Teknologi finansial, atau sebutan sehari-harinya FinTech, sedang ramai diperbincangkan dunia keuangan Indonesia. Sebut saja efek digital. Teknologi digital mendorong lahirnya model-model bisnis baru. Bisnis aplikasi berbasis Internet telah mendulang sukses dan membangun fondasi di Indonesia. Kenal Gojek? Siapa yang tidak tahu Gojek dan dampaknya bagi masyarakat Indonesia?

Karena sama-sama merupakan bisnis aplikasi berbasis Internet, Gojek sering tercampur dengan usaha Fintech. Padahal Gojek bergerak di bidang transportasi, sedangkan usaha berbasis teknologi digital mencakup berbagai sektor, termasuk asuransi dan perhotelan. Teknologi digital juga telah memasuki dunia keuangan dan menjadi FinTech.

Apa itu FinTech?

FinTech adalah inovasi teknologi di bidang keuangan. Banyak di antara kita yang sudah menikmati hasil FinTech. Contohnya: mobile banking, rekening ponsel, dan e-banking. FinTech menggunakan teknologi dan software untuk untuk menyediakan layanan finansial yang lebih efisien.

Secara global, FinTech bertumbuh pesat beberapa tahun terakhir. Setiap tahun, investasi global terhadap usaha FinTech terus melaju. Menurut riset yang dilakukan Accenture, pada tahun 2013 investasi global melebihi 4 miliar dolar. Investasi naik melebihi 12 miliar dolar di tahun 2014 dan naik lagi melebihi 22 miliar dolar di tahun 2015.

Di Indonesia sendiri, usaha FinTech bermunculan. Contohnya HaloMoney dan tentu saja Modalku. Meskipun usaha FinTech Indonesia masih muda, bank dan regulator sudah sigap dan ingin bekerja sama dengan usaha FinTech. Modalku telah berkolaborasi dengan Bank Sinarmas misalnya, dengan perjanjian kustodian yang menjadikan dana pelanggan lebih aman dan transparan.

Mengapa usaha FinTech begitu populer di Indonesia? Di bawah ini, kami akan jabarkan beberapa alasannya:

  1. Generasi muda yang lahir dengan Internet dan mulai dewasa menginginkan solusi cepat bagi permasalahan mereka. FinTech memudahkan persoalan mereka. Proses online biasanya lebih simpel dan lebih cepat. Anggota generasi Y juga aktif menyelesaikan masalah mereka sendiri. Bila tidak ada solusi, mereka akan membangun usaha start-up dengan niat memberi solusi bagi masyarakat.
  2. Meluasnya penggunaan Internet dan smartphone, sehingga ada kebutuhan untuk melakukan transaksi keuangan secara online.
  3. Pelaku FinTech Indonesia melihat cerita sukses bisnis berbasis teknologi digital seperti Gojek dan Uber. Mereka merasa terinspirasi membangun usaha digital di bidang keuangan. Bila orang lain bisa melakukannya, mengapa mereka tidak?
  4. Usaha FinTech dianggap lebih fleksibel dibandingkan bisnis konvensional yang memiliki imej lebih kaku.
  5. Penggunaan teknologi, software, dan Big Data oleh FinTech. Usaha FinTech juga menggunakan data dari social media. Aktivitas social media, misalnya, dapat dijadikan bagian dari analisis risiko.

Usaha FinTech Indonesia juga dibantu oleh terbukanya bank dan regulator. Bank-bank Indonesia aktif mencari teknologi baru dan regulator melihat FinTech sebagai hal positif bagi Indonesia. Bahkan beberapa platform peer-to-peer lending telah terdaftar di OJK.

Hubungan Bank dan FinTech

Ada yang bertanya: bukankah bank bunuh diri dengan bekerja sama dengan usaha FinTech? Justru tidak.

FinTech memiliki imej destruktif terhadap bidang perbankan. Padahal usaha FinTech dibentuk untuk memberikan solusi bagi masyarakat, bukan merusak usaha lain. Bank tak perlu merasa terancam karena usaha FinTech lebih baik berkolaborasi dengan bank. Juga sebaliknya. Kolaborasi antara bank dan usaha FinTech Indonesia akan melebarkan jaringan layanan mereka. Tentunya hal ini akan berdampak positif bagi Indonesia, di mana penetrasi produk keuangan relatif rendah.

Dengan fondasi yang kuat dan dukungan yang tepat, FinTech Indonesia tak cukup menjadi berita hangat– tetapi akan berdampak positif bagi masyarakat Indonesia.