Di era yang serba digital, marketplace sudah menjadi salah satu tempat utama untuk mengembangkan bisnis. Hal ini dikarenakan ekosistem dari marketplace yang terus berkembang dan bervariasi untuk komoditas barang fisik hingga tanpa fisik. 

Namun, perkembangan era marketplace tentunya menuai pro dan kontra. Sebagai contoh, saat ini marketplace untuk barang fisik atau yang biasa dikenal dengan platform e-commerce sering menjadi sorotan utama. Masalahnya, berkembangnya platform e-commerce melahirkan tumpukan biaya admin, layanan, dan promosi yang terus naik dari tahun ke tahun. Hal ini dirasa tidak sebanding dengan omset yang didapatkan khususnya oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Biaya Admin Terus Bertambah 

Biaya admin platform e-commerce terus melesat dalam 3-4 tahun terakhir. Hal ini menjadi keluhan banyak pelaku UMKM di Indonesia, karena pendapatan utama sebagian pelaku UMKM berasal dari berjualan online pada platform e-commerce. Menteri UMKM membenarkan adanya permasalahan ini karena banyaknya keluhan terkait sulitnya bisnis UMKM untuk bertahan di tengah situasi ekonomi yang sulit ditambah dengan tingginya biaya admin platform e-commerce.

Berdasarkan data, biaya layanan platform e-commerce besar saat ini sudah menyentuh angka 20%–25%. Dengan angka tersebut, dapat diperkirakan margin laba bersih margin laba bersih dari pelaku UMKM hanya tersisa 8%-12%. Artinya, dari setiap penjualan dengan nominal Rp100.000, keuntungan yang didapatkan oleh pelaku UMKM dengan berjualan di platform e-commerce hanya Rp8.000-Rp12.000.

Di bulan Mei 2026, kenaikan biaya admin platform e-commerce terjadi secara serempak. Shopee, Tokopedia, dan Tiktok Shop kompak merubah skema layanan yang mereka berlakukan. Mulai dari tarif program kampanye gratis ongkos kirim (ongkir), biaya logistik, hingga batas maksimum komisi berubah secara serempak.  Hal ini terasa berat karena Shopee, Tokopedia, dan Tiktok Shop merupakan tiga raksasa platform e-commerce dengan jumlah pengguna terbanyak dan pangsa pasar terbesar.

Dilema Besar: Omset Menurun, Cash Flow Tertahan

Biaya admin platform e-commerce yang naik dari tahun ke tahun tentunya berdampak terhadap menurunnya omset yang didapatkan pelaku UMKM. Di lain sisi, ada jeda waktu beberapa hari mulai dari pesanan/barang dipersiapkan hingga akhirnya status pesanan selesai tanpa komplain dan pencairan dana penjualan bisa dilakukan. Hal ini menjadi hambatan lainnya karena pelaku UMKM butuh perputaran uang tunai yang cepat yang dibutuhkan untuk keperluan operasional seperti restock barang, biaya produksi, dan gaji buruh/karyawan yang harus terus terjaga agar roda ekonomi usaha tetap berputar.

Di sisi lain, menaikkan harga jual bukan sebuah solusi penyelesaian. Kondisi daya beli yang terbatas dan persaingan harga pasar yang ketat dapat membuat pelanggan pindah ke kompetitor jika harga jual barang dinaikkan.

Riset menunjukkan bahwa tantangan terbesar pelaku UMKM di tahun 2026 terletak pada pengelolaan arus kas yang ideal, dimana omset dari penjualan tidak dapat naik secara signifikan, sementara biaya produksi, bahan baku, logistik, dan energi terus merayap naik. Hal ini yang membuat pelaku UMKM merasa terjepit karena biaya produksi dan platform penjualan akan terus naik sementara harga produk tidak dapat ditingkatkan.

Apa Solusi Terbaiknya?

Beberapa langkah strategi bisnis bisa membantu menjaga margin tanpa harus menaikkan harga jual, di antaranya:

  • Membuat model produk baru untuk membuka segmen harga atau target pasar yang berbeda, sehingga usaha tidak hanya bergantung pada satu jenis produk.
  • Menerapkan penjualan bundling, sehingga rata-rata nilai transaksi per pembeli naik dan proporsi biaya admin platform e-commerce terhadap total penjualan lebih efisien.
  • Membeli bahan baku dalam skala besar untuk mendapatkan harga khusus dari supplier, sehingga biaya produksi bisa ditekan.

Namun, ketiga strategi ini butuh modal yang tidak sedikit. Pembelian barang skala besar, mengembangkan produk baru, dan mempromosikan paket penjualan bundling tentunya membutuhkan modal tambahan. Di sinilah suntikan modal usaha yang tepat bisa jadi kunci penyeimbang, agar cash flow tetap stabil selagi menjalankan strategi bisnis yang dirasa paling ideal.

Jaga Cash Flow Tetap Stabil dengan Pendanaan dari Modalku

Alih-alih menahan peluang karena dana operasional tertahan di sistem pencairan marketplace dan menunda pelaksanaan strategi bisnis yang ideal untuk mengembangkan usaha Anda, pelaku UMKM bisa memanfaatkan kredit usaha untuk berbagai kebutuhan, seperti:

  • Restock barang lebih cepat tanpa menunggu pencairan dana dari marketplace.
  • Membeli bahan baku dalam skala besar demi mendapatkan harga terbaik dari supplier.
  • Mendanai riset dan pengembangan produk atau model bisnis baru.
  • Menjaga operasional tetap berjalan normal meski margin sedang tertekan.
  • Mendanai biaya promosi produk baru atau paket bundle agar rata-rata nilai penjualan meningkat.

Dengan pengajuan yang mudah dan proses cepat, kredit usaha bisa jadi napas tambahan bagi pelaku UMKM yang ingin tetap bertumbuh di tengah tekanan biaya platform e-commerce yang terus naik.

Modalku dapat memberikan kredit usaha yang dapat disesuaikan dengan profil dan kebutuhan bisnis Anda. Modalku bisa mengakomodasi pinjaman mikro untuk UMKM hingga pinjaman institusi dengan skala industri. Di Modalku Anda bisa mendapatkan kredit usaha tanpa agunan dengan limit hingga Rp 5 miliar.

Segera ajukan kredit usaha di Modalku dan jaga cashflow bisnis Anda tetap sehat!


Modalku (PT Mitrausaha Indonesia Grup) berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

#AndalanPebisnis #1DekadeModalku


Sumber: