Pemula dan Berpengalaman, Membedakan Investasi Bodong dengan Investasi Terpercaya

Artikel blog ini ditulis oleh Modalku, platform peer-to-peer (P2P) lending nomor 1 di Indonesia. Kami menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tanah air dan membuka opsi investasi alternatif dengan pengembalian menarik bagi pemberi pinjaman. Tertarik mengenal Modalku lebih baik? Klik di sini.