Memutus Rantai Generasi Sandwich

Istilah generasi sandwich memang populer belakangan ini. Generasi sandwich adalah sebutan bagi seseorang yang harus mencukupi kebutuhan orang tua sekaligus anak-anak mereka. Disebut sandwich karena mereka terhimpit oleh dua generasi (orang tua yang berusia senja dan anak-anak muda). Istilah ini pertama kali digunakan pada 1981 oleh pekerja sosial, Dorothy Miller.

Blog Modalku pun beberapa kali membahas tentang generasi sandwich, mulai dari kemunculan generasi sandwich hingga langkah pencegahan generasi sandwich baru. Yang menjadi masalah adalah, bagaimana jika saat ini seseorang sudah menjadi generasi sandwich. Upaya menabung untuk dana pensiun pun makin sulit diwujudkan karena harus membiayai 2 generasi. Alhasil, ancaman generasi sandwich baru pun di depan mata.

Jika sudah demikian, mungkinkah mata rantai generasi sandwich dapat diputus? Apa saja langkah-langkah yang harus dilakukan? 

Bijak Berbelanja ala Generasi Sandwich

Mengapa belanja perlu bijak? Ya! Tanpa bijak dalam berbelanja, uang yang Anda punya akan selalu habis. Ancaman belanja impulsif pun semakin nyata. Anda bisa saja belanja tanpa “kesadaran” sehingga tanda disadar uang sudah habis. Dengan dalih menjaga kesehatan mental dan self reward karena beban finansial generasi sandwich yang berat, Anda pun menghabiskan sejumlah uang hanya untuk belanja online. Apalagi di e-commerce banyak tawaran promo, padahal Anda belum tentu butuh. Tentu godaan semacam itu makin parah dengan kondisi pandemi yang “memaksa” kita untuk tetap di rumah, sehingga belanja online jadi pilihan.  

Memang belanja online punya sensasi berbeda yang membawa kebahagiaan. Namun, jika tak terkontrol dan berlebihan, belanja online bisa jadi bencana. Tidak ada yang salah dengan belanja online, namun pastikan barang yang Anda beli benar-benar dibutuhkan. 

Mau belanja online, tapi tetap hemat? Simak 4 tipsnya di sini!

Menyenangkan diri sendiri tentu sah-sah saja. Tapi, semuanya harus tetap terukur dan dalam batas wajar. Terutama dalam hal belanja. Ingat! tujuan utama belanja adalah untuk memenuhi kebutuhan. Jika tujuan utamanya tidak terpenuhi, maka rencana pembelian tersebut harus ditunda. Prinsip ini akan menghindarkan Anda dari belanja impulsif.

Belanja dengan bijak juga kan menghindarkan Anda dari kondisi “Bokek Terus!

Generasi Sandwich harus Mulai Menabung

Dengan menerapkan cara belanja yang bijak, secara otomatis Anda akan menghemat uang. Dan hasil penghematan tersebut Anda pun bisa menabung. Inilah langkah awal Anda agar tidak “terhimpit” saat menjadi generasi sandwich. 

Meski terdengar klise dan normatif, nyatanya menabung memang tidak mudah. Faktanya, rasio menabung orang Indonesia memang tergolong rendah. Masih banyak yang terjebak pada siklus gaji ke gaji. Setiap bulan gaji hanya habis untuk memenuhi kebutuhan. Kondisi “terjepit” dua generasi semakin memparah keadaan. Jangankan untuk menabung, seringkali justru kurang. Jika sudah demikian, “menabung” harus dipaksakan.

Simak tips ampuh menghindari siklus gaji ke gaji di sini!

Dari sekian pengeluaran, coba kurangi pengeluaran yang sifatnya pleasure atau kebutuhan tersier. Ganti kegiatan tersebut dengan kegiatan yang lebih low budget. Misalnya jika biasanya setiap weekend makan-makan di restoran, coba ganti dengan masak di rumah. Acaranya kan tetap makan-makan, hanya dengan biaya yang lebih murah.

Alokasi dana untuk menabung, tidak terlalu besar. Yang penting ada dana yang “parkir” di rekening Anda. Sebagai langkah awal, pelan tapi pasti Anda akan terbiasa menabung. Tingginya beban finansial tidak lagi jadi halangan karena menabung sudah menjadi kebiasaan. 

Pada titik ini, Anda bisa meningkatkan level menabung. Kini, cobalah untuk menabung di depan. Sesaat setelah menerima gaji, segera sisihkan untuk ditabung. Dengan demikian, Anda selalu punya tabungan yang selalu bertambah setiap bulan.

Cari Penghasilan Tambahan

Setelah belanja bijak dan menabung, kini saatnya Anda mencari penghasilan tambahan. Dengan meningkatkan pendapatan, Anda akan lebih mudah menjalani hidup sebagai generasi sandwich. Jadi, meski Anda membiayai orang tua, Anda tetap bisa fokus pada keluarga kecil Anda. Rencana-rencana finansial Anda pun bisa tetap dijalankan.

Penghasilan tambahan bisa didapat dengan berbagai cara. Bisa dengan pekerjaan sampingan atau mulai berbisnis. Agar tidak kesulitan di awal, Anda bisa mencari pekerjaan sampingan yang sesuai dengan skill Anda di pekerjaan utama. Dengan demikian, Anda tidak perlu buang waktu untuk belajar hal baru.

Lihat juga: “Mengatur Waktu agar Bisnis Sampingan tidak Menganggu Pekerjaan Utama” 

Mulai berbisnis juga bisa pilihan yang menarik. Cobalah berbisnis online, yang bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Bukan tidak mungkin penghasilan dari bisnis online ini lebih besar daripada gaji Anda. Karena tidak ada batasan jarak dan waktu buka toko.

Inilah 5 Bisnis Online yang Punya Peluang Menjanjikan!

Lanjutkan dengan Investasi

Setelah tabungan terkumpul, setidaknya cukup untuk dana darurat, mulailah berinvestasi. Cari instrumen investasi yang sesuai profil risiko Anda. Makin besar keuntungan sebuah instrumen, makin tinggi juga risikonya. Begitu juga sebaliknya. High risk, high return, inilah prinsip dasar dalam berinvestasi.

Setiap instrumen investasi memiliki risiko yang berbeda-beda. Kenali risikonya dan sesuaikan dengan tujuan Anda. Setelah mengenali risiko masing-masing instrumen, segera tetapkan strategi investasi untuk memaksimalkan keuntungan. Dengan strategi investasi yang jitu, risiko dapat diminimalisir. Salah satu strategi yang populer dalam investasi adalah diversifikasi portofolio.

“Don’t put all your eggs in one basket” atau jangan masukkan semua telur Anda dalam satu wadah. Inilah prinsip diversifikasi portofolio investasi. Jangan memfokuskan pada satu instrumen saja. Salah satu contohnya adalah saham. Ketika instrumen tersebut mengalami kerugian besar, maka Anda akan kehilangan banyak uang bila hanya fokus investasi ke dunia saham.

Prinsip yang sama juga berlaku untuk alternatif investasi di Modalku. Anda sebaiknya melakukan pendanaan di berbagai pinjaman. Bukan hanya pada satu pinjaman saja. Selain meminimalkan risiko, diversifikasi pinjaman juga akan memberi kesempatan pada lebih banyak UMKM.

Kini, apalagi yang Anda tunggu? Segera berinvestasi! Tak perlu khawatir dana terbatas. Alternatif investasi di Modalku bisa dimulai hanya dengan Rp 100 ribu rupiah. Cocok untuk pemula bukan! Pelajari lebih lanjut tentang altenatif investasi Modalku di sini!


Memutus generasi sandwich memang tidak mudah. Apalagi jika seseorang sudah menjadi generasi sandwich. Namun, dengan langkah-langkah di atas, munculnya generasi sandwich baru bisa dicegah. Mulai bijak berbelanja, disiplin menabung dan maksimalkan pendapatan dengan penghasilan tambahan. Kemudian lanjutkan dengan berinvestasi. Semua ini akan menjadi langkah jitu memutus rantai generasi sandwich. Semoga berhasil!


Anda juga dapat mengakses informasi tentang tips-tips keuangan, gaya hidup, produk keuangan, hingga alternatif investasi di blog.modalku.co.id. Awali kebebasan finansial dengan memperkaya literasi keuangan bersama kami. Ayo jelajahi blog kami!

Artikel blog ini ditulis oleh Modalku, pionir platform peer-to-peer (P2P) lending di Indonesia dan Asia Tenggara. Kami menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tanah air dan membuka opsi investasi alternatif dengan bunga menarik bagi pemberi pinjaman.

Modalku memenangkan Global SME Excellence Award dari ITU Telecom, salah satu badan organisasi PBB, di akhir tahun 2017. Modalku juga memenangkan Micro Enterprise Fintech Innovation Challenge yang diselenggarakan oleh United Nations Capital Development Fund (UNCDF) dan UN Pulse Lab Jakarta di tahun 2018. Visi kami adalah memberdayakan UMKM untuk bersama memajukan ekonomi Indonesia. Lihat statistik perkembangan pesat Modalku di sini.

Tertarik mengenal Modalku lebih baik? Klik di sini.

Modalku secara resmi berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.

Leave a Reply