Hingga saat ini, sepertinya belum ada yang bisa mengalahkan kehebatan Warren Buffet dalam bidang investasi. Pria kelahiran 30 Agustus 1930 ini memiliki kekayaan yang mencapai Rp 570 triliun. Sebagian besar hasil kekayaan tersebut didapatkan Buffet berkat profesinya sebagai seorang investor. Kesuksesan tersebut tentu tidak dicapai hanya dalam satu malam. Ada perjalanan panjang dan cukup berliku yang harus dilalui Buffet sebelumnya.

Memulai Bisnis Sejak Usia Enam Tahun

Jiwa bisnis Buffet sudah terlihat sejak ia masih berusia enam tahun. Kala itu, Buffet memulai bisnis pertamanya dengan berjualan permen karet. Seiring dengan usia yang terus bertambah, ketertarikannya berubah dan ia memutuskan untuk mencari uang dengan menjadi seorang pengantar koran. Tidak lama setelah itu, bersama temannya yang bernama Stu Erickson, Buffet juga pernah menjual bola golf di lapangan Elmwood Park. Meski pernah bermasalah dengan polisi setempat, orang tua Buffet tidak mempermasalahkan hal tersebut dan justru bangga dengan ambisi anak mereka.

Bertekad untuk terus mencari uang, Buffet melanjutkan bisnisnya dengan berjualan perangko untuk para kolektor di Amerika Serikat. Ia juga pernah mengumpulkan uang dari permainan mesin pinball. Saat itu, Buffet membeli mesin pinball rusak seharga US$25. Ia membawa mesin tersebut ke salah satu temannya untuk diperbaiki. Mereka lalu mengoperasikan alat tersebut dan meminta seorang tukang cukur lokal untuk menempatkan mesin pinball di belakang tokonya. Ternyata, banyak orang yang berminat memainkan mesin pinball tersebut. Akhirnya, hanya dalam seminggu, Buffet sudah bisa membeli mesin pinball lain dengan menggunakan uang yang didapatkannya dari para pemain mesin pinball pertama. Ia pun meletakkan mesin pinball baru tersebut di tempat tukang cukur lainnya.

Sempat Mengalami Kebangkrutan

Semasa mudanya, Buffet mengidolakan tokoh bernama Benjamin Graham setelah membaca salah satu bukunya yang berjudul The Intelligent Investor. Demi menemui idolanya tersebut, Buffet memutuskan untuk kuliah di Columbia Business School, tempat Graham menjadi profesor. Setelah lulus, Buffet kembali ke Omaha dan mulai menekuni bisnis investasi surat berharga (obligasi). Hingga kini, Warren tidak pernah melupakan Graham dan menganggapnya sebagai salah satu guru terbaiknya dalam hidup.

Pada periode tahun 1951-1954, Buffet mengawali karir sebagai investor dengan menjadi salesman investasi di Omaha. Setelah mendapat gelar kehormatan The Oracle of Omaha (Orang Bijak dari Omaha) dari warga Omaha, ia memutuskan untuk pindah ke New York dan bekerja sebagai analis sekuritas di Graham Newman Corporation. Namun, setelah banyak berkonsultasi dengan orang yang dianggapnya sebagai guru pasar modal, Buffet memutuskan untuk kembali ke Omaha dan membangun perusahaan sendiri. Hanya dengan modal sebesar US$100, ia mengelola dana milik orang-orang kaya di sana. Sayangnya, perusahaan yang dibangun Buffet di Omaha tersebut mengalami kebangkrutan sehingga terpaksa dijual dan dibubarkan.

Meski begitu, Buffet menolak untuk menyerah. Pada tahun 1965, ia membeli saham Berkshire Hartaway seharga US$8 per lembar. Setelah mengelolanya selama tiga tahun, Buffet berhasil menjadi pemegang saham terbesar di perusahaan tersebut. Keuntungan yang ia dapatkan dari Berkshire Hartaway diinvestasikan dengan membeli utilitas, perusahaan permata, perusahaan asuransi, serta makanan. Buffet juga berhasil memajukan perusahaan tersebut. Selama lebih dari 34 tahun, pemegang saham lainnya berhasil memperoleh tingkat pengembalian sebesar 24,7% per tahun dari Berkshire Hartaway. Harga saham Berkshire Hartaway bahkan sudah mencapai US$150,000 per lembarnya.


Kisah Buffet membuktikan bahwa tidak ada kesuksesan yang diraih dengan cara instan. Bahkan setelah menimba ilmu dari orang-orang yang dianggapnya ahli dan berpengalaman pun Buffet masih saja mengalami kegagalan. Namun, Buffet sadar bahwa kegagalan merupakan bagian penting dari kesuksesan selama ia tidak mengulangi kesalahan yang sama. Ia kembali bangkit dan membuktikan bahwa ada banyak cara yang bisa ditempuh untuk mencapai suatu kesuksesan. Akhirnya, Buffet pun berhasil sukses.

Setelah melalui berbagai perjalanan yang naik turun, kini bisnis investasi Buffet tersebar di berbagai sektor, termasuk rel kereta, asuransi, dan energi. Pada tahun 2005 lalu, ia didapuk oleh majalah Forbes sebagai orang terkaya kedua di dunia setelah Bill Gates. Meski begitu, kesuksesan tersebut tidak membuat Buffet merasa di atas angin. Ia bahkan berencana untuk menyumbangkan 85% kekayaannya untuk yayasan amal milik Bill Gates.


Ingin mempelajari cara menjadi investor yang hebat? Mulailah dengan membaca “Kiat Menjadi Seorang Investor Handal.”

Artikel blog ini ditulis oleh Modalku, platform peer-to-peer (P2P) lending nomor 1 di Indonesia. Kami menyediakan pinjaman modal usaha bagi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) tanah air dan membuka opsi investasi alternatif dengan pengembalian menarik bagi pemberi pinjaman. Tertarik mengenal Modalku lebih baik? Klik di sini.