Perkembangan industri fashion kini tidak lagi hanya berbicara tentang desain, warna, atau kecepatan produksi. Munculnya kesadaran global terhadap isu lingkungan dan sosial mendorong lahirnya konsep sustainable fashion yang semakin relevan. Bagaimana bisa?
Konsumen zaman sekarang sudah lebih kritis. Sebab, mereka tidak hanya membeli pakaian berdasarkan seberapa modis gayanya, tapi juga ingin tahu bagaimana produk dibuat, siapa yang memproduksinya, serta dampaknya terhadap bumi. Tentunya, bisnis yang bisa beradaptasi dengan tren yang akan muncul lebih berpeluang untuk sukses.
Prediksi Tren Sustainable Fashion
Berikut adalah beberapa hal yang diperkirakan akan populer dalam ranah sustainable fashion, dan bisa Anda terapkan dalam bisnis:
1. Slow fashion
Jika dulu industri berlomba-lomba memproduksi koleksi baru setiap beberapa minggu dengan mengandalkan FOMO marketing, kini banyak merek justru memperlambat ritmenya. Sebab, konsumen mulai sadar bahwa membeli pakaian murah dalam jumlah besar hanya akan menambah tumpukan limbah tekstil.
Berbeda dengan fast fashion, slow fashion lebih berfokus pada kualitas, daya tahan, serta desain yang timeless supaya pakaian bisa digunakan lebih lama. Brand yang mengusung prinsip ini biasanya juga lebih transparan dalam rantai pasokannya, mulai dari pemilihan bahan, proses produksi, hingga kondisi pekerja. Dengan begitu, pelanggan merasa membeli produk yang bernilai lebih dari sekadar barang pakai.
2. Circular fashion
Dalam sustainable fashion, konsep circular fashion tak terpisahkan dari memperlambat siklus produksi. Prinsip ini berfokus pada bagaimana pakaian bisa terus bernilai meskipun sudah selesai digunakan. Model bisnis seperti penyewaan pakaian, layanan tukar tambah, hingga program daur ulang semakin banyak dijalankan oleh brand global maupun lokal.
3. Penggunaan bahan baku inovatif
Bahan baku adalah fondasi penting dalam sustainable fashion. Tren ke depan menunjukkan semakin banyak penelitian dan inovasi untuk menciptakan material alternatif yang ramah lingkungan. Misalnya, penggunaan serat bambu yang cepat terurai, kain dari serat daun nanas (Piñatex), kulit berbasis jamur (mycelium leather), hingga tekstil dari limbah plastik laut yang diolah kembali.
Bahan seperti katun organik juga masih menjadi pilihan utama karena bebas pestisida berbahaya dan lebih hemat air. Inovasi ini menjawab kebutuhan konsumen yang ingin tetap stylish tanpa harus merusak lingkungan.
4. Virtual fitting
Tren digital juga turut membentuk wajah sustainable fashion. Salah satu inovasi yang mulai populer adalah virtual fitting. Dengan teknologi AR dan AI, konsumen dapat mencoba pakaian secara virtual sebelum membeli. Hal ini bisa meningkatkan pengalaman belanja dan mengurangi tingkat pengembalian produk yang biasanya berakhir menjadi limbah.
Tak hanya itu, virtual fitting membuka peluang bagi brand untuk menghadirkan pengalaman personal tanpa harus memproduksi sampel dalam jumlah besar. Efeknya, Anda bisa menekan penggunaan sumber daya, dan bisnis fashion Anda pun tetap mampu mengikuti kecepatan tren digital.
5. Penggunaan pewarna tekstil ramah lingkungan
Warna memang merupakan daya tarik tiap pakaian. Namun, di baliknya, pewarna tekstil berbasis kimia merupakan salah satu penyumbang polusi air terbesar. Maka dari itu, tren sustainable fashion mendorong munculnya pewarna ramah lingkungan yang berasal dari bahan alami seperti tumbuhan, rempah, hingga limbah organik.
Selain lebih aman bagi lingkungan, hasil pewarnaan alami justru menciptakan karakter unik pada setiap kain. Ini juga akan menjadi nilai tambah dalam pemasaran produk karena konsumen merasa terhubung dengan proses yang lebih etis.
6. Storytelling berbasis artisanal craftsmanship dalam content marketing
Di tengah derasnya arus produksi massal, konsumen kini merindukan cerita. Merek fashion yang mampu menampilkan storytelling berbasis keahlian tangan pengrajin lokal atau artisanal craftsmanship akan memiliki daya tarik lebih kuat. Untuk strategi ini, Anda bisa menampilkan perjalanan sebuah produk sejak dari bahan baku hingga menjadi pakaian siap pakai.
Cerita tentang pengrajin yang terlibat, teknik tradisional yang dilestarikan, atau komunitas yang diberdayakan, membuat konsumen merasa memiliki keterikatan emosional. Sebab, pelanggan akan merasa seolah mereka juga membeli nilai budaya, warisan, dan keberlanjutan sosial.
Kunci dari tren sustainable fashion ke depannya sangat menekankan storytelling, bahan baku ramah lingkungan, dan proses produksi yang lebih mengutamakan kualitas daripada kuantitas.
Jika Anda ingin mengikuti tren tersebut dengan melakukan riset pasar, penelitian inovasi bahan baku alternatif, dan meningkatkan nilai produksi konten pemasaran agar lebih profesional, semua itu akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Namun, sebagai #AndalanPebisnis, Modalku siap membantu!
Modalku memiliki produk Pendanaan Institusi yang menawarkan pendanaan ekstra hingga Rp5 miliar untuk semua kebutuhan produksi, riset, dan promosi Anda. Modal usaha tambahan ini bisa Anda dapatkan melalui invoice financing dan berbagai metode lainnya. Bahkan, tenor pelunasannya cukup fleksibel. Bagaimana cara kerja, syarat, dan prosedur pengajuannya? Temukan seberapa mudahnya di sini!

