7 Tips Menerapkan Supply Chain Agile dalam Bisnis FMCG

Strategi Cross Marketing

Supply chain yang efisien merupakan tulang punggung keberlanjutan bisnis fast-moving consumer goods (FMCG). Untuk menjaminnya, Anda bisa menerapkan pendekatan agile yang mengutamakan kecepatan dan fleksibilitas dalam merespons perubahan kondisi dan permintaan pasar.

Jika Anda ingin menerapkan supply chain yang agile, perusahaan perlu fokus pada aspek transparansi, adaptabilitias, kolaborasi, dan perbaikan yang berkelanjutan. Apa saja yang perlu Anda persiapkan?

Strategi Implementasi Supply Chain Agile dalam FMCG

Rantai pasokan agile dapat membantu bisnis FMCG lebih cepat beradaptasi terhadap dinamika pasar. Anda bisa mewujudkan hal tersebut dengan menerapkan beberapa strategi berikut:

Identifikasi hambatan dalam proses supply chain saat ini

Lakukan identifikasi tantangan dan hambatan dalam sistem rantai pasokan yang saat ini berlaku di perusahaan. Anda bisa mengevaluasi alur kerja terlebih dulu, sehingga dapat menemukan bottleneck dalam proses produksi atau pengiriman. 

Evaluasi tersebut juga dapat membantu Anda memetakan area yang rentan mengalami penundaan dalam sistem rantai pasokan. Dengan begitu, Anda dapat mengetahui aspek mana saja yang membutuhkan perbaikan atau peningkatan fleksibilitas. 

Komunikasikan dengan stakeholder

Supply chain agile tidak akan bisa terwujud jika hanya dilakukan oleh 1–2 orang. Sistem ini membutuhkan keterlibatan aktif dari seluruh stakeholders, mulai dari karyawan, manajemen, supplier, hingga partner bisnis

Mulailah dengan mengkomunikasikan sistem rantai pasokan agile dan tujuan yang ingin dicapai, serta caranya. Komunikasi transparan dapat menciptakan sinergi yang akan mendukung adaptasi terhadap perubahan serta pengambilan keputusan bisnis.

Terapkan teknologi supply chain terbaru

Fleksibilitas dalam rantai pasokan agile juga mencakup adaptasi terhadap perkembangan teknologi. Manfaatkan teknologi terbaru seperti kecerdasan buatan (AI) dan data analytics untuk memudahkan perusahaan FMCG dalam memantau, menganalisis, dan merespons perubahan tren pasar secara lebih cepat.

Misalnya, Anda bisa mengintegrasikan sistem supply chain management (SCM) dan enterprise resource planning (ERP) berbasis cloud. Teknologi ini mampu membantu Anda mengkoordinasikan tugas lintas-departemen. Dengan begitu, informasi terkait perubahan bisa segera disampaikan ke seluruh tim terkait.

Latih pegawai tentang supply chain secara berkala

Transformasi ke sistem supply chain agile membutuhkan keterampilan khusus. Jadi, supaya transformasi berjalan lancar, berikan pelatihan kepada pegawai secara berkala. Tentukan dulu area mana saja dalam proses supply chain yang butuh perhatian lebih. Beberapa area krusial yang perlu Anda perhatikan adalah manajemen stok dan inventaris, forecasting, dan analisis data.

Berdasarkan kebutuhan tersebut, kembangkan program pelatihan pegawai secara menyeluruh. Pastikan pelatihan tersebut tidak hanya memberikan teori, tapi juga praktik langsung. Anda bisa menyertakan studi kasus, contoh nyata di dunia kerja, hingga sesi simulasi.

Jalin kerja sama dengan lebih banyak supplier

Perusahaan FMCG bekerja sama dengan supplier untuk mendapatkan bahan atau sumber daya tertentu. Sebaiknya, hindari bekerja sama dengan hanya satu supplier. Kerja sama dengan lebih banyak supplier dapat memberi Anda lebih banyak opsi untuk menyesuaikan pasokan dengan perubahan permintaan atau tren pasar.

Tak hanya itu, dengan memiliki supplier tambahan atau cadangan yang dapat diandalkan, perusahaan FMCG juga dapat mempercepat proses produksi dan mengurangi risiko keterlambatan. Jadi, jika ada satu supplier yang mengalami gangguan pengiriman, Anda dapat mengandalkan supplier lain.

Jalankan pilot program secara bertahap

Penerapan supply chain agile memang penting untuk menunjang bisnis FMCG. Meski begitu, hindari melakukan implementasi secara terburu-buru. Sebelum mengadopsi pendekatan agile secara menyeluruh, jalankan dulu pilot program pada 1–2 area rantai pasokan. 

Cara ini dapat memudahkan Anda untuk mengevaluasi efektivitas sistem agile pada ekosistem FMCG yang sesungguhnya. Di sisi lain, pilot program juga memungkinkan Anda untuk mengidentifikasi tantangan yang mungkin akan muncul. Dengan begitu, Anda bisa merencanakan solusi sebelum menerapkan rantai pasokan agile secara keseluruhan.

Lakukan audit dan peningkatan berkala

Meskipun sudah mengadopsi pendekatan agile pada rantai pasokan secara penuh, bukan berarti prosesnya sudah selesai. Anda perlu memantau dan mengaudit sistem rantai pasokan agile secara berkala. Tujuannya untuk memastikan bahwa proses berjalan optimal dan masih sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. 

Selain itu, evaluasi rutin juga dapat membantu perusahaan FMCG untuk mengidentifikasi area mana saja yang perlu peningkatan. Dengan begini, Anda dapat melakukan penyesuaian atau mengadopsi teknologi baru jika diperlukan.

Supply chain agile membantu bisnis FMCG lebih cepat beradaptasi dan merespons dinamika pasar. Salah satu kunci efektivitas penerapan sistem agile adalah sumber daya yang memadai, termasuk pendanaan, terutama dari segi penggunaan teknologi dan pelatihan. 

Untuk kebutuhan satu ini, tenang aja, ada Modalku #AndalanPebisnis yang menawarkan Pendanaan Institusi. Menyediakan pendanaan yang fleksibel hingga Rp5 miliar bagi badan usaha PT/CV di Jabodetabek, Surabaya, dan Bali. Apalagi, ada banyak pilihan produk pendanaan yang cocok untuk berbagai model bisnis. Kunjungi website Modalku untuk mengajukan permohonan pendanaan sekarang juga!

Ajukan Pendanaan Institusi

Subscribe

* indicates required

Tinggalkan Balasan