Tahukah Anda bahwa menurut Kompas, jumlah UKM di Indonesia pada tahun 2016 mencapai 57 juta? Jumlah yang sangat menakjubkan. Namun, pemerintah sangat menyayangkan bahwa dari puluhan juta UKM tersebut, hanya ada 5.000 pelaku UKM yang berhasil melakukan ekspor. Pada tahun 2015, nilai ekspor pun relatif kecil, hanya US$ 23 miliar dibanding ekspor non migas yang mencapai US$ 145,5 miliar.

Padahal, UKM Indonesia memiliki potensi yang tidak main-main. Produknya begitu beragam sehingga memiliki keunikan tersendiri. Beberapa produk UKM Indonesia bahkan dicari pasar internasional dengan jumlah permintaan cukup banyak.

14 Produk UKM yang Paling Dicari di Pasar Ekspor

Pada tahun 2014, Kementerian Perdagangan (Kemendag) merilis informasi tentang produk-produk UKM Indonesia yang memiliki permintaan cukup tinggi di pasar internasional. Produk-produk tersebut adalah perhiasan dan aksesoris, obat-obatan herbal, minyak esensial atau minyak aromaterapi, teh, kado, produk kulit, bir, sayuran, produk halal, madu, produk perikanan, payung, pakaian dalam, dan sumpit.

Dari produk-produk tersebut, salah satu yang paling banyak dicari adalah produk kerajinan tangan, terutama untuk pasar Amerika dan Eropa. Saat ini, Kemendag mempunyai kantor perwakilan perdagangan di luar negeri, seperti 19 Indonesian Trade Promotion Center (ITPC), 23 Atase Perdagangan (Atdag), serta 2 Konsul Dagang di Hong Kong dan Taipei.

Pemerintah Adakan Program Buying Mission

Demi meningkatkan ekspor UKM Indonesia, pemerintah telah melaksanakan program bernama buying mission, di mana mereka mengundang calon pembeli asing ke Indonesia dengan biaya dan akomodasi yang ditanggung oleh Kemendag. Program ini sepertinya cukup berhasil karena pada periode Januari-Agustus 2015 lalu, capaian transaksinya diklaim melampaui tahun sebelumnya. Pada periode tersebut, pemerintah memfasilitasi tiga buying mission untuk tujuh pembeli yang berasal dari Jerman, Tiongkok, Singapura, dan Hungaria. Nilai kesepakatan kerja samanya mencapai Rp 870,68 miliar.

Tidak hanya program buying mission, pemerintah juga melakukan berbagai upaya lain untuk memajukan ekspor UKM Indonesia. Salah satunya adalah diversifikasi produk dan pasar tujuan ekspor melalui kegiatan misi dagang ke negara-negara prospektif, seperti Afrika Selatan, Amerika Latin, Eropa Timur, Asia Selatan, dan Timur Tengah. Pemerintah juga mengoptimalkan instrumen perdagangan internasional untuk melindungi pasar dalam negeri dan pengamanan akses pasar luar negeri.

Tapi Apakah Sukses dan Benar-benar Laku?

Jika dilihat dari nilai yang dicapai saat buying mission, tidak diragukan lagi bahwa produk UKM Indonesia memiliki kualitas yang bisa bersaing di pasar internasional. Namun, mengapa sepertinya UKM Indonesia masih susah menembus pasar ekspor?

Dilansir dari situs Detik, Stefanus T. Wijaya selaku Chairman Business Indonesia Singapore Association 2014 mengatakan bahwa kendala pertama berasal dari bahasa. Di Singapura, misalnya, mayoritas pelaku bisnis UKM hanya mengerti Bahasa Indonesia sehingga sulit berinteraksi dengan pelaku bisnis Singapura yang dominan berbahasa Inggris atau Mandarin. Selain bahasa, aspek pemasaran juga dinilai masih terbatas. Dengan modal usaha yang relatif sedikit, pelaku bisnis UKM pun jadi sulit untuk memasarkan produknya di luar negeri sehingga perkembangannya pun lambat.


Bagi yang menjalankan bisnis UKM dan ingin coba terjun ke pasar ekspor, Anda harus rajin mencari informasi terkini tentang mekanisme menembus pasa ekspor. Idealnya, beberapa kunci ekspor yang sukses adalah cek kapasitas, riset, persiapan, dan evaluasi. Semoga bisnis UKM Anda bisa segera go international!

Artikel blog ini ditulis oleh Modalku, platform peer-to-peer (P2P) lending nomor 1 di Indonesia. Kami menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) tanah air dan membuka opsi investasi alternatif dengan pengembalian menarik bagi pemberi pinjaman. Tertarik mengenal Modalku lebih baik? Klik di sini.