Membangun Semangat di Tengah Perlambatan Ekonomi

Bank Indonesia mengakui bahwa saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia agak lambat. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah kondisi ekonomi global. Tetapi selain itu, ada juga faktor internal yaitu ketergantungan konsumen Indonesia terhadap produk impor. Dicatat bahwa total impor yang tumbuh hampir dua kali lebih cepat dibandingkan ekspor.

Perlambatan ekonomi ini tentu berdampak pada geliat ekonomi masyarakat. Yang paling terasa adalah adanya kenaikan harga komoditas dan lapangan kerja yang semakin sulit. Meskipun demikian, tetap ada harapan di tengah situasi ini. Harapan datang dari ekonomi digital yang telah memicu pergerakan bisnis mikro, kecil dan menengah.

Harapan dari Ekonomi Digital

Dalam kondisi ekonomi yang melambat ternyata masih ada sektor yang pertumbuhannya pesat, yakni ekonomi digital dan khususnya e-commerce. Kontribusi ekonomi digital terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sudah cukup besar, yakni mencapai 7,3% pada tahun 2016 dan diproyeksikan akan meningkat hingga sebesar 8,5% terhadap PDB tahun ini. Tidak hanya itu, pertumbuhan industri e-commerce justru semakin pesat di tengah perlambatan ekonomi Indonesia.

Terlebih lagi, pelaku bisnis sektor e-commerce kebanyakan berskala Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Selama ini, UMKM adalah industri usaha yang paling tahan masa krisis. Oleh karena itu, seharusnya perlambatan ekonomi tidak menjadi masalah bagi sektor yang tahan banting ini. Tidak berlebihan jika kita sebut bahwa sektor UMKM adalah benteng pertahanan ekonomi bangsa. Potensi UMKM lokal pun semakin besar apabila semakin banyak dari mereka yang berintegrasi dengan dunia dan aplikasi digital.

Lebih lanjut: “Perlukah UKM Go Digital?”

Dukungan FinTech

Tumbuh seiring dengan e-commerce, financial technology (FinTech) juga mendongkrak perekonomian melalui kemudahan transaksi pembayaran para pelaku bisnis digital. Tidak hanya pembayaran, FinTech yang bergerak di bidang pendanaan (lending) juga memiliki peran penting. FinTech lending, khususnya peer-to-peer (P2P) lending membantu para pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah melalui pendanaan usaha. Lebih jelasnya, platform FinTech lending telah memberikan kontribusi sebesar Rp 26 triliun terhadap PDB negara sejak OJK menerbitkan regulasi bagi layanan ini di tahun 2016.

Selain itu, kehadiran P2P lending juga telah menciptakan 215.433 lapangan kerja sejak 2016. Lapangan kerja yang tercipta termasuk di sektor UMKM yang telah berkembang dan mampu memperkerjakan lebih banyak karyawan karena pinjaman modal usaha dari platform P2P lending dan FinTech lending.

Pelan tapi pasti, dunia digital telah membentuk sebuah ekosistem yang memiliki kontribusi nyata bagi ekonomi. Bahkan ekonomi digital diproyeksikan akan mengubah beberapa sektor industri, khususnya manufaktur dan UMKM. Melalui dunia digital, UMKM memiliki kesempatan lebih dalam pemasaran dan untuk berkembang.

Keberadaan e-commerce sebagai wadah UMKM, tidak serta merta memudahkah langkah bisnisnya. Mereka masih kesulitan mendapatkan pinjaman usaha. Lembaga keuangan yang sudah ada tidak selalu bisa melayani mereka. Ada beberapa penyebabnya, bisa aja usahanya kekurangan jaminan, atau mungkin usahanya tidak memiliki riwayat kredit. Di sini, e-commerce dan P2P lending bisa bekerja sama membantu UMKM. Contohnya, Modalku memiliki kemitraan dengan e-commerce terkemuka seperti BukaLapak dan Tokopedia.

Semangat yang Terus Tumbuh

Selain e-commerce dan FinTech, ada aspek lain yang berperan dalam perekonomian, yaitu generasi milenial. Generasi ini menjadi aktor utama dalam ekosistem ekonomi digital. Mereka tumbuh dan sudah terbiasa dengan dunia digital. Mereka tidak hanya menjadi konsumen tapi juga produsen berbagai produk dan layanan. Mengapa demikian?

Lebih lanjut: “Memahami “Bahasa” Milenial Indonesia, Merebut Pasar”

Generasi milenial memiliki jiwa kewirausahaan yang tinggi. Tidak mengherankan jika akhir-akhir ini banyak bermunculan pelaku bisnis kreatif yang usianya rata-rata masih 20 sampai 40 tahun. Kebanyakan bisnis mereka masih berskala UMKM, sehingga dapat berkesinambungan dengan e-commerce dan FinTech.

Kolaborasi antara e-commerce, FinTech, dan generasi milenial merupakan potensi yang layak dikembangkan di tengah perlambatan ekonomi. Dengan ekosistem digital yang diwadahi oleh e-commerce, disokong oleh FinTech, dan digerakkan oleh generasi milenial, perekonomian bangsa akan membaik.


Artikel blog ini ditulis oleh Modalku, platform peer-to-peer (P2P) lending nomor 1 di Indonesia dan Asia Tenggara. Kami menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tanah air dan membuka opsi investasi alternatif dengan pengembalian menarik bagi pemberi pinjaman. Tertarik mengenal Modalku lebih baik? Klik di sini.

Leave a Reply