Bisnis yang terlihat berkembang pesat bisa saja kesulitan membayar kewajiban rutin. Penyebabnya biasanya karena likuiditas yang buruk. Namun, Anda bisa menghindari risiko tersebut dengan mengetahui rasio likuiditas usaha. Rasio ini untuk menilai kemampuan bisnis dalam memenuhi kewajiban finansial jangka pendek, seperti gaji, tagihan supplier, dan cicilan utang. Jadi, agar keputusan finansial bisnis tidak salah arah, pastikan Anda memperhatikan nilai rasio yang ideal.
Berapa Rasio Likuiditas yang Baik?
Rasio likuiditas terbagi menjadi tiga kategori, yaitu current ratio (rasio lancar), quick ratio (rasio cepat), dan cash ratio (rasio kas). Rentang ideal untuk rasio lancar adalah 1,5-3,0. Artinya, perusahaan perlu memiliki aset lancar yang nilainya minimal 1,5 kali lebih besar daripada kewajiban lancarnya. Lebih dari 3, kemungkinan besar perusahaan menyimpan terlalu banyak aset yang tidak produktif.
Pada rasio cepat, rentang idealnya adalah >1,0. Jika memiliki rasio cepat 1, berarti perusahaan masih mampu melunasi kewajiban jangka pendek tanpa harus mengandalkan penjualan inventaris. Sedangkan untuk rasio kas, rentang idealnya berkisar antara 0,5–1,0. Rasio di bawah 1 masih dapat diterima selama perusahaan punya arus kas yang kuat.
Cara Hitung Rasio Likuiditas
Untuk menghitung rasio likuiditas, Anda bisa menggunakan tiga rumus, yaitu:
- Rasio lancar = Aktiva lancar : Utang lancar
- Rasio cepat = (Aktiva lancar – Persediaan) : Utang lancar
- Rasio kas = (Kas + Surat berharga jangka pendek) : Utang lancar
Sebagai contoh, perusahaan bernama PT ABC memiliki aktiva lancar sebanyak Rp50 juta, nilai inventaris sebesar Rp20 juta, dan utang lancar senilai Rp15 juta. Berdasarkan informasi tersebut, Anda bisa menghitung rasio likuiditas menggunakan rumus rasio cepat, yaitu:
Rasio cepat = (Aktiva lancar – Persediaan) : Utang lancar
= (Rp50 juta – Rp20 juta) : Rp15 juta
= Rp35 juta : Rp15 juta
= 2,0.
Dengan kata lain, rasio liquidity PT ABC mencapai lebih dari 1,0. Artinya, PT ABC mempunyai kemampuan yang baik dalam melunasi berbagai kewajiban jangka pendeknya.
Cara Meningkatkan Rasio Likuiditas
Setelah menghitung liquidity ratio dengan rumus di atas, bagaimana jika hasilnya belum ideal atau sesuai ekspektasi Anda? Tak perlu panik, Anda bisa meningkatkan rasio likuiditas bisnis dengan cara-cara berikut:
Kurangi persediaan berlebih yang tidak menghasilkan
Rendahnya rasio liquidity bisa disebabkan oleh inventaris atau persediaan berlebih. Jadi, daripada tidak menghasilkan pemasukan, sebaiknya ubahlah persediaan tersebut menjadi kas. Identifikasi stok mana saja yang termasuk slow-moving, lalu juallah dengan diskon bertahap, paket promosi, hingga bundling. Untuk stok rusak atau berlebih, cobalah negosiasi untuk retur atau buyback dengan pemasok.
Percepat penagihan piutang
Salah satu cara efektif untuk memperkuat rasio likuiditas adalah mempercepat penagihan piutang. Terapkan ketentuan kredit yang lebih ketat, lakukan credit check pada pelanggan, hingga terbitkan e-invoicing pada hari yang sama. Selain itu, Anda juga bisa menawarkan early payment discount dan denda keterlambatan untuk mendorong pembayaran piutang.
Lakukan cash flow forecasting
Cash flow forecasting membantu Anda mengantisipasi kekurangan atau kelebihan kas, sehingga Anda bisa membuat keputusan bisnis yang lebih tepat. Anda bisa melakukan forecasting arus kas berbasis penjualan, pembelian, jadwal penagihan, cicilan, pajak, gaji, dan sewa. Lakukan update tiap minggu untuk membandingkan realisasi dan forecast.
Jaga cadangan arus kas
Mengingat dunia bisnis yang begitu dinamis, Anda perlu mempersiapkan usaha untuk menghadapi ketidakpastian. Caranya, dengan mengumpulkan cadangan arus kas untuk memenuhi kewajiban jangka pendek jika ada keadaan darurat. Supaya lebih mudah, alokasikan autodebet sekian persen dari margin kotor ke rekening cadangan. Lakukan secara rutin tiap minggu atau bulan agar cadangan kas cepat terkumpul.
Perbanyak sumber pemasukan usaha
Tingkatkan arus kas masuk dengan memperbanyak sumber pemasukan usaha. Salah satu caranya bisa dengan menerapkan strategi upsell atau cross-sell agar cash margin meningkat per transaksi. Selain itu, Anda juga dapat menjual produk varian fast-moving di saluran yang mudah diakses, seperti marketplace atau social commerce. Beberapa cara lain yang tak kalah menarik adalah penerapan sistem subscription serta penjualan voucher atau gift card.
Dengan menjaga rasio likuiditas usaha, Anda akan mampu membayar kewajiban jangka pendek secara tepat waktu. Namun, bagaimana jika Anda punya banyak invoice pelanggan yang belum cair? Tenang, Anda bisa menjadikannya sumber dana tambahan bersama Modalku!
Melalui produk Invoice Financing, Anda dapat mencairkan invoice pelanggan yang belum dibayar, dengan limit mencapai Rp5 miliar dan tenor hingga 90 hari. Anda pun bisa menjadikannya modal kerja untuk memenuhi kewajiban jangka pendek dan kebutuhan operasional. Sebagai #AndalanPebisnis, Modalku siap memberikan akses pendanaan cepat dan fleksibel untuk menjaga kelancaran arus kas Anda. Ajukan pendanaan sekarang juga!

