Dewasa ini, generasi milenial sering mendapat sorotan dalam beragam perbincangan. Mereka seringkali dianggap sebagai generasi yang boros menggunakan uang dan suka hura-hura. Investasi seakan tidak ada dalam kamus mereka. Beberapa lembaga penelitian bahkan memperkirakan bahwa generasi milenial tidak akan mampu membeli rumah akibat kebiasaan buruknya itu. Berdasarkan survei yang dilakukan Rumah123, diprediksi pada tahun 2020 mendatang hanya 5% dari kaum milenial yang sanggup membeli rumah. Sedangkan 95% sisanya tak mampu membeli aset properti.

Apakah memang kebiasaan generasi milenial seburuk itu? Bagaimana dengan masa depan mereka? Adakah harapan bagi generasi milenial untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik?

Siapakah Generasi Milenial itu?

Sebelum kita membahas lebih jauh tentang generasi milenial ada baiknya mengenal terlebih dahulu siapa saja yang tergolong generasi milenial. Banyak perbedaan pandangan tentang rentang umur generasi milenial. Selama ini istilah “generasi milenial” menjadi topik populer baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Istilah ini bukan hanya digunakan di acara formal seperti seminar, workshop, ataupun talk show, tapi juga dalam percakapan sehari-hari. Meskipun sangat populer, banyak yang masih bingung siapakah sebenarnya generasi milenial itu?

Istilah “generasi milenial” pertama kali dipopulerkan oleh sosiolog Karl Mannheim pada tahun 1923. Dalam teorinya tentang generasi seperti yang dilansir dari tirto.id, Mannheim mengemukakan bahwa manusia-manusia akan saling memengaruhi dan membentuk karakter yang sama karena mengalami masa sosio-sejarah yang sama. Berdasarkan teori ini, Mannheim membagi manusia menjadi beberapa generasi yakni: Generasi Era Depresi, Generasi Perang Dunia II, Generasi Pasca-PD II, Generasi Baby Boomer I, Generasi Baby Boomer II, Generasi X, lalu Generasi Y atau Milenial. Mannheim menggolongkan manusia yang lahir dari tahun 1980-an sampai 1997 sebagai generasi milenial.

Benarkah Milenial Malas Berinvestasi?

Ada kalanya generasi milenial juga menabung, tapi hanya untuk kepentingan sesaat seperti traveling, nonton konser, atau menikmati acara-acara bergengsi. Meskipun merogoh kocek yang cukup dalam, mereka tidak peduli. Bagi generasi milenial, menikmati hidup dengan hiburan dan traveling lebih baik daripada harus berjibaku membayar cicilan rumah, mobil, atau barang-barang lainnya. Bagi generasi milenial, pengalaman lebih utama dibandingkan kepemilikan.

Namun, apakah memang generasi milenial benar-benar tidak memikirkan masa depannya? Apakah mereka hanya peduli pada kesenangan, pengalaman, dan kebahagiaan sementara? Lantas, benarkah generasi milenial malas berinvestasi?

Faktanya, generasi milenial tidak semalas itu dalam berinvestasi.  Mereka masih memikirkan masa depan dengan “menanam” uangnya pada instrumen investasi yang menurut mereka menarik. Buktinya, sebanyak hampir 70% dari pemberi pinjaman Modalku yang aktif menggunakan alternatif investasi kami berasal dari generasi milenial. Mungkin selama ini generasi milenial dianggap malas karena mereka tidak berminat dengan instrumen investasi yang konvensional. Selama ini, berinvestasi selalu didentikkan dengan membeli properti, reksadana, deposito, saham, ataupun obligasi. Nominal investasi yang cenderung besar juga membuat investasi dengan produk yang konvensional dianggap tidak menarik.

Selain itu, cara berinvestasi konvensional juga tidak praktis. Seperti mengisi berlembar-lembar dokumen untuk membeli deposito. Meskipun untuk investasi saham saat ini sudah ada yang diperjualbelikan via media digital dan aplikasi, banyak investor pemula yang masih takut karena fluktuasi yang terlalu tinggi sehingga berdampak pada besarnya risiko.

Alternatif Investasi Kekinian Ala Minenial

Tidak disiplin, suka menabrak aturan, keras kepala, hingga enggan memikirkan masa depan juga merupakan stereotip yang melekat pada generasi milenial. Bukan hanya itu, pandangan tentang kesuksesan, impian dan masa depan yang dimiliki generasi milenial juga sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Semua anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Generasi milenial juga memiliki karakteristik yang berpotensi membawa kemajuan bagi masyarakat, salah satunya adalah terbuka terhadap perubahan.

Dalam era digital seperti saat ini, perubahan pasti terjadi. Untungnya, generasi milenial sangat peka dan adaptif terhadap perubahan yang terjadi. Kenyataan ini memberikan banyak pilihan bagi mereka untuk mengembangkan karir, bakat, dan minat. Bukan hanya pada jenis pekerjaan, pola kerja mereka juga berubah seiring dengan perkembangan internet. Mereka tidak lagi bekerja terpaku pada jam kantor. Tempat kerjanya juga lebih fleksibel, tidak hanya di kantor, melainkan di kafe, coffee shop, hingga coworking space.

Keunikan lain generasi milenial adalah tidak bisa lepas dari media sosial atau medsos. Jika generasi sebelumnya hanya menggunakan medsos sebagai sarana komunikasi semata, generasi milenial menempatkan media sosial sebagai pusat informasi dan aktualisasi diri. Mereka lebih suka timeline medsos atau  memantau thread daripada menyimak berita di televisi. Medsos dipilih dengan alasan arus informasi di dalamnya bisa berjaan dua arah. Pengguna medsos bisa langsung memberi tanggapan atas informasi yang mereka terima.

Suka mencoba hal baru, juga bagian dari karakteristik generasi milenial. Mereka berani mengambil risiko lewat pengalaman dan petualangan baru. Mereka tidak suka sesuatu yang itu-itu saja dan selalu haus akan inovasi. Kehadiran teknologi mendorong mereka untuk selalu berpikir untuk menemukan cara yang lebih baik.

Kehausan generasi milenial akan inovasi terjawab dengan banyaknya alternatif investasi berbasis digital. Selain return yang menggiurkan, cara menggunakanya juga praktis, user friendly, dan digital friendly. Sangat cocok dengan kebiasaan generasi milenial yang gadget addict. Dengan media digital dan aplikasi mobile, alternatif investasi menjadi “wahana bermain” baru bagi para milenial.

From Millennial, By Millennial, For Millennial

Selain menyukai wirausaha, generasi milenial juga memprioritaskan tanggung jawab sosial. Membantu sesama yang membutuhkan dana merupakan bentuk empati paling nyata. Melalui alternatif investasi berplatform digital, keinginan tersebut dapat terpenuhi. Platform pinjam meminjam peer-to-peer (P2P) lending merupakan wadah ideal bagi mereka yang ingin membantu pengusaha UMKM yang membutuhkan modal usaha. Banyak dari pengusaha UMKM tersebut merupakan generasi milenial yang menggeluti bisnis dan industri kreatifnya.

Karyawan perusahaan startup yang menyediakan platform pinjam meminjam peer-to-peer (P2P) lending didominasi oleh anak muda milenial. Dengan semangat untuk memajukan ekonomi Indonesia, mereka bekerja keras agar dana dari pemberi pinjaman dapat tersalurkan kepada peminjam yang benar-benar membutuhkan.

Generasi milenial memiliki kecenderungan pada bidang kewirausahaan. Mereka memiliki jiwa wiraswasta yang cukup tinggi. Kalaupun milenial bekerja pada perusahaan, mereka akan memilih perusahaan yang mau memberikan mereka kepercayaan untuk mengambil keputusan penting.  Tidak mengherankan jika akhir-akhir ini banyak bermunculan pelaku bisnis kreatif yang usianya rata-rata masih 20 sampai 35 tahun.

Semua peran, mulai dari pemberi pinjaman (from millennial), karyawan startup P2P lending (by millennial), dan peminjam (for millennial) merupakan wujud nyata pentingnya sinergi dari seluruh unsur generasi milenial dalam memajukan ekonomi nasional. From millennial, by millennial, dan for millennial akan menjadi formulasi sempurna dalam menggerakkan roda perekonomian nasional.


Artikel blog ini ditulis oleh Modalku, platform peer-to-peer (P2P) lending nomor 1 di Indonesia dan Asia Tenggara. Kami menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tanah air dan membuka opsi investasi alternatif dengan pengembalian menarik bagi pemberi pinjaman. Tertarik mengenal Modalku lebih baik? Klik di sini.